
—Vrumm...
Suara derum mobil yang memasuki pekarangan rumah nya bisa di dengar jelas oleh Aisyah dan Hardian yang sedang asik menonton sinetron malam.
"Suara mobil siapa itu yah?"Aisyah menatap Hardian penuh tanya.
Hardian menggelengkan kepala, namun tubuh nya bangkit dan segera beranjak menuju pintu.
—Klek..
Hardian membuka pintu rumah nya perlahan.Pandangan mata nya lansung tertuju pada Fortuner putih yang sudah berhenti tepat di depan rumah nya, lalu keluarlah anak dan menantu nya secara bersamaan.
"Assalamu'alaikum ayah."Ucap Irma dan suaminya bersamaan.
"Wa'alaikumusalam."Sahut Hardian lalu memberikan tangan nya yang di raih Zaydan."Kalian ko nggak ngasih kabar dulu."Cicit Hardian sambil tersenyum.
"Dadakan, Irma mau jagung bakar di puncak, jadi sekalian aja ke sini."Kata Zaydan.
"Yasudah, ayo masuk."Hardian membukakan pintu nya lebar-lebar, membiarkan kedua nya masuk lalu kembali menutup pintu dan mengunci nya.
Irma terus berjalan terlebih dulu, menatap setiap inci ruangan rumah masa kecil suaminya.
"Ya allah, kalian yang datang."Kata Aisyah terperanjak, lalu berjalan menuju Irma dengan senyum sumringah.
"Bunda."Irma langsung meraih tangan ibu mertua nya, lalu mencium punggung tangan Aisyah.
"Habis dari mana ini? emang boleh ya sama Dokter?"Aisyah tersenyum.
"Belum apa-apa ngidam nya udah jagung bakar puncak sama sate maranggi cianjur bun."Timpal Zaydan setelah menyimpan koper kecil nya terlebih dulu kw dalam kamar nya.
Hardian dan Aisyah hanya tersenyum, lalu mengiring anak dan menantunya duduk di sofa ruang keluarga.
"Kaya bunda pas hamil kamu, pengen jangung sama indomie rebus yang ada di puncak."Ujar Aisyah lalu terkekeh.
"Tuh kamu jangan ngeluh, mungkin anak nya ngikutin bapak nya dulu."Sergah Irma kemudian menatap Zaydan yang lansung mendelikan mata nya.
"Aku lagi, aku lagi."Gumam Zaydan.
"Jadi gimana kata Dokter?"Tanya Aisyah.
"Baik bunda, usia nya udah lima minggu."Sahut Irma.
Aisyah mengangguk.
"Ruko gimana?"Hardian menatap Zaydan.
"Di serahin ke teteh dulu."Kata Zaydan.
"Yasudah nggak apa-apa, kalian di sini dulu saja, sebulan atau dua bulan."Ujar Hardian.
"Paling seminggu ayah, kalo kelamaan kasian karyawan Irma."Jelas Irma.
"Kalian sudah makan?"Tanya Hardian kembali.
"Sudah."Jawab kedua nya bersamaan.
Hardiam hanya mengangguk, lalu pandangan nya menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Istirahat gih, udah malem.Perjalanan jauh juga, kasian Irma sama janin nya kalo kecapean."Titah Aisyah yang mengerti maksud Hardian agar segera menyuruh kedua naka nya beristirahat.
Zaydan mengangguk, lalu meraih tangan istrinya untuk segera membawa nya ke dalam kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
"Kita istirahat ya bunda, ayah."Pamit Irma.
—Klek..
Zaydan mendorong pintu kamar nya perlahan, menahan nya agar Irma masuk sebelum menurup lalu mengunci nya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.
Mata Irma menatap sekitar, kamar yang terlihat cukup luas dengan cat dinding berwarna putih abu-abu.
Bibir nya tersenyum ketika melihat beberapa foto masa kecil Zaydan, lalu belarih menatap saat Zaydan lulus sekolah menegah atas.
"Za, kamu gangeng yah waktu masih abegeh."Irma tertawa pelan.
"Emanh sekarang aku nggak ganteng?"Tanya Zaydan.
"Biasa aja ah sekarang mah."Ujar nya lalu menatap Zaydan dengan senyum malu.
"Kamu masih mau panggil suamimu ini dengan sebugan nama? nggak takut di protes para readers?"
"Manggil apa dong?"Tanya Irma.
"Apa saja terserah."Cicit nya lalu duduk di tepi ranjang.
"Aku pikirin nanti, tapi kita harus cuci muka, kaki dan gosok gigi dulu Za!"Tukas nya.
Lalu Irma berjalan ke arah kamar mandi setelah membuka kerudung nya terlebih dulu.
Beberapa menit kedua nya di dalam kamar sana, akhirnya Irma bersama suaminya sudah selesai dengan baju yang juga sudah di ganti.
"Jadi mau panggil apa?"Tanya Zaydan, lalu duduk di tepi ranjang berukuran sedang nya.
"Emph,...Mas?"Ucap Irma.
"Abang?"
Zaydan menggelengkan kepala nya kembali.
"Aa?"
"Aih,... geli aku."Cicit nya.
"Jangan baba plis, jangan baba!"Zaydan lansung memotong sebelum Irma mengeluarkan kata-kata nya.
"Ya terus apa?"Cicit Irma sedikit kesal.
"Ya apa saja."
"Dih,... mulai."Irma mendelik.
"Papi aja deh udah yah."Kata Irma.
Sesaat Zaydan terdiam, lalu mengangguk.
Irma mengangguk, lalu mulai naik dan segera berbaring, di ikuti Zaydan yang lansung memeluk tubuh Irma.
—Cup..
"Selamat bobo anak papi."Ucap nya lalu mengusap perut Irma.
"Selamat bibo om."Cicit Irma lalu mengusap lengan Zaydan.
"Oh nakal yah!"Zaydan semakin mendekat,tubuh nya bangkit, lalu mengurung tubuh Irma dengan kedua tangan nya.
__ADS_1
"Kamu nakal ya!"Ucap nya kembali dengan tatapan tajam, namun terlihat sensual.
—Cup..
"Aku pengen."Bisik Zaydan sambil mengusap paha mulu Irma yang sedikit terlihat karena dress nya mengangkat
"Ada ayah sama bunda, aku malu."Kata Irma.
"Mereka nggak bisa liat ko."
"Ya takut berisik."Jelas nya.
Zaydan tersenyum, lalu menarik c**ana d*lam milik Irma secara paksa, dan melempar nya ke sembarang arah.
"Kamu bisa gigit bantal."Bisik nya lalu memaut bibir ranut milik Irma.
Tangan Irma langsung merangkul bahu lebar Zaydan, terus mengusap rambut suaminya ketika bibir mereka mulai saling berbalas.
Begitupun dengan Zaydan, tangan nya sudah menggerayang nakal di atas tubuh Irma, meremat dan memain kan pucuk dua gundukan kembar milik istrinya.
"Emmphh."Irma melengguh pelan, tangan nya terus merema* kuar rambut Zaydan dengan mata yang sudah terpejam.
Zaydan menarik kaos yang masih menempel di tubuh nya, membuka sisa pakaian yang lain sampai membuat nya polos tampa apapun.
Zaydan menyeringai, lalu menarik dress tidur Irma sampai terlepas, lalu mengarahkan pedang milik nya yang sudah siap tempur.
"Owh,... Za,... sayang!"Cicit Irma pelan ketika sesuatu mukai menghujam inti tubuh nya.
"Maaf, disini kamu nggak bisa teriak dulu."Bisik Zaydan dengan senyum nakal nya.
Irma terdiam, namun tetap berusaha menahan suara nya sambil terus meremas semua benda yang dapat ia gapai.
"Ah,...
Suara Irma terus tertahan ketika Zaydan mulai melajukan pinggul nya perlahan.
"Shutt,... sayang!"Zaydan terus mengusap wajah Irma yang sudah memerah karena menahan sesuatu yang terus mendeasak nya.
Pelukan Irma semakin erat, membenam kan kepala nya di lengan Zaydan, sambil sesekali menggigit nya hingga membuat Zaydan sedikit mengerang.
Pergumulan kedua nya terus terjadi, suara-suara yang tertahan hanya bisa di dengar Zaydan, perlahan Zaydan menaikan tempo nya, sampai membuat Irma membawa bantal di atas nya lalu menutupi wajah untuk berteriak.
"Aku selesai sayang!"Zaydan menggeram, sambil terus memacu kecepatan nya.
Erangan panjang kedua nya tersengar, lalu terdiam setelah Zaydan selesai menyemburkan lahar panas nya di rahim Irma.
Cengkraman tangan Irma di bantal pun terlepas, dengan cepat Zaydan meraih nya hingga memperlihat kan wajah Irma yang terlihat kacau.
—Cup..
"Maafkan aku!"Ucap nya setelah mencium kening istrinya.
"Kami nyiksa aku Za!"Gumam Irma dengan mata tertutup
Zaydan hanya tersenyum, lalu beralih ke arah perut rata yang sudah berpenghuni dan mencium nya lembut.
"Baik-baik anak papi."Bisik nya tepat di atas perut Irma, lalu tersenyum.
...TBC🌻🌻🌻...
...Jangan lupa! like, dan vote nya.!!...
__ADS_1