Happily Ever After

Happily Ever After
Menyesal.


__ADS_3

"Ini semua salah bunda! hiks..hiks.."Aisyah terus berteriak di depan ruang operasi .


"Bun,udah! ini musibah, bukan salah siapa-siapa!"Hardian berudsaha menenang kan istrinya yang kini terlihat sangat terpukul atas kejadian yang menimpa putra bungsu nya.


Sama hal nya dengan Aisyah,Ataya pun begitu terpukul,wanita ibu dua anak itu terus menangis sendu dalam dekapan sang suami.


"Sayang tenang! kita do'a kan saja yang terbaik untuk semua nya."Ibra terus mengusap punggung istrinya perlahan,mencoba memberi kan ketenangan pada kekasih hati nya.


"Tulang kaki Zaydan patah bang! Zaydan gimana di dalam? apa operasi nya berjalan lancar?! kenapa semua nya bisa berdampak seperti ini!"Ataya terus merancau dalam tangisan nya.


"Shuttt! sudah,tenang sayang! supaya bunda juga ikut tenang."Ujar Ibra yang terus berusaha menenang kan Ataya.


Sekian lama ke empat keluarga dari Zaydan itu menunggu,akhirnya lampu yang terdapat di atas pintu ruang operasi pun mati.


Hardian mendongkak,mata nya terpejam sambil menghembus kan nafas perlahan,hati nya sedikit lega ketika operasi tulang kaki Zaydan sudah selesai,ia tinggal menunggu petugas memanggil nya dari ruang ICU.


"Keluarga Zaydan Putra Adnan!"Panggil seorang perempuan lewat pengeras suara.


Semua yang sedang menunggu pun sontak berdiri dan berlari ke arah pintu sebelah ruang operasi.


"Maaf ibu/bapak! yang boleh masuk hanya satu orang saja,sisa nya nanti boleh melihat ketika sudah di ruang perawatan yah!"Jelas nya tamah kepada Aisyah,Ataya,Hardian dan Ibra.


"Ayah aja yang masuk! kita tunggu disini yah!"Cicit Ibra yang lansung di angguki kedua wanita di sebelah nya.


Dengan cepat Hardian berjalan mengikuti petugas medis yang berjalan terlebih dulu.


Hati nya terenyuh ketika mendapat kan Zaydan terbaring lemas dan tidak berdaya.


Tatapan mata nya pun terlihat sendu dengan langkah kaki yang terus berjalan perlahan ke arah Zaydan.


Banyak sekali alat yang menempel di tubuh Zaydan,kedua tangan nya terpasang jarum infus dan masih ada beberapa alat yang menempel di pergelangan kaki dan ujung jari telunjuk nya.


Tut...Tut...Tut...Tut.


Hanya suara itu yang terdengan di dalam ruangan ICU.


Anak bungsu nya yang selalu terlihat liat ceria kini hanya terus terdiam dengan pakaian serba hijau.


"Zaydan!"Panggil Hardian pelan,berusaha agar Zaydan cepat memasuki alam sadar nya.


Pandangan Hardian pun terus melihat wajah putra nya, hingga tidak terasa air mata nya jatuh begitu saja .

__ADS_1


"Sus! anak saya kenapa belum siuman?!"Tanya Hardian.


"Belum pak, efek bius nya masih ada dan belum hilang total."Jelas Suster yang sedang berjaga.


......................


Setelah beberapa jam menunggu,akhir nya Zaydan sudah berada di ruangan rawat inap.


Aisyah terus menangis di samping Zaydan yang sama sekali belum sadarkan diri.


"De,maafin bunda!"Gumam Aisyah.


"Sudah bun! Zaydan sudah menjalani operasi nya dengan lancar,kita hanya tinggal menunggu Zaydan siuman dan membuka mata nya."Jelas Ataya,kaka prempuan dari pria yang sedang terbaring tidak berdaya itu kini terlihat lebih tegar ketika sudah mendapat Zaydan melewati masa kritis nya.


Perlahan setiap jari tangan Zaydan pun bergerak,bersamaan dengan mata nya yang mulai terbuka.


"Zaydan!"Panggil Hardian yang lansung menyadari pergerakan dari putra nya.


"Yah!"Pangil Zaydan kembali dengan suara lemas dan hampir tidak bisa di dengar.


Tangisan Aisyah pun terhenti ketika mendengar Suara Zaydan yang merespon panggilan dari ayah nya walau terdengar sangat pelan dan lirih.


"Zaydan ini bunda nak!"Tutur Aisyah, Zaydan lansung menoleh ke arah Aisyah lalu tersenyum seolah mengatakan dia susah baik-baik saja .


Perlahan Ataya dan Ibra pun mendekat, tidak ada tangisan lagi dari Ataya, hati nya cukup lega melihat Zaydan sudah bisa merespon panggilan dari setiap orang yang berada di sana.


Ibra tersenyum ke arah adik ipar nya, begitu pun dengan Zaydan yang terus tersenyum di balik rasa sakit yang mulai di rasakan nya.


"Teteh kenapa?"Ucap nya lirih, bibir nya tidak henti tersenyum ketika melihat wajah sembab dan hidung yang memerah kaka prempuan nya.


"Kenapa bisa begini si De?"Tanya Ataya dengan suara bergetar agar tangisan nya tidak pecah kembali.


Adik nya itu tidak menjawab, entah lupa setiap potongan kejadian atau memang tidak ingin membahas nya kembali.


"Bunda sama ayah pulang aja dulu, biar Zaydan abang sama teteh yang jagain dulu!"Titah Ibra kepada ayah dan ibu mertua nya.


"Bunda mau di sini aja, jagain Zaydan sampai pulih."Ujar Aisyah.


"Bener kata abang bun, bunda sama ayah harus istirahat! nanti malem bakal kalian yang jaga soal nya, teteh nggak mungkin Zio sama Luna mana mungkin bisa tidur kalo nggak sama mama,papa nya."Jelas Ataya.


"Iya kita pulang dulu yah?"Ajak Hardian kepada istrinya.

__ADS_1


Akhirnya Aisyah pun mengangguk, lalu mencium pipi Zaydan terlebih dulu sebelum beranjak pulang.


"Bunda pulang dulu yah?!"Kata Aisyah kepada Zaydan .


Putra bungsu nya itu hanya mengangguk tampa banyak bicara.


"Ini kunci mobil nya yah! Abang biar naik taxi aja nanti."Cicit Ibra sambil memberikan kunci mobil milik nya.


"Tidak usah, ayah sama bunda naik taxi aja."Jelas Hardian.


"Ayah yakin nggak mau bawa mobil abang?!"Ataya bertanya.


"Iya.Kalau begitu ayah sama bunda pamit pulang dulu yah!"Ucap nya lalu beranjak pergi ke arah luar meninggal kan Ibra,Ataya bersama Zaydan.


Ibra dan Ataya kembali duduk di sofa ruangan yang tersedia.


Zaydan pun kembali memejam kan mata nya ketika efek dari obat bius nya belum benar-benar hilang.


"Apa Rani sudah tahu?"Tanya Ibra kepada istrinya.


"Belum ada yang ngasih tahu kaya nya!"Sahut Ataya.


"Apa kita harus bawa Irma kesini? mumpung bunda udah pulang!"Ujar Ataya penuh semangat kepada suaminya.


Ibra diam, lalu terlihat berfikir atas ucapan Ataya tersebut.


"Kamu mau jemput Irma?"Tanya Ibra meyakinkan.


"He'em, soal nya tadi kan Zaydan pergi abis nyari Irma sebelum berantem sama bunda! kita bawa aja yah, aku yang cari ke toko kue nya."Jelas Ataya.


Ibra mengangguk, lalu memberikan kunci mobil milik nya.


"Bawa mobil nya hati-hati!"Tegas Ibra.


"Iya pah, emang kapan gitu aku nggak hati-hati?!"Cicit Ataya.


"Bukan begitu, jangan nambah-nambah beban pikiran aja!"Kata Ibra kembali.


"Iya sayang! aku berangkat dulu kalau gitu."Ataya pun mencium punggung tangan Ibra,lalu di balas ciuman di kening nya.


"Dah sayang!"Ataya melambaikan tangan,lalu berbalik arah dan mulai memegang handle pintu lalu menghilang di balik nya ketika pintu ruangan tertutup kembali.

__ADS_1


Bersambung...


JANGAN LUPA FOLLOW, LIKE,VITE DAN KOMEN NYA GUYS.


__ADS_2