
💐
💐
Setelah Irma menerima sesuatu dari Ataya, istri dan Zaydan itu langsung memasuki kamar mandi yang berada di kamar kaka ipar nya itu.
"Yang lagi test Irma, kenapa yang deg-degan aku!"Gumam nya sambil terus mengusap dada nya yang sudah mulai terasa sesak karena jantung nya terus berpacu lebih cepat.
Sekitar beberapa menit Ataya menunggu, akhirnya handle pintu mulai terlihat bergerak.
—Ceklek..
Ataya langsung berdiri ketika pintu tembuka perlahan, lalu muncul Irma sambil membawa test kehamilan di tangan nya.
"Gimana?"Ataya tersenyum antusias.
Irma tidak bergeming, wanita itu hanya terus berjalan mendekat ke arah Ataya.
"Positif atau negatif?"Tanya Ataya kembali, raut wajah nya terus berbinar."Aduh jangan bikin teteh dudug ser dong!"Cicit Ataya.
Irma tersenyum, lalu memberikan dua hasil test nya kepada Ataya.
Lama Ataya diam sambil menatap kedua benda tersebut, namun perlahan senyum nya merekah.
"Alhamdulillah,... akhirnya! Zaydan mau punya duplikat"Cicit Ataya, lalu memeluk tubuh prempuan yang berdiri di hadapan nya.
"Aku bingung! ini teteh kan kasih dua.Di coba nya barengan ko, tapi kenapa satu positif, satu nya negatif."Sergah Irma dengan nafas yang memburu.
Ataya tergelak.
"Kamu habis lari dari mana? cape bener kaya nya."Ucap Ataya sambil terus tertawa.
"Tegang nya lebih dari nonton the conjuring teh!"Ujar nya sedikit berbisik dengan tangan yang terus mengusap dada nya perlahan.
"Mau lebih yakin lagi nggak? kita coba sekali lagi yah!"Tukas Ataya lalu kembali berjalan ke arah kotak obat untuk kembali membawa test pack untuk adik ipar nya.
Irma terperangah ketika pandangan mata nya menangkap Ataya yang mengeluarkan satu kota alat ters kehamilan dari kotak obat nya.
"Ya ampun.Kumplit bener, semua yang di butuhin di rumah ini kaya nya ada."Kata Irma.
Ataya hanya tersenyum, lalu berjalan ke arah Irma kembali setelah menyimpan kotak tersebut kembali ke tempat nya.
"Ayo satu lagi!"Ataya mendorong Irma agar segera masuk kamar mandi.
"Terus aku harus pipis lagi?"Tanya nya.
Ataya tersenyum, lalu menutup pintu kamar mandi nya rapat-rapat.
^
^
Sementara itu Zaydan yang menunggu di sofa ruang tengah tak kalah gelisah nya ketika istri dan kaka nya tak kunjung keluar.
"Eh,... Za! tumben pagi-pagi udah disini?"Tanya Ibra yang baru saja datang dari arah luar.
"Iya, tadi Irma mau ketemu Luna, tapi keburu berangkat."Sahut nya berbohong.
"Terus teteh sama istri kamu nya kemana?"Tanya Ibra lalu duduk di samping Zaydan.
__ADS_1
"Ada lagi pada di kamar."Sahut Zaydan.
Ibra mengangguk.
"Enggak ke ruko?"Tanya Ibra sambil menoleh.
"Enggak.Irma ngambek!"Ujar nya.
Ibra menjengit.
"Ngambek kenapa? jangan-jangan kamu nya yang macem-macem kali."Tukas Ibra sambil tersenyum meledek.
"Macem-macem sih nggak, cuma emang kaya nya lagi sensi! pikiran nya kemana-mana, masa Tania di cemburuin, ya kali aku mau sama anak baru gede."Tutur Zaydan.
Kedua nya pun tergelak bersama.
—klek..
Suara tawa dua pria yang sedang tertawa pun berhenti, ketika mendengar suara pintu terbuka dari arah belakang.
"Gimana?"Zaydan langsung berdiri, lalu berjalan menghampiri Irma dan Ataya yang sedang berjalan beriringan ke arah ruang tengah.
Irma tersenyum, lalu memberikan hasil test nya pada Zaydan.
Tangan Zaydan meraih benda pipih dan kecil dari istrinya, mendekat kan nya dari pandangan, hingga senyum nya terpancar ketika melihat hasil test nya menunjukan bahwa Irma sudah positif hamil.
"Alhamdulillah,.."Ucap Zaydan, lalu memeluk tubuh istrinya.
—Cup...Cup..Cup...
Ampun deh, ni anak nggak liat situasi banget! gumam Ataya.
"Jadi ngertikan kenapa Irma sensi sama kamu?"Kata Ataya kepada adik nya itu.
"Heumm,..."Zaydan hanya bergumam sambil terus mengulum bibir nya yang tengah tersenyum.
"Apasih?"Ibra yang sedang duduk di sofa memandang Ataya penuh tanya.
"Zio sama Luna mau punya adik pah."Jelas Ataya sambil tersenyum.
"Loh. Kamu hamil?"Ibra terkejut, lalu beranjak dari duduk nya dan segera berjalan ke arah Ataya.
"Aih,... bukan aku! Irma yang hamil."Sergah Ataya sambil mendorong dada suaminya yang sudah siap untuk memeluk.
"Apa kamu nggak mau kasih adik juga buat Zio dan Luna?"Tanya Ibra.
"Dua anak lebih baik pah, aku udah nggak mau ngedeun, kalo papah mau ngedeun nya ya hayu."Ataya sambil terkekeuh.
"Mana bisa kaya gitu."Gumam Ibra.
"Eh,... Ayok kasih tahu bunda!"Usul Ataya.
Irma mengangguk, lalu berjalan ke arah sofa bersamaan dengan suaminya yang terus menempel pada dirinya.
Tuttt....tut....
Suara panggilan tersambung..
Ataya terus berusaha menyambukan panggilan tatap muka pada ibu nya Aisyah.
__ADS_1
—Assalamu'alaikum.
"Wa'alaikumusalam bunda, lagi apa?"
—Lagi nonton sinetron, apalagi? bunda nggak ada kegiatan sekarang.
"Di sini ada Zaydan sama Irma nih."
Ataya langsung mengalihkan arah kamera nya.
—Tumben ibu sama bapa pengusaha nggak sibuk?
"Iya bun, Irma nggak enak badan."Ucap Zaydan.
—Loh, sakit apa?
Zaydan langsung memperlihat kan test pack ke arah kamera.
"Sakit karena lagi ngandung cucu nya bunda sama ayah."
—Alhamdulillah, berapa bulan?
"Iya bun, Zaydan di marahin terus dari semalem."Zaydan mengadu."Belum tahu, nanti pulang dari sini baru ke Dokter."
—Nggak apa-apa, sentil aja sekalian kalo suaminya nakal.Zaydan mendengus ketika tidak mendapat pembelaan dari ibu nya.
Sambungan telepon pun terus tersambung hingga beberapa menit lama nya, hingga Ataya menyudahi perbincangan nya ketika Zaydan dan Irma akan pamit untuk segera pergi ke Dokter dan memeriksakan kandungan Irma yang baru terdeteksi.
^
^
Sementara itu di dalam mobil yang tengah melaju cukup kencang, ke adaan di dalam nya hening, sesekali Zaydan menengok ke arah istrinya yang terus membungkam.
"Masih marah?"Tanya Zaydan pelan, sambil memgusap lengan Irma.
Irma menoleh, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa masih diam, dimana wajah ceria dan bibir bawel mu?"Zaydan tersenyum samar.
"Aku kesal, tapi nggak tahu kenapa dan pada siapa."Gumam Irma, raut wajah nya terlihat muram.
—Cup..
Zaydan mencium punggung tangan istrinya.
"Baiklah, aku akan banyak menghabiskan waktu bersama mu, pergi ke ruko nya sesekali saja."Ujar nya dengan mata yang kembali fokus ke jalanan yang ada di depan.
Irma tersenyum.
"Janji!"Ucap Irma.
"Janji sayang."Tukas Zaydan.
Kedua nya kembali terdiam, Irma yang terus menatap ke arah luar, begitu pun dengan Zaydan yang fokus mengemudi dengan satu tangan terus menggenggam telapak tangan Irma.
...TBC🌻🌻🌻...
...Jangan lupa! like, vote, komen dan hadiah lain nya buat othor......
__ADS_1