Happily Ever After

Happily Ever After
Bukaan.


__ADS_3

🍁


🍁


Hari terus berganti dengan sangat cepat. Begitu pun dengan kandungan Irma yang semakin membesar seiring usia kandungan nya yang terus bertambah.


Kini ia dan suaminya Zaydan di boyong tinggal sementara di rumah Ataya, walau pada awal nya Irma menolek, tapi pada akhir nya ia menurut karena Aisyah yang terus meninta, dan beralasan agar gampang memantau nya, maklum saja, ibu dari suaminya itu selalu khawatir kala meninggal kan Irma sendiri di apartemen, apalagi ketika Zaydan pergi ke Ruko.


Hari ini tepat nya pukul dua belas siang, Irma hanya berdiam diri di dalam kamar ketika perut nya terasa semakin sakit dan sedikit kencang.


Terlihat beberapa kali Irma meringis, berbaring miring sambil menahan sakit yang terasa beberapa saat kemudian Hilang kembali.


"Shhhh,..aw!"Mata Irma terpejam, dengan kening yang menjengit.


^


^


"Irma tumben nggak keluar?"Tanya Aisyah yang terlihat sedikit heran.


Ataya menoleh, padangan nya mengikuti Aisyah yang juga ikut duduk di sofa ruang tv.


"Biasa nya habis selesai dzuhur kan, baru Irma keluar."Jelas Ataya sambil melihat jam dinding.


"Tadi pagi sarapan kan?"Tanya Aisyah.


"Sarapan, sempet nganter Zaydan sampe teras juga."Jawab Ataya kembali.


Aisyah terlihat khawatir, sampai wanita itu kembali beranjak menuju kamar Zaydan yang berada di dekat taman belakang.


"Kenapa bun?"Tanya Hardian yang baru saja keluar kamar, dan mendapati istrinya yang sedang berjalan cepat dengan raut wajah yang kelihatan gelisah.


"Irma nggak keluar lagi dari tadi."Jelas nya.


"Loh, biasa nya bolak-balik ambil makanan sama minum."Hardian pun terlihat heran.


Dengan raut wajah panik, kedua orang itu berjalan bersamaan menuju kamar yang di tempati Irma dan putra bungsu nya Zaydan.


TOK..TOK..TOK..


"Irma?"Panggil Aisyah.


Hening, tidak ada sahutan sama sekali.


"Irma lagi apa neng?"Panggil Hardian, namun masih belum ada sahutan.


TOK..TOK..


"Bunda masuk yah!"Ucap nya kemudian menekan handle pinru.


Klek..


Kepala Aisyah menyembul, memeriksa ke adaan kamar. Dan betapa terkejut nya ketika melihat Irma membungkuk dan tangan yang bertempu pada tempat tidur dengan mukena yang masih di kenakan nya.

__ADS_1


"Irma kenapa?"Aisyah berlalu ke arah Irma berada.


"Perut Irma sakit bunda."Sahut nya pelan, sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar.


Prempuan itu terus memejam kan mata dengan bibir yang terus meringis, menahan sakit yang terasa lebih parah dari pada sebelum nya.


"Kontraksi?"Aisyah bertanya sambil mengusap punggung Irma.


Irma diam.


"Kita kerumah sakit sekarang saja."Usul Hardian kepada istrinya.


"Iya yah, nanti tunggu kontraksi nya berhenti dulu."Jawab Aisyah.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sakit itu menghilang, sampai Irma kembali seperti biasa.


"Kita ke rumah sakit yah?"Ujar Aisyah sambil menatap wajah yang terlihat sedikit pucat dan keringat yang sudah bercucuran di kening nya.


"Nungguin Zaydan saja bun."Irma tersenyum.


"Nanti Zaydan menyusul, kita berangkat dulu. Dimana persiapan nya? biar ayah bawakan!"Sergah Hardian yang juga merasa panik dengan ke adaan Irma saat ini.


Irma mengangguk.


"Di samping lemari yah."Ucap Irma.


Dengan segera Hardian berjalan ke arah lemari putih besah yang berada di kamar tersebut, kemudian menyeret koper hitam berukuran besar itu keluar.


Irma pun seger berjalan ke arah luar kamar, di tuntun Aisyah dengan sangat hati-hati.


"Bun!"Cicit Irma sambil menundukan pandangan nya.


"Ketuban nya pecah!"Aisyah sedikit berteriak.


Irma kembali meringis memegangi perut nya yang kembali terasa sakit.


"Ayah gendong yah."Sergah pria paruh baya dengan perawakan tinggi besar itu, meninggal kan koper yang sedang di bawa nya, namu ketika akan segera meraih tubuh Irma, Zaydan muncul dengan raut wajah yang terlihat sangat panik.


"Za, cepet bawa Irma. Ketuban nya sudah pecaj."Aisyah memekik.


"Sudah kontraksi?"Tanya Ataya.


"Iya teh, air ketuban nya juga sudah pecah!" Jelas Aisyah.


Zaydan langsung membawa tubuh Irma kedalam pangkuan nya, berjalan dengan cepat ke arah luar.


"Za,..sakit!"Keluh istrinya itu, akhir nya Irma merengek setelah dari tadi berusaha kuat karena malu kepada ayah dan ibu mertua nya.


"Iya sayang,.. kita ke rumah sakit sekarang yah."Zaydan menatap Irma kemudian tersenyum.


^


^

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena mobil yang di kemudikan Zaydan terjabak macet akhir nya mereka sampai di Ruma Sakit yang selalu Irma dan Zaydan kunjungi untuk memeriksakan bayi mereka.


"Tarik nafas ya bun, sedikit tidak nyaman soal nya."Jelas Bidan yang bertugas.


"Shhh..!"Irma meringis ketika ia melakukan pemeriksaan.


Zaydan hanya terdiam, berusaha kuat untuk membuat Irma lebih kuat. Dukungan selalu Zaydan berikan, kata-kata semangat selalu pria itu ucap kan ketika Irma mengalami kontraksi kembali.


"Aduh hebat,..sudah pembukaan tujuh loh ini."Ucap Bidan sambil tersenyum ke arah Zaydan.


Zaydan mengangguk, dengan tangan yang terus mengusap kepala Irma yang di tutubi mukena.


"Dokter Desi kan yah? saya akan langsung menghubungi Dokter dan menyiapkan ruang persalinan nya."Ujar nya kembali.


"Za,... sakitt!"Suara nya terdengar lirih, dengan air mata yang sudah bercucuran.


"Semangat ya sayang! kamu wanita hebat, kamu bisa."Zaydan menyemangati."Sebentar lagi kita ketemu dede bayi."Tukas Zaydan menatap Irma sambil tersenyum.


"Aww,...


Irma berteriak, mencengkram tangan Zaydan kuat ketika kontraksi nya terasa semakin intens dan semakin sakit.


Para petugas medis pun berdatangan, membantu mendorong brangkar yang di tempati Irma menuju ruang bersalin.


Hardian dan Aisyah yang malihat Irma sudah mulai di bawa keruang bersalin semakin terlihat panik, bahkan wanita itu tidak bisa duduk tenang seperti Hardian yang masih bisa mengendali kan diri.


"Pembukaan berapa Za?"Tanya Aisyah.


"Sudah tujuh bun, do'a in yah."Ucap nya sambil berjalan tergesa menyusul Irma.


Semua petugas semakin di sibukan ketika mereka sampai di ruang bersalin, menata setiap barang yang mungkin akan di perlukan Dokter dan juga memasangkan jarum infus di tangan Irma.


"Kontraksi nya dari kapan?"Tanya Bidan mencoba mengalihkan perhatian Irma yang terlihat panik karena jarum suntik.


"Dari jam tiga pagi bu."Sahut nya pelan.


Zaydan yang mendengar pun cukup tersentak.


"Sayang kenapa nggak bilang? kalau tahu kamu kontraksi aku nggak berangkat ke Ruko."Cicit Zaydan yang terus berada di samping Irma.


"Hallo."Sapa Dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Iya Dok."Sahut semua orang bersamaan.


"Bagai mana?"Dokter bertanya kepada Bidan yang memeriksa Irma.


"Tadi tujuh Dok."Jawab nya.


"Coba periksa lagi."Dokter itu tersenyum.


Bidan itu mengangguk, dan kembali memeriksa bukaan Irma kembali.


"Sudah bukaan delapan Dok!"Ucap nya yang langsung di jawab anggukan Dokter wanita tersebut.

__ADS_1


...TBC🌺🌺🌺...


...Jangan lupa! like, vote setiap hari senin, dan komen nya oke.....


__ADS_2