
đź’®
đź’®
[Bu! di ruko ada yang nangis-nangis minta ketemu sama ibu.]
Dahi Irma menjengit.
–Siapa? kenapa nangis!
[Kami tanya nggak bisa, dia tetep minta ketemu ibu sama bapak.]
Irma terdiam, kemudia menoleh ke arah Zaydan yang duduk si samping nya.
–Kita kesana sekarang.
[Iya bu.]
Setelah panggilan dari Rizal terputus Irma kembali meletakan ponsel nya di atas meja.
"Kenapa?"Tanya Zaydan yang baru saja menyesap segelas kopi hitam nya yang masih panas.
"Kita harus ke Ruko Za!"Sergah nya dengan raut wajah yang terlihat sedikit panik.
Kening Zaydan menjengit, menatapa ke arah istrinya penuh tanya.
"Aku ganti baju dulu yah."Dengan cepat Irma bangkit, kemudian masuk ke dalam untuk mengganti kaos dan celana pendeka nya dengan baju yang lebih pantas tentu nya.
Zaydan hanya terdiam dengan sorot mata yang terus menatap punggung Irma, sebelum ia memutus kan untuk ikut menyusul nya.
Ketika Zaydan sampai di ambang pintu, pandangan pertama yang di lihat nya adalah wanita yang hanya mengenakan pakaian d^lam dengan perut yang sudah membulat lebih besar lagi.
Zaydan berjalan mendekat, kemudian memeluk tubuh Irma dari pelakang dan mengusap perut besar istrinya.
"Kamu semakin terlihat seksi sayang!"Ucap nya pelan sambil mengusap-usap perut Irma.
"Kamu ini lagi ngelantur atau apa?"Irma menepuk lengan Zaydan cukup kencang.
"Aw!"Cicit nya.
"Nggak ganti baju?"Tanya Irma.
Kepala Zaydan menggeleng.
"Udah gini aja, kaos sama celana pendek kan,.. yang peting rapih."Sergah Zaydan.
Pelukan Zaidan terlepas ketika Irma akan memakai abaya hitam nya.
Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil mengenakan leging hitam panjang, Irma terlihat sedikit kesusahan dengan perut nya , sampai Zaydan mendekat dan membatu menarik celana leging nya sampai atas menutupi perut Irma.
–Cup..
Zaydan mencium perut Irm.
"Baba belum siapin nama kamu loh nak!"Zayfan berujar.
__ADS_1
"Awas dulu ba, bubu mau pake kerudung."Pinta Irma yang langsung beranjak ke arah meja rias dan duduk di hadapan cermin besar yang memantulakan bayangan nya.
Beberapa menit Irma habiskan untuk memakai kerudung pasmina hitam dan mengoleskan sedikit liptint di bibir nya.
Wanita itu bangkit dan segera berjalan ke arah luar kamar sambil menenteng tas kuning ke sayangan nya.
"Selesai?"Tanya Zaydan yang langsung di angguki istrinya.
Zaydan berdiri sambil mematikan televisi nya yang menyala dan berjalan ke arah Irma dengan kunci mobil di tangan nya.
–Klek..
Zaydan menutup pintu apartemen nya, kemudian meraih tangan Irma untuk di genggam nya seperti biasa.
🌸
🌸
Satu jam Zaydan mengemudikan Fortuner nya di jalanan Ibu Kota Jakarta, akhir nya mereka sampai di Ruko bakmie nya dengan ke adaan hujan yang terlihat sedikit deras.
"Aku nggak ada payung lagi lupa!"Gumam Zaydan yang langsung melakukan panggilan kepada salah satu karyawan nya.
–Luthfi tolong ambilkan payung ke parkiran!
[Iya pak.]
Zaydan kembali menyimpan ponsel nya kedalam saku celana, lalu terlihatlah seorang pria yang datang memakai dua payung ke arah mobil nya.
TOK..TOK..
"Hati-hati sayang licin!"Ucap nya dengan satu tangan memegangi Irma.
Wanita hamil besar itu turun perlahan, berpegangan pada lengan suaminya lalu membanting pintu mobil nya cukup keras.
–Brugh..
"Fi,.. ada apa sih?"Teriak Zaydan.
"Tau tuh,... dari tadi nangis minta ketemu ibu, di tanya dari mana nggak jawab, untung dateng nya habis makan siang, jadi Ruko rada sepi."Jelas karyawan kepercayaan Zaydan.
Ketiga nya terus berjalan perang beriringan, sampai ketika Irma masuk ke dalam sana, seorang wanita paruh baya langsung duduk di lantai dan memeluk kaki Irma.
"Maaf kan anak saya neng,...maaf kan anak saya!"Wanita itu menagis meraung-raung.
Irma yang melihat wanita itu duduk sambil memeluk kaki nya terdiam sesaat, kemudian berusaha meraih tangan nya untuk membuat nya berdiri.
"Berdiri bu,...jangan seperti ini!"Irma meranik lengan nya, lalu menyuruh wanita tersebut duduk di kursi yang berada di samping nya.
"Jangan masukan Tania kedalam penjara, dia satu-satu nya harapan kami, dia tulang punggung keluarga dan sedang membiayai sekolah adik nya."Wanita itu terus menagis.
Irma diam, kemudian menoleh ke arah di mana suaminya berdiri.
"Sayang?"Irma menatap penuh tanya.
"Tolong jangan penjara Tania neng, di masih biayain adik nya yang sekolah, saya mohon."Ucap nya kembali sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Nggak bisa bu, dia fitnah saya,.. dia bilang ke istri saya bahwa dia punya hubungan terlarang dengan saya!"Zaydan sedikit menggebu-gebu, bahkan pandangan mata nya terlihat sangat marah.
"Maaf,..mungkin saya kurang mendidik nya sampai dia seperti itu!"Wanita itu terus memohon.
"Sudah bu, jangan menagis terus!"Irma mengusap lengan nya.
"Saya tidak akan mencabut laporan saya, saya tidak peduli lagi dengan dia, Tania sampai ingin membuat hancur rumah tangga saya yang baru berjalan sepuluh bulan."Zaydan hampir berteriak.
Namun dengan cepat Irma berdiri dan memeluk suaminya agar amarah nya reda.
"Za, jangan seperti itu,..yang salah Tania, bukan ibu nya! dan ingat dia lebih tua oke."Irma mengusap punggung Zaydan.
"Hhh,..!"Zaydan mengusap wajah nya pelan.
Irma mendongkak, menatap wajah suaminya yang mulai terlihat bingung.
Irma mengerti ini sulit, bagai mana pun perbuatan Tania sangat keterlaluan, hingga mampu membuat Irma lepas kendali dan ingin menggugai cerai Zaydan ke pengadilan agama.
"Aku nggak apa-apa, kamu jangan khawatir yah!"Irma mengusap pipi Zaydan sambil tersenyum.
"Maaf bu tapi kita nggak bisa cabut laporan nya."Jelas Zaydan.
Wanita itu bangkit, kemudian kembali berlutut di hadapan Irma dan memeluk kaki nya dengan erat.
"Neng tolong saya!"
Irma cukup terganggu, lagi-lagi wanita itu menyasar nya untuk memohon, apa di sedang berbohong pikir nya.
"Jangan seperti ini, sebaiknya ibu pulang dan kami tidak akan mencabut laporan apapun."Zaydan berusaha menjauhkan Irma dari wanita paruh baya itu.
"Maaf kan saya, saya yang salah karena membuat Tania terus mendekati anda, saya yang membuat pikiran nya tidak baik, sampai Tania menghalal kan segala cara untuk membuat hidup kita membaik dari segi ekonomi."Cicit nya.
Deg..
Ibu nya sudah tahu, dan masih tetap mendukung agar rumah tangga ku bersama Zaydan hancur, kemudian Tania masuk dan hidup senang.
Irma menggeleng kan kepala, ia tidak menyangka sedikit pun bahwa ada orang seperti itu demi kepentingan sendiri.
"Bu kami bukan jahat, tapi apa yang Tania terima itu setimpal dengan perbuatan nya!"Sergah Zaydan.
"Pulanglah, hujan sudah reda."Ucap Irma.
"Tapi neng..
"Saya tidak akan membujuk suami saya bu,..tidak ada alasan apapun!"Tegas Irma.
"Rizal!"Irma berjalan ke arah belakang.
"Iya bu?"
"Panggil security!"Titah nya tegas.
...TBC🌻🌻🌻...
...Jangan lupa! like, vote, komen nya juga.....
__ADS_1