Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Hampir saja


__ADS_3

"Anyelir!" tawa Anyelir dan Nania seketika terhenti, ketika melihat sosok Arjuna yang sudah berdiri di depan mereka.


"M-Mas Arjuna?" gumam Anyelir langsung berdiri seketika.


Sementara itu, Ekspresi Nania tidak jauh berbeda dengan Anyelir. Yang membedakan, sekarang kalau Nania begitu takut , mengingat apa yang sudah dia lakukan dulu.


"Kenapa kamu bisa berada di tempat ini? dan kenapa kamu bersama dengan wanita ular ini?" nada bicara Arjuna terdengar sangat dingin, dan sorot matanya menatap, dengan tatapan penuh tuntutan.


"Emm, Tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya, Mas. Lagian kenapa kamu bisa ada di tempat ini? dan bagaimana kamu tahu aku di sini?" Anyelir balik bertanya dengan mata yang memicing.


Arjuna tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru semakin menatap Anyelir dengan tatapan yang sangat dingin, karena tidak suka melihat istrinya itu duduk bersama bahkan sampai tertawa bersama dengan wanita yang dulu hampir menjebaknya.


Karena tidak mendapat jawaban dari Arjuna, Anyelir mengalihkan tatapannya pada Shakila.


"Kamu ya, yang memberitahukan kalau kita ada di sini?" tukas Anyelir dengan tatap curiga.


Shakila, cengengesan dan menganggukkan kepalanya.


"Maaf! aku tadi hanya khawatir kalau -kalau dia berbuat jahat lagi padamu, sementara kondisiku belum kuat benar untuk menolong," sahut Shakila.


Anyelir mendegus dan kembali menatap Arjuna yang tatapannya tetap tidak berubah. Namun bukan Anyelir namanya kalau takut.


"Mas, jangan lihat aku seperti itu! kamu seperti melihat kalau aku ini seorang pelaku kriminal," protes Anyelir, menatap sengit suaminya.


Arjuna mengembuskan napasnya, berharap kekesalannya ikut terbuang.


"Kamu ya ... apa kamu tidak menyadari kalau aku sedang marah?"


"Marah kenapa, marah karena aku makan di warteg?" Anyelir mengerucutkan bibirnya.


"Apa? jadi, kesalahanmu bukan hanya kamu bertemu dengan wanita ular ini? kamu juga makan di warteg? Anyelir kamu ya ...." Arjuna menggantung ucapannya dan menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.


"Anyelir, kenapa kamu tidak patuh?" Arjuna kini berucap dengan lembut , berusaha meredam amarahnya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin makan makanan itu. Lagian tidak ada yang salah sama sekali dengan makanan itu. Kamu saja yang berlebihan. Aku yakin, kalau sekali saja kamu mau mencobanya, kamu pasti akan ketagihan. Dan masalah aku bersama dengan Nania, emangnya ada yang salah? kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia pernah berbuat seperti itu. Itu karena dia terlalu banyak mendapat tekanan,Mas," tutur Anyelir panjang lebar tanpa jeda.


"Tapi, tetap saja dia pernah hampir membuat aku terjebak, Sayang,"


"Dan jangan lupa juga m, karena jebakan dia juga kit bisa bersama sampai sekarang dan ada anak ini," Anyelir menunjuk ke arah perutnya.


"Itu karena aku yang bisa tetap bertahan. Coba kalau saat itu aku tidak kuat dan melakukan dengannya, pasti anak itu sekarang tidak ada di rahimmu, tapi di rahimnya," Arjuna tidak mau kalah, membuat Anyelir terdiam dan seketika bergidik membayangkan kalau hal itu benar-benar terjadi.


"Iya, ya?" gumam Anyelir, lirih.


"Maaf Tuan Arjuna atas perbuatanku dulu. Aku tahu kalau apa yang aku lakukan dulu itu, benar-benar kelewatan,dan aku benar-benar malu padamu. Sekarang aku sudah menerima karmaku, Tuan. Aku sudah diceraikan suamiku dan bahkan dibuang keluargaku sendiri. Sekarang Tuan jangan khawatir, aku benar-benar sudah menyesal dan tidak ada niat untuk mencelakai Anyelir," Nania yang dari tadi diam saja akhirnya memberanikan diri untuk buka suara.


Arjuna tidak menjawab sama sekali. Mata pria itu justru masih menatap Nania dengan tatapan curiga, tidak percaya.


"Tidak semudah itu percaya padamu. Karena aku tahu, wanita licik sepertimu sangat mudah memanipulasi keadaan. Mungkin Anyelir bisa kamu bohongi dengan wajah memelasmu itu,tapi tidak denganku," ucap Arjuna dengan tatapan sinis ke arah Nania yang wajahnya terlihat sendu.


"Ayo kita pulang!" Arjuna meraih tangan Anyelir dan mengajak istrinya itu untuk berlalu dai tempat itu.


"Mas, tunggu dulu! jangan main tarik-tarikan ah!" protes Anyelir berusaha melepaskan cengkraman tangan Arjuna.


"Ayo buruan!" Arjuna kembali menarik tangan Arjuna, tidak memberikan kesempatan Nania untuk menjawab Anyelir.


Sementara itu Radit juga meraih tangan Shakila, dan mengajak wanita itu untuk berlalu dari tempat itu.


"Kamu tadi ikut makan dengan Anyelir?" tanya Radit sembari berjalan menuju mobil Shakila.


"Tidak kok. Karena aku masih takut," sahut Shakila sembari menyelipkan senyuman di bibirnya. Radit membalas senyum Shakila dan mengelus lembut rambut wanita yang dicintainya itu.


Masih dari tempat dia berdiri, Nania menatap sendu ke arah Anyelir dan Arjuna yang berjalan menuju mobil Arjuna. Wanita itu mengembuskan napasnya dengan berat. Dia sama sekali tidak sakit hati dengan sikap sinis Arjuna, karena memang dia pantas untuk mendapatkannya.


Nania baru saja berbalik hendak pergi juga dari tempat itu. Namun baru saja dia hendak melangkah, tanpa sadar matanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Wanita itu melihat seseorang yang duduk di atas motor dan pandangan pengemudi itu, fokus ke arah Anyelir dan Arjuna.


"Orang itu sepertinya mencurigakan. Apa yang akan dia lakukan?" Nania berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Nania melihat pengemudi yang merupakan sosok pria itu menyalakan mesin motornya.


Menyadari hal itu, Nania segera berbalik dan berlari ke arah Arjuna dan Anyelir yang masih belum masuk ke dalam mobil.


"Anyelir awas!" Nania mendorong tubuh Anyelir dan beruntungnya, Arjuna langsung menangkap tubuh istrinya itu.


Sebagai gantinya, tubuh Nania terpental cukup jauh.


"Nania!" pekik Anyelir sembari memegang perutnya yang tiba-tiba sakit.


"Sa-sakit!" ringis Anyelir.


"Radit, kejar dia!" titah Arjuna, berteriak.


Arjuna terlihat kebingungan untuk menyelamatkan siapa. Anyelir yang kesakitan atau Nania yang terlihat masih bergerak, tapi dengan napas yang sudah tersendat-sendat.


Sementara itu Shakila dengan sigap berinisiatif meminta tolong pada orang-orang yang mulai berdatangan dan meminta orang itu untuk mengangkat tubuh Nania masuk ke dalam mobil Arjuna.


"Arjuna, bawa Anyelir ke dalam mobil, aku yang akan menjaga mereka di belakang. Kamu fokus mengemudi saja!" pekik Shakila.


Arjuna segera melakukan hal yang diminta eh Shakila ,dan dengan kecepatan tinggi langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sementara itu, Radit yang mengejar pengemudi motor itu, terus saja mengejar walaupun sedikit kesulitan dikarenakan motor itu bisa menyelip di antara mobil-mobil lainnya.


Namun, ternyata nasib baik tidak berpihak pada pengemudi motor itu. Tiba-tiba roda motornya, mengenai paku, hingga membuat roda itu otomatis kempes.Karena kesialan itu, motor itu Langi oleng dan membuat pria pengemudi itu terjatuh.


Radit keluar dari dalam mobil dan langsung menarik tubuh si pengemudi itu.


"Brengsek kamu!" umpat Radit dan dengan sekali hentakan, Radit membuka helm penutup kepala pria itu.


"Kamu?" mata Radit memicing melihat pelaku yang kini menyeringai sinis padanya. Dia berusaha mengingat siapa sosok pria itu. Tiba-tiba matanya membesar begitu mengingat wajah pria di depannya, sama persis dengan wajah pria di photo yang pernah ditunjukkan oleh Arjuna.


"Aku ingat! kamu itu Satria. Dasar bajingan! kamu benar-benar cari mati!" umpat Radit sembari memberikan pukulan keras ke wajah pria yang ternyata adalah Satria.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2