
Suasana tempat kejadian terlihat sangat ramai, hampir saja Rani menjadi sasaran amukan masa yang merasa kesal karena keteledoran nya dalam berkendara.
Untung saja polisi cepat datang, dan bisa melerai dan terlebih dulu mengaman kan Rani satu-satu nya tersangka atas kejadian nahas yang menimpa ibu dan anak yang sedang melintas di Zebracros saat itu.
Banyak sekali orang yang menyesali atas kejadia tersebut, bagai mana tidak! atas ke lalaian nya dua nyawa bisa hilang begitu saja.
"Ada saksi mata tadi?"Tanya polisi.
"Banyak pak, ada beberapa orang yang lihat lansung ke jadian!"Tutur nya."Mobil merah yang di kemudi kan gadis tadi ugalan-ugalan pak, melaju dengan kecepatan tinggi, hingga korba dan anak nya yang memakai seragam sekolah tidak bisa menghindari mobil tersebut, hingga ke dua korban terlempar beberapa meter setelah mobil menghantam tubuh kedua nya sangat keras."Jelas nya kembali.
Polisi pun mengangguk.
"Anda bisa ikut saya ke kantor untuk memberi ke terangan lebih lanjut?!"Ucap pak polisi.
Dengan cepat pria tersebut mengangguk, dan segera mengikuti mobil polisi dengan Rani yang sudah berada di dalam nya.
Sesampai nya di kantor polisi, Rani hanya terdiam dengan pandangan kosong.
Beberapa kali polisi meminta keterangan, namun gadis itu hanya terdiam seribu bahasa tampa reaksi sedikit pun.
^
^
TOK..TOK..TOK..
"Permisi!!"
KLEK..
Seorang asisten rumah tangga membuka pintu.
Raut wajah nya sangat terkejut ketika mendapat dua orang pria berseragam sedang berdiri di hadapan nya.
"Maaf pak, cari siapa?!"Tanya nya.
"Apa betul ini alamat rumah Rania Ghifani?"Tutur Polisi.
"Iya benar pak, ada perlu apa kalau boleh saya tahu!"Pekerja rumah itu terus bertanya tampan mempersilahkan petugas kepolisian itu masuk.
"Bisa bicara dengan orang tua nya?"
"Iya, sebentar pak! saya panggil kan dulu."Jelas nya lalu bergegas pergi meninggal kan polisi yang tengah berdiri di ambang pintu.
Asisten rumah tangga di rumah Rani itu terlihat sedikit panik dan berlari ke arah kamar yang di tempati nyonya besar nya itu.
TOK..TOK..
"Bu!!"Panggil nya.
TOK..TOK...TOK..
"Bu!!"Setelah beberapa kali menegtuk dan memanggil akhir nya pintu terbuka.
–Ceklek..
"Kenapa bi?!"Tanya nya kepada prempuan yang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah gusar.
__ADS_1
"Ada polisi di depan bu!"Cicit nya
Ibu dari Rani itu terlihat sangat terkejut, lalu berjalan mendahului ke arah pintu utama.
"Ada apa pak?"Tanya nya sudah panik terlebih dulu.
"Bisa ikut kami ke kantor polisi?"
–Deg..
"Kenapa saya harus ke kantor polisi pak?"Wanita itu syok.
"Putri anda Rania Ghifani, melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi sampai menabrak ibu dan anak sampai meninggal dunia."Jelas nya.
Dunia nya seakan runtuh ketika mendengar perjelasan dari polisi tersebut.
"Bu?"Panggil polisi ketika melihat wanita di hadapan nya hanya terdiam.
"Ayo pak kita ke kantor polisi sekarang!"Ucap nya.
"Esih! ambilkan tas saya dan segera kabari bapak!"Titah nya penuh kepnikan.
......................
Di ruang UGD Rumah Sakit Irma masih terbaring di atas berangkar, rasa pegal dan nyeri di leher nya semakin terasa.
"Sri lama banget lagi!"Gumam nya pelan.
"Irma!"Panggil seorang pria yang duduk di kursi roda datang menghampiri nya.
Pandangan Zaydan lansung tertuju pada leher yang memiliki bekas biru ke unguan itu.
Mata Zaydan menatap Irma sayu, bisa di katakan kejadian ini karena ulah nya,hingga membuat Rani murka dan berdampak ke pada Irma.
"Apa leher mu bisa bergerak?"Tanya nya lirih.
"Sedikit, rasa nya pegal dan sedikit perih."Sahut Irma.
Raut wajah penuh penyesalan pun terlihat pada Zaydan, Zaydan menyesal dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ketika Irma sedang di tikam Rani habis-habisan.
Tapi pria itu tetap terus mengucap kan syukur, sang maha pelindung mendatang kan Ataya dan Ibra untuk menjadi penolong Irma yang hampir tewas di tangan Rani.
"Ini tas milik mu, tadi aku menggunakan ponsel milik mu untuk menghubungi Fina."Ucap Zaydan.
Irma tersenyum.
"Terimakasih sudah mengantar nya, padahal tadi aku akan menyuruh Sri datang setelah selesai membawa obat dari Dokter."Ujar Irma.
Zaydan tersenyum sambil terus menatap wajah cantik yang sedang berbaring lemas dengan selang okseigen yang membantu nya untuk bernafas.
Ataya yang mengantar adik nya untuk bertemu Irma berdiri cukup jauh, memberi waktu untuk kedua nya bercengkrama.
"Bu kenapa berdiri di sini?"Tanya Sri yang baru saja selesai dengan antrian obat.
"Tunggu disini, biarin mereka berdua dulu."Kata Ataya sambil menahan bahu Sri.
Sri mengangguk, lalu berdiri bersama Ataya cukup jauh dari Irma dan Zaydan.
__ADS_1
"Jangan tatap aku kaya gitu!"Cicit Irma yang sudah merasa malu dan pipi yang memerah.
"Maaf!"Kata Zaydan.
"Tidak, ini salah Rani kenapa kamu yang minta maaf!"Tutur Irma.
"Aku nggak bisa jagain kamu tadi."Ucap Zayfan penuh penyesalan.
Tangan Irma pelahan bergerak lalu meraih tangan Zaydan.
"Jagain aku kalo kamu udah sembuh nanti!"Bisik Irma.
"Itu pasti sayang!"Sahut Zaydan lalu tersenyum.
"Jangan panggil seperti itu, rasa nya aneh."Gumam Irma.
"Sayang!"Panggil Zaydan kembali lalu tertawa.
"Zaydan stop aku geli denger nya!"Rengek Irma.
"Mau jijik sama aku pun, aku nggak peduli! poko nya kamu sayang nya aku sekarang."Jawab Zaydan.
Setelah cukup lama mengobrol, Zaydan menoleh ke belakang lalu melihat ke arah Ataya dan Sri.
Kedua wanita itu lansung berjalan menghampiri kedua nya.
"Sri kita pulang!"Ajak Irma lalu di angguki gadis yang sudah berdiri di samping nya.
Perlahan gadis itu membantu Irma untuk bangun, mematikan oksigen lalu melepas kan nya dari wajah Irma dengan hati-hati.
"Hati-hati!"Kata Zaydan kepada Irma.
"Aku pulang dulu ya Za, bu Ataya!"Pamit Irma.
"Kamu masih bisa nyetir kan?!"Tanya Ataya kepada Irma.
"Bisa bu! yang sakit leher saya bukan kaki!"Sahut nya.
Ataya tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya.
"Kamu tuh dasar! masih bisa bercanda ke adaan lagi genting juga."Ataya berujar.
"Biar nggak tegang buk! kami pulang kalau begitu."Pamit Irma sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati dan jaga diri baik-baik."Pinta Zaydan yang juga membalas lambaian tangan Irma.
"Kamu juga cepet sembuh, maaf kalo aku nggak bisa bawain bubur lagi besok! laher aku nya masih sakit."Jelas Irma yang terus berjalan menjauh dari kedua nya.
Zaydan hanya tersenyum sambil terus menatap punggul kecil yang mulai menjauh dan menghilang di baling pintu kaca bertuliskan UGD.
"Kita kembali ke kamar rawat ya de! repot juga bawa pasien kaya gini, harus pelan mana infusan nya kanan kiri lagi!"Cicit Ataya sambil mendorong Zaydan yang berada di atas kursi roda.
...Bersambung......
...FOLLOW, LIKE, KOME, DAN VOTE NYA YAH!...
...INGET! TINGGALIN JEJAL KALO UDAH PADA BACA.🥰...
__ADS_1