Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Keyakinan Shakila


__ADS_3

Radit menepikan mobilnya di parkiran flat, di mana Shakila dan mamanya tinggal setelah tadi malam dia tiba di Singapura kembali.


Pria itu pun berjalan menuju kediaman Shakila degan tangan yang menenteng kotak makanan yang aman untuk kanker. Makanan itu sengaja dimasak oleh sang mama yang mendukung penuh niat Radit untuk mendapatkan hati wanita yang dia cintai itu. Wanita paruh baya itu benar-benar tidak mempermasalahkan penyakit Shakila dan yakin kalau wanita itu suatu saat akan sembuh.


Setelah berdiri di depan pintu flat Shakila, pria itu dengan raut wajah yang berbinar menekan bel.


Tidak perlu menunggu lama, pintu pun dibuka seseorang dari dalam.


"Eh, Nak Radit? bukannya kamu kemarin sudah kembali ke Indonesia?" Maya, Mamanya Shakila mengreyitkan keningnya.


Radit menyelipkan sebuah senyuman dan menyodorkan bawaannya ke tangan Maya.


"Aku kembali lagi tadi malam, Tan. Ini sarapan buat Tante dan ini untuk Shakila. Mama tadi sengaja memasak untuknya. Shakila masih tidur,Tante?"


"Waduh, kenapa harus repot-repot masaknya? Tante jadi tidak enak. Kamu masuk dulu! Shakila sudah bangun dari tadi, aku panggilin dia dulu ya!" Maya membuka pintu dengan lebar dan memberikan jalan untuk Radit masuk.


Kemudian, Maya melangkah menuju kamar Shakila dan mengetuk pintu kamar putrinya itu.


"Iya, Ma?" tanya Shakila yang terlihat lebih segar karena habis mandi. Hanya wajah pucatnya saja yang menunjukkan kalau wanita itu tidak baik-baik saja.


"Ada Radit di depan. Dia bawa kamu sarapan, yang dimasak mamanya. Ayo temui dia!"


Shakila mengreyitkan keningnya.


"Radit? bukannya dia sudah kembali ke Indonesia, Ma?" tanyanya.


"Katanya dia sudah kembali lagi ke sini tadi malam. Kamu temuin di dulu sana!"


Shakila mengembuskan napasnya,merasa sedikit enggan untuk menemui pria itu.


"Kenapa kamu masih belum bergerak? apa kamu tidak mau menemuinya?" alis Maya bertaut tajam.


"I-iya, Ma, aku akan keluar!" nada suara Shakila terdengar terpaksa.


Ya, wanita itu memang enggan untuk keluar, menemui Radit, karena sebenarnya beberapa hari ini dia menghabiskan waktu dengan pria itu, dia sudah mulai menyadari kalau sahabat pria yang dicintainya itu, menaruh hati padanya. Ingin dia menghindar tapi di tidak punya alasan untuk itu.


Sebelum keluar dari dalam kamarnya Shakila mengembuskan napasnya dengan cukup berat, berharap hatinya lapang. Setelah dirinya merasa tenang, Shakila melangkah keluar dan menerbitkan seulas senyum manis di bibirnya begitu melihat Radit yang langsung berdiri menyambutnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu sudah di Singapura lagi, Dit?" tanya Shakila basa-basi.


"Arjuna bilang biar aku di Singapura saja mengurus perusahaan cabang di sini," sahut Radit. Sementara hati Shakila langsung bergejolak begitu mendengar nama Arjuna disebut pria di depannya itu.


"Bagaimana kabar,Juna? dia baik-baik saja kan? kenapa jadi kamu yang di Singapura? bukannya kamu bilang kalau Haris yang akan mengelola perusahaan di sini? dan siapa yang akan menjadi asisten Juna kalau kamu di sini?" Shakila bertanya beruntun, tidak memberikan kesempatan pada Radit untuk menjawab.


"Bisa tidak kamu bertanya satu-satu? aku tidak tahu mau jawab yang mana dulu? tapi dari semua pertanyaanmu, sepertinya kamu tidak suka aku yang ada di Singapura ini," ucapan Radit begitu telak, membuat Shakil terdiam.


"Bukannya tidak suka. Aku hanya tidak mau, kamu berharap lebih padaku dan aku tidak mau perasaan kamu semakin dalam untukku," ucap Shakila yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Kenapa kamu diam, Kila? apa yang aku katakan benar?" Radit kembali buka suara dengan nada lirih.


"Te-tentu saja tidak!" bantah Shakila dengan cepat. "Aku senang kok kamu di sini. Jadinya aku punya teman untuk bicara,"


Radit akhirnya mengulas senyum manis begitu mendengar ucapan Shakila. Pria itu benar-benar bahagia, merasa wanita di depannya itu membutuhkan dirinya sebagai teman.


"Untuk sekarang,kamu mungkin membutuhkanku sebagai teman, tapi aku akan berusaha membuatmu untuk membutuhkanku lebih dari teman," bisik Radit pada dirinya sendiri.


"Emm, tadi kamu belum jawab, bagaimana kabar Juna?" Shakila mengulangi pertanyaannya.


"Arjuna baik-baik saja tentunya," sahut Radit singkat.


Sementara itu, Radit tidak langsung menjawab. Pria itu tiba-tiba merasa bersalah karena sudah ingkar janji.


"Emm, seperti yang kamu inginkan, aku tidak memberitahukan tentang kamu padanya," ucap Radit akhirnya berbohong.


"Oh, Terima kasih!" ucap Shakila lirih. Berusaha untuk tersenyum, padahal hatinya kecewa. "Kenapa aku harus kecewa dia tidak memberitahukan keadaanku pada Arjuna? bukannya aku sendiri yang menginginkannya? apa aku sudah kembali berharap Arjuna kembali padaku?" batin Shakila.


"Kila, aku minta maaf karena sudah memberikan kamu harapan untuk bisa kembali bersama dengan Arjuna. Sepertinya sekarang kamu harus tetap semangat untuk sembuh, bukan karena punya harapan untuk bisa kembali pada Arjuna. Kamu semangat sembuh, setidaknya untuk mamamu, dan orang-orang yang menyayangimu," pelipis Radit terlihat mulai berpeluh, saat melafalkan kata-kata itu dalam hatinya sebelum dia menyampaikannya langsung ke wanita yang duduk di depannya itu.


"Radit, kamu pasti bisa mengatakannya! kamu harus bisa!" Radit kembali membatin, memberikan semangat pada dirinya sendiri.


"Kila, aku ...."


"Kila, kamu sarapan dulu, Nak! Kamu juga Nak Radit, kita sarapan bersama-sama!" baru saja Radit hendak memberanikan diri, tiba-tiba Maya sudah datang, menghentikan niatnya untuk bicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Nak Radit, masakan mamamu sangat enak!" puji Maya begitu wanita paruh baya itu menghabiskan makanannya.


"Terima kasih, Tante!" Radit tersenyum dengan ekor mata yang melirik ke arah Shakila.


"Oh ya,Nak Radit, Tante mau tanya, bagaimana kehidupan istrinya Juna, dengan mamanya, sebelum menikah dengan Arjuna? apa mereka dari keluarga terpandang?" tanya Maya dengan sangat hati-hati.


"Tidak sama sekali, Tan. Mereka hidup pas-pasan. Anyelir bekerja sebagai SPG di mall dengan gaji pas-pasan. Dia tidak bisa kuliah padahal dia termasuk siswi yang pintar dulu, karena keterbatasan biaya dan Tante Mirna yang mulai sakit-sakitan,"


"Papanya bagaimana? apa pekerjaan Papanya?" nada bicara Maya terdengar sangat hati-hati.


"Oh, setahuku, Anyelir sudah tidak memiliki papa mulai dia bayi. Dia dibesarkan sendiri oleh Tante Mirna."


"Ja-jadi dia tidak menikah lagi?" gumam Maya, gugup.


Radit dan Shakila sontak saling silang pandang dengan tatapan bingung.


"Tidak menikah lagi? maksudnya? apa Mama sebelumnya mengenal mamanya Anyelir?" alis Shakila bertaut curiga.


"Oh, ti-tidak sama sekali!" bantah Maya dengan cepat. "Maksud Mama, semenjak papanya Anyelir meninggal atau pergi, apa mamanya itu tidak menikah lagi? itu maksud Mama. Kalau iya, berarti dia wanita hebat," Maya berusaha mencari alibi berharap Shakila dan Radit tidak curiga.


"Setahuku, Tante Mirna tidak menikah lagi. Dia membesar Anyelir dengan jadi buruh cuci dan menjual sarapan pagi," terang Radit lagi.


"Tidak heran Anyelir mau menikah dengan Arjuna, walaupun dia tahu kalau dia hanya wanita pengganti. Dia pasti ingin merubah kehidupannya dengan mamanya, karena tergiur dengan imbalan yang akan diberikan oleh Arjuna,". Shakila buka suara. "Kalau begitu,aku harus semangat untuk sembuh. Mama boleh mencari pendonor hati untukku lagi. Aku ingin cepat sembuh agar bisa kembali pada Arjuna, sebelum wanita itu berharap akan menjadi istri sebenar Arjuna," lanjut Shakila lagi, dengan raut wajah yang penuh semangat.


"Tapi, Anyelir tidak pernah berharap harta, Kila! dia__"


"Ah,itu pasti hanya ucapannya saja, untuk membuat hati Arjuna, tergugah dan menganggap kalau dia beda dari wanita lain,". Shakira langsung memotong ucapan Radit.


"Dia sudah lama hidup dalam kemiskinan, jadi tidak mungkin dia tidak mengharapkan harta. Coba kamu pikirkan, kalau bukan karena menginginkan harta, kenapa dia mau menikah dengan Arjuna coba? apalagi dia tahu kalau dia hanya wanita pengganti? hanya wanita bodoh yang mau menikah dengan status wanita pengganti, tanpa mengharapkan sesuatu," lanjut Shakila kembali, sangat yakin dengan pemikirannya.


"Apa yang kamu pikirkan itu tidak benar sama sekali, Kila! sepertinya aku lupa mengatakan padamu, kalau Anyelir baru tahu alasan Arjuna menikahinya, setelah dia menikah, bukan sebelum menikah. Berarti tidak ada perjanjian sebelumnya yang mana Arjuna akan memberikan imbalan. Satu-satunya alasan Arjuna mengajak Anyelir menikah, dengan alasan Tante Dewi yang ingin melihat Arjuna secepatnya menikah agar Arjuna bisa cepat melupakanmu. Arjunalah yang menggunakan cara licik untuk mengajak Anyelir menikah, dengan membuat Anyelir berutang Budi. Sementara itu, setelah Anyelir tahu, alasan Arjuna yang sebenarnya, Anyelir tidak bisa mundur lagi, dan memilih untuk mengikuti rencana Arjuna,demi menjaga agar mamanya tidak jatuh sakit," terang Radit panjang lebar dan tanpa jeda.


Shakila bergeming,merasa sakit mendengar kenyataan yang mengatakan kalau Dewi mamanya Arjuna menginginkan Arjuna secepatnya melupakannya.


"Sebenarnya Arjuna juga sudah __"


"Ma, sakit!" tiba-tiba Shakila meringis kesakitan sembari memegang hatinya. Sehingga membatalkan niat Radit yang awalnya ingin jujur.

__ADS_1


Radit segera menghambur ke arah Shakila dan mengangkat tubuh wanita yang dicintainya, hendak membawa ke rumah sakit.


Tbc


__ADS_2