
Hari demi hari hubungan rumah tanggan Irma dengan Zaydan berjalan bagai mana semestinya.Kedua nya kini sama-sama sibuk dengan bisnis dan pekerjaan masing-masing. Hingga tidak jarang Zaydan pulang ke apartemen nya ketika Irma sudah tertidur pulas.
Hubungan Irma bersama sang ibu mertua pun semakin membaik, kedua nya selalu terlibat komunikasi entah itu vidio call, atau hanya sambungan telepon biasa.
Lima bulan berlalu, mereka menjalani pernikahan nya dengan penuh kebahagiaan, namun belum ada tanda-tanda Irma sudah mengandung buah hati dari suami tercinta nya Zaydan sampai saat ini.
Malam ini tepat nya pukul tujuh malam, di ruko Bakmie milik Aisyah.Pria berperawakan tinggi sekitar 180cm itu masih sibuk duduk berhadapan dengan salah satu pekerjanya.
"Semua nya sudah saya catat di buku pak.Dari pendapatan harian, pengeluaran sampai omset bulanan sudah saya totalkan di sini."Jelas gadis di hadapan nya sambil menggeser buku catatan ke hadapan Zaydan.
Zaydan mengangguk, mata nya terus memperhatikan catatan yang di berikan kepada dirinya.
"Bulan ini turun?"Zaydan menatap pekerja wanita di hadapan nya.
"Iya pak, mungkin karena PPKM."Jawab nya sambil mengangguk dengan tatapan yang tidak pernah teralihkan dari bos tampan nya.
"Yasudah, saya pulang dulu! ini sudah jam setengah delapan."Zaydan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Kerja yang rajin, saya naikan gajih kalian semua bulan ini!"Ujar Zaydan sambil beranjak dan berjalan ke arah luar.
Seluruh karyawan yang masih terlihat bekerja membenahi ruko bakmie nya pun bersoka gembira.
"Terimakasih pak!"Ucap nya bersamaan.
Zaydah menjawab nya dengan mengangkat tangan, dengan langkah kaki yang terus berjalan ke arah luar menuju Fortuner putih nya terparkir.
^
^
Sementara itu Irma yang baru saja pulang dan selesai dengan ritual membersih kan dirinya, kini wanita itu sedang berkutik dengan alat tempur di dapur dengan kepala yang masih mengenakan lilitan handuk.
Kaki nya terus terlihat berjalan mondar mandir ke arah kulkas, lalu mengiris bahan-bahan untuk membuat ayah kecap ke sukaan Zaydan.
Setelah semua bumbu nya siap, kini tangan Irma siap bergulat dengan sodet dan wajah tampa takut cipratan minyak panas yang mengenai jemari lentik dan kulit mulus kuning lansat nya.
Crezzzzz....
Srengggg..
Srenggggg..
Setelah beberapa menit, ayam kecap untuk suaminya pun siap, lalu mematikan kompor dan menghidang kan nya kedalam mangkuk.
Sekarang wanita itu beralih, untuk segera memasak nasi.
PLIP..
PLIP..
PLIP..
—Ceklek...
__ADS_1
"Assalamu'alaikum..
Ucap Zaydan setelah masuk ke dalam apartemen nya.
Sorot mata Zaydan mencari sosok wanita yang sudah beberapa bulan ini menjadi prioritas pertamanya.
"Sayang!"Panggil Ibra, lalu meletakan tas slempang dan kunci mobil nya di atas meja tv.
Mendengar suara aktifitas di dapur, tampa menunggu lebih lama Zaydan lansung berjalan ke arah di mana suara berasal.
Pandangan mata nya langsung menatap wanita yang sedang berdiri di hadapan washtafel dengan pakaian serba panjang, dan lilitan handuk di kepala nya.
Tidak biasa nya di rumah pake serba tertutup! pikir Zaydan.
—Cup...
Zaydan memeluk Irma lalu mencium nya dari belakang
"Kamu kebiasaan! suka bikin aku kaget."Kata Irma sambil menoleh ke arah suaminya.
"Aku udah manggil kamu dari pas masuk apartemen sayang!"Sahut Ibra setengah berbisik di telinga istrinya.
"Oh ya. Aku nggak denger!"Ucap Irma lalu mematika kran air, setelah ia selesai mencuci beras nya.
"Ck. Dasar!"Gunam Zaydan.
Dekapan Zaydan pun perlahan terlepas, membiar kan Irma berjalan ke arah rise cooker untuk segera memasak nasi.
—TREK...
"Iya, aku pasti mandi. Tapi aku mau memastikan sesuatu dulu."Jelas nya.
"Memastikan apa?"Dahi istrinya menjengit dengan tatapan penuh tanya.
"Kamu sakit?"Zaydan to the point.
Irma menatap Zaydan, lalu menggeleng kan kepala.
"Tumben pake sweter sama joger!"Ujar Zaydan.
"Suasana emang lagi dingin saja. udah ah sana mandi!"Irma membalik kan tubuh suaminya dan mendorong nya perlahan.
^
^
Empat puluh lima menit berlalu, kedua nya sudah duduk di meja makan yang berada di dapur, dengan ke adaan yang sudah sama-sama rapi, Irma sudah menyisir rambut panjang nya yang terurai, begitupun Zaydan yang terlihat segar dengan kaos dan celana tidur nya.
Dengan sangat cekatan Irma mengisi piring kosong Zaydan dengan beberapa sendok nasi dan ayah kecap.
"Terimakasih sayang!"Zaydan tersenyum.
Irma pun tersenyum, lalu segera duduk di hadapan sang suami dengan sepiring makan malam di hadapan nya.
__ADS_1
"Gimana toko kamu?"Tanya Zaydan setelah memasukan satu suapan makan malam nya.
"Alhamdulilah masih aman Za, nggak ada yang meng khawatir kan."Sahut Irma."Kalo ruko gimana? kamu ko akhir-akhir ini pulang malem terus!"Irma kembali bertanya.
"Omset bakmie rada menurun bulan ini, tiap hari aku pantau para karyawan sayang, malem-malem hitung-hitungan sama Tania."Jelas Zaydan.
Sesaat Irma menghentikan kunyahan nya, lalu menatap Zaydan penuh penekanan.
"Tania?"Suara Irma pelan namun masih bisa di dengar Zaydan.
"Iya, posisi nya sama kaya Sri."Kata Zaydan kembali.
"Apa karena dia kamu lebih betah di ruko, sementara hitung-hitungan bisa di lakukan setiap akhir atau awal bulan!"Cecar Irma dengan mata memincing dan suara rendah yang terdengar sangat mengancam.
Zaydan menghela nafas nya kasar.
"Jangan mulai lagi! akhir-akhir ini masalah kita cuma soal jam pulang."Raut wajah Zaydan berubah menjadi terlihat kesal.
"Tapi kamu emang rada aneh! biasa nya siang ke toko tapi sekarang nggak!"Irma mengutara kan isi hatinya.
—Deg..
Zaydan terdiam, pria itu terlihat termenung dengan penjelasan istrinya barusan.Pikiran Zaydan mengingat memang akhir-akhir ini ia sering melakukan makan siang bersama karyawan nya termasuk Tania.
"Aku sibuk!"Jawab nya singkat.
"Ck. Lucu sekali!"Irma tersenyum getir.
"Maksud mu!"Zaydan melihat ke arah Irma dengan tatapan tidak suka.
"Apa kamu pikir aku nggak sibuk? aku menyerah kan semua nya kepada Sri dan yang lain hanya ingin mempunyai banyak waktu bersama mu.Tapi kamu malah asik bersama pegawai centil itu."Cecar Irma dengan nada ssdikit meninggi.
"Irma stop! janga mulut kamu dan jangan pernah berpikir yang tidak-tidak."Cicit Zaydan dengan suara membentak.
"Apa tidak lelah? setiap hari bertemu bangun tidur terus berangkat kerja, pulang nya cuma makan terus tidur! apa kamu nggak kangen aku."Ucap Irma, mata nya sudah memerah dengan linangan air di sudut mata nya.
Zaydan kembali terdiam, karena yang di katakan Irma hampir semua nya benar.
Apa aku terlalu asik dengan dunia ku saat ini!, tampa memikir kan dunia istriku!
"Jangan berteriak, habiskan makanan mu! lalu kita bicarakan baik-baik."Suara Zaydan memelan.
"Kamu yang bentak aku Zaydan! aku cuma mau perhatian kamu."Suara nya bergetar dengan wajah yang sudah merah padam.
PRANKKK!!!
Irma membanting sendok makan nya, lalu berlari ke arah kamar dengan tetesan air mata yang sudah terlihat membasahi pipi.
Zaydan mengusap wajah nya kasar, menatap punggung Irma yang sudah berlalu menjauh, lalu kembali menghembuskan nafas nya kasar.
"Hah...!"Raut wajah Zaydan sudah terlihat frustasi, dengan tangan yang sudah meremas kuat rambut nya.
...Bersambung.......
__ADS_1
...Jangan lupa! like, vote, komen dan hadiah lain nya dongs.....