
"Kenapa Anyelir, kamu tidak suka makanannya?" Dewi mengrenyitkan keningnya, ketika melihat sang menantu hanya makan sedikit tidak seperti biasanya.
"Emm, suka kok, Ma. Cuma aku tidak terlalu lapar," sahut Anyelir sembari menyelipkan senyuman. Padahal sebenarnya wanita itu tadi benar-benar lapar, tapi begitu melihat makanan itu, seleranya langsung hilang seketika, padahal makanan itu biasanya adalah makanan kesukaannya.
"Kenapa kamu tidak terlalu lapar? bukannya energi kamu habis tadi subuh denganku? harusnya kan lapar," celetuk Arjuna, membuat pipi Anyelir merona dan langsung mendelik tajam ke arah Arjuna.
Sementara itu, Dewi tersenyum penuh makna, karena mengerti apa yang dimaksudkan oleh putranya itu.
"Pantas saja, kalian berdua baru turun di jam segini. Mama jadi ingat kisah mama dan almarhum papa kamu dulu. Persis seperti kalian ini," goda Dewi, membuat Anyelir semakin malu.
"Dasar Arjuna gila! masalah sensitif seperti ini, kenapa harus diomongin sih?" Anyelir menggerutu di dalam hati.
"Udah, Anyelir, tidak perlu malu! mama maklum kok," sambung Dewi, menyadari kalau sang menantu sedang malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku pergi dulu sebentar ke kantor ya! kamu tunggu aku di rumah, sembari bersiap-siap. Nanti aku akan jemput kamu!" ucap Arjuna sebelum pria itu masuk ke dalam mobil.
Anyelir tidak menjawab sama sekali. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Setelah masuk ke dalam mobil, Arjuna kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Anyelir langsung melangkah masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menuju kamar.
Anyelir mengeluarkan koper dan bersiap-siap untuk memasukkan beberapa stel pakaiannya dan Arjuna, walaupun sebenarnya suaminya itu memintanya untuk tidak perlu membawa apa-apa.
Saat wanita itu membuka laci tempat pakaian dalam, tiba-tiba matanya melihat beberapa bungkus pembalut yang masih utuh tidak terjamah.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa? sudah lebih dua bulan aku tidak menggunakannya. Apa ini berarti aku ...." Anyelir terlihat sangat kebingungan.
"Aku tidak boleh menerka-nerka. Sebaiknya aku cari tahu sendiri dulu." batin Anyelir sembari meraih tasnya dan keluar dari kamar.
"Pak, bisa antarkan ke apotek yang ada di tikungan itu?" pinta Anyelir pada supir keluarga karena kebetulan wanita itu sama sekali belum bisa menyetir mobil.
"Apa Non Anyelir sedang sakit? wajah Non pucat soalnya. Kalau Non Anyelir sakit, bukannya sebaiknya aku antar Non ke rumah sakit saja?" pria paruh baya itu berbicara dengan beruntun dengan raut wajah khawatir.
"Tidak perlu,Pak. Kita ke apotek aja sebentar. Nanti kalau emang perlu ke rumah sakit, aku akan kasih tahu ke Bapak," sahut Anyelir sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Non! kalau begitu mari masuk ke mobil!"
Anyelir masuk ke dalam mobil, demikian dengan supir itu. Kemudian, supir itu mengemudikan mobil, menuju tempat yang diinginkan Anyelir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anyelir, terlihat memejamkan matanya ketika wanita itu mengangkat benda pipih yang merupakan alat tes kehamilan, dari wadah yang berisi air seninya. Ya, tujuan Anyelir ke apotek adalah untuk membeli alat tes kehamilan, karena wanita itu merasa curiga akan dirinya yang sudah lebih dua bulan tidak mendapatkan datang bulan.
Setelah alat tes kehamilan itu sudah dia angkat Anyelir dengan perlahan membuka sebelah matanya, untuk mengintip hasilnya.
Mata wanita itu seketika membesar begitu melihat hasilnya yang ternyata sudah menunjukkan garis dua berwarna merah.
"A-aku hamil? A-aku benaran hamil?" Anyelir mengusap-usap, memejamkan lalu kembali membuka matanya, untuk memastikan penglihatannya. Namun ternyata apa yang dia lihat masih tetap sama.
"Bagaimana ini? Apa aku harus memberitahukan pada Mas Juna sekarang? atau aku tunda dulu? Kalau aku kasih tahu, nanti Mas Juna tidak akan mengizinkanku ikut ke Singapura," Anyelir benar-benar dilema.
"Ahh, sebaiknya aku rahasiakan dulu!" pungkas Anyelir akhirnya memutuskan.
Anyelir akhirnya kembali keluar dari dalam kamar setelah sebelumnya memasukkan benda pipih itu ke dalam tasnya.
"Tuh kan , Non. Apa Bapak bilang? sebaiknya kita langsung ke rumah sakit, tadi."
Anyelir tersenyum melihat sosok pria paruh baya yang mengomel tidak jelas itu. Dia merasa terharu mendapat kasih sayang dari orang-orang di rumah ini, termasuk dari supir dan asisten rumah tangga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi aku benar-benar hamil, Dok?" tanya Anyelir memastikan.
"Benar, Bu! dan ini sudah memasuki usia 9 Minggu. Selamat ya! perkembangan janin Ibu juga bagus dan sehat," tutur Dokter itu menjelaskan.
Anyelir tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita itu tidak menyangka kalau dirinya akan memiliki anak. Namun, raut wajah wanita itu tiba-tiba berubah sendu. "Kenapa di saat rumah tanggaku belum jelas, kamu sudah hadir di rahim mama, Nak? Kenapa di saat Mama sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan papamu, kamu bertumbuh di perut,Mama?" bisik Anyelir pada dirinya sendiri sembari mengusap-usap perutnya.
"Ibu, jaga kesehatan ya! nanti aku akan memberikan resep vitamin dan asam folat yang harus ibu konsumsi selama kehamilan. Ibu juga jangan melakukan aktivitas berat dulu, jangan kecapean, dan yang paling utama jangan stress!"kembali dokter buka suara, menyadarkan Anyelir kembali dari alam bawah sadarnya.
"Dok, hari ini aku ada perjalanan ke Singapura, apa kondisiku memungkinkan untuk bisa terbang? kalau tidak apa ada solusi yang bisa membuatku tetap bisa terbang?" tanya Anyelir.
__ADS_1
"Oh, kondisi Ibu dan janin baik-baik saja. Rahim Ibu termasuk kuat. Memang tidak disarankan untuk Ibu hamil muda untuk bepergian menggunakan pesawat, tapi, kalau memang urgent dan harus, aku akan memberikan obat penguat janin," dokter itu kembali menjelaskan dengan senyuman yang tidak pernah memudar dari bibirnya.
"Terima kasih, Dok!"
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Anyelir akhirnya keluar dari ruangan dokter dan menuju ruang farmasi untuk mendapatkan obat dan vitamin yang diresepkan dokter yang memeriksanya.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Anyelir mengayunkan kakinya melangkah keluar.
Di saat hendak menghampiri mobil, ponsel Anyelir tiba-tiba berdering dan itu panggilan dari Arjuna.
"Halo, Mas!"
"Kamu di mana? bukannya aku memintamu untuk menunggu di rumah? tapi kenapa kamu tidak ada?" cecar Arjuna dengan nada kesal.
"Aku keluar sebentar, Mas. Ini udah mau pulang," sahut Anyelir.
"Kamu tidak perlu pulang ke rumah lagi! kamu langsung ke bandara saja. Aku tunggu kamu di sana!"
"Tapi bagaimana dengan pakaian kita?"
"Aku yang akan membawanya sendiri,"
"Mas, kamu marah ya! ma__" Anyelir berhenti bicara, karena Arjuna sudah memutuskan panggilan begitu saja, secara sepihak.
Anyelir memejamkan matanya sekilas dan membukanya kembali, sembari mengembuskan napasnya. Wanita itu menyadari kalau Arjuna sekarang pasti sedang sangat kesal.
"Pak, kita langsung ke bandara ya!" titah Anyelir ketika wanita itu sudah berada di dalam mobil.
"Tapi, Non? Non Anyelir kan sedang sakit. Apa tidak sebaiknya Non pulang saja ke rumah. Aku yakin, Tuan Arjuna pasti mengerti,"
"Tidak perlu, Pak. Aku tidak apa-apa! Kita ke bandara saja. Nanti di sana, tolong jangan kasih tahu ke Tuan kalau aku tadi dari rumah sakit ya!"
Supir itu menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya pria paruh baya itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa dirinya tidak boleh memberitahukan pada Arjuna, tentang Nyonya mudanya yang baru saja dari rumah sakit. "Ahh,bodo amatlah! aku tidak boleh mencampuri urusan majikanku. Yang penting aku melakukan tugasku dengan baik," batin supir itu sembari melirik Anyelir dari kaca spion. Pria paruh baya itu mengembuskan napas saat melihat Anyelir memasukkan sebuah pil ke dalam mulutnya.
Tbc
__ADS_1