
^
^
–Klek..
Zaydan mendorong pintu apartemen nya, kemudian membiarkan Irma berjalan masuk terlebih dulu seperti biasa.
"Mau makan?"Tanya Zaydan sambil terus berjalan menyusul Irma yang masuk ke dalam kamar nya.
"Aku mau mandi dulu."Sahut nya pelan, kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Zaydan menghela nafas nya pelan, lalu berjalan ke arah sofa untuk menunggu istrinya yang sedang membersih kan diri di dalam sana.
Sementara itu di dalan kamarmandi, Irma mulai menanggal kan satu-persatu pakaian yang masih melekat di tubuh nya.
Berjalan pelan menuju shower dan mulai membuka kran air.
Mata Irma langsung terpejam ketika air dingin itu menyentuh tubuh nya, kemudian menangis kembali.
Entah apa yang membuat nya merasa aneh, namun yang pasti ada sesuatu yang mengganjal dalam hati nya sampai membuat Irma kembali ingin menangis.
"Kenapa sekarang terasa berbeda!"Ucap Irma di sela tangisan nya.
Tubuh nya perlahan merosot, hingga Irma terduduk di ubin kamar mandi yang terasa sangat dingin, punggung nya bersandar pada dinding dengan air mata yang terus bercucuran.
Dia sedang kecewa, namun wanita itu terlihat menghukum dirinya sendiri di bawah guyuran air shower yang dingin.
Tidak ada acara mandi yang sesungguh nya, Irma hanya bediam diri sambil terus menangis tampa melakukan ritual mandi apapun.
"Maafin bubu ya sayang!"Irma memeluk perut bulat nya erat, sampai beberapa kali mengusap karena bayi di dalam perut nya tiba-tiba saja bergerak.
Dua puluh menit berlalu, namun Irma masih belum beranjak, wanita itu hanya terus bediam diri dengan kepala menunduk.
Bibir nya sudah bergetar, telapak tangan yang sudah terlihat keribut dan membiru sedikit ke unguan, reaksi tubuh nya mulai menggigil, namun Irma tetap diam.
Zaydan yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuan nya mulai terlihat khawatir, hingga pria itu menyimpan laptop nya terlebih dulu, kemudian bangkit dan segera berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"Sayang!"Panggil Zaydan.
TOK..TOK..TOK..
Namun tidak ada sahutan dari dalam sana, hanya ada suara air yang tidak kunjung berhenti.
Rasa khawatir nya terus menteruak, sampai fikiran buruk pun melintas, Zaydan mencoba menekan handle pintu kamar mandi.
Greg..
"Di kunci!"Zaydan semakin terlihat panik.
"Sayang buka!"Zaydan berteriak.
DOR..DOR..DOR..
"Sayang!"Zaydan terus berteriak dengan ke adaan hati nya yang sudah bergemuruh.
Langkah kaki Zaydan mundur, terlihat mengambil ancang-ancang, kemudia berlari dan mendorong pintu kamar mandi nya menggunakan kaki sekuat tenaga.
Brakk!!
Pintu kayu itu langsung terlempar kebelakang, dengan cepat Zaydan masuk.
"Sayang!"Zaydan berteriak ketika mendapat Irma sedang duduk sambil mengguyur tubuh nya dengan air dingin.
__ADS_1
Tampa basa-basi Zaydan mematikan kran air, menarik handuk yang tersedia kemudian membungkus tubuh istrinya dengan handuk yang sudah sangat lemas.
Zaydan langsung membawa Irma keluar, lalu membatmring kan nya di atas tempat tidur.
"Kamu ini kenapa?"Cicit nya pelan lalu menarik selimut tebal agar menutupi tubuh Irma yang sudah mengigil.
Irma hanya terdiam.
"Kamu marah padaku, kenapa menghukum dirimu dan anak kita?"Timpal Zaydan kembali.
Mendengar kata anak, tangan Irma langsung bergerak, menyenruh kembali perut nya.
"Kenapa kamu tidak bergerak seperti tadi?"Gumam Irma pelan namun bisa di dengan jelas oleh pria yang duduk di samping nya.
"Kamu menghukum nya karena kesalahan Tania?!"Zaydan berbisik.
Seketika pandangan mata Irma menatap tajam ke arah Zaydan.
"Nggak usah sebut-sebut nama dia!"Tegas nya.
"Lalu apa? aku haru apa dan bagai mana? aku tidak selingkuh tapi kenapa kamu tidak percaya."Zaydan menatap Irma sendu.
Zaydan bangkit dan berjalan ke arah lemari, membawa pakaian d*lam, celana tidur panjang dan hoodie milik nya.
"Bangun dulu, kita ke Dokter hari ini."Pinta Zayfan dengan raut wajah tampa ekspresi.
"Sekarang kamu marah?"Tanya Irma pelan sambil mendudukan tubuh nya yang masih menggigil.
"Kamu yang marah, bukan aku.Setidak nya aku sudah berusaha menjelas kan, percaya atau tidak sekarang terserah kamu."Sergah Zaydan tampa melakukan kontak mata.
"Aku nggak marah sama kamu, aku hanya kecewa pada diriku sendiri."Jawab Irma sambil terus memakai pakaian nya.
Zaydan menjengit.
"Aku kecewa karena sekarang aku nggak bisa percaya sama kamu seratus persen, ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam hati, rasa nya sesak, mau nangis tapi nggak tahu apa."Jelas Irma kembali.
Pria itu beranjak terlebih dulu, meninggal kan Irma yang masih berada di atas tempat tidur.
"Aku sedang berusaha buat percaya Za, tapi pikiran aku nggak bisa."Gumam nya lalu turun dan segera berjalan ke arah dapur.
Hacim!
Irma menggosok hidung nya sampai merah.
Hacim!
"Hah, sekarang kamu flu."Zaydan menghela nafas nya.
"Nggak cuma ke masukan air sedikit!"Jawab Irma lalu duduk di kursi meja makan.
"Terserah kamu."Tukas Zaydan singkat, lalu duduk setelah menyiapkan air dan piring terlebih dulu.
Setelah itu kedua nya diam, suasana makan pun jadi hening, tidak ada canda atau pun tawa, yang terdengat hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.
"Minum vitamin nya, terus tidur!"Zaydan mengeluarkan kapsul berisi minyak ikan, kemudian memberikan nya kepada Irma.
Irma mengangguk, lalu meminum vitamin yang selalu ia hindari dengan alasan abu amis.
"Kamu marah?"Irma melembut.
"Sudah ku bilang, kamu yang marah."Ucap Zaydan sambil tersenyum, namun terpaksa.
Zaydan kembali berjalan keluar dari dapur, lagi-lagi suaminya itu meninggal kan nya.
__ADS_1
Dengan cepat Irma beranjak, lalu mengejar Zaydan yang sudah terlihat membawa jaket di tangan nya dan akan segera keluar.
"Mau kemana?"Irma memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Tidurlah, aku sebentar."Ucap nya pelan.
"Mau kemana? mau ninggalin aku sendirian?"Irma merengek.
"Mau ke kantor polisi."Sahut nya.
"Ngapain? nggak mau nemenin aku bobo?"
"Mau urus laporan, tidur saja aku segera pulang."Zaydan masih kekeh.
Irma menggelengkan kepala nya yang menenpel di punggung Zaydan.
"Maaf, aku lagi berusaha percaya lagi kok sama kamu, tapi jangan tinggalin aku sendiri."Pinta Irma.
"Nggak, kamu sampai melakukan hal tadi karena aku, aku yang harus minta maaf dan membawa bukti tentang fitnah ini."Ujar nya dingin.
"Aku sudah fitnah kamu?"Suara Irma menahan tangis.
"Iya."Jawab Zaydan singkat.
"Kamu marah?"
"Ya!"
"Nggggg...."Irma menangis, lalu melepas ka pelukan nya dan berlari masuk kamar.
Zaydan tersenyum, kemudian terkekeh pelan ketika melihat tingkah laku istrinya dengan mood yang berubah-ubah.
Zaydan kembali berjalan ke arah kamar, dengan senyuman yang terus terukir.
Terlihat Irma menangis di bawah selimut, meraung seperti anak kecil yang ingin di belikan es krim.
Perlahan pria itu naik, menyikabakan selimut lalu memeluk tubuh Irma dari belakang.
"Shutt,..sudah jangan nangis, aku nggak jadi pergi."Kata Zaydan sambil menahan agar dirinya tidak tertawa.
"Kamuu nyaaa mauu perrgi!"Rengek nya sambil menangis.
"Nggak, aku disini."Zaydan menarik Irma akan berbalik menatap nya.
Mata nya sembab, dengan hidung dan bibir yang memerah.
Zaydan tersenyum.
"Nggggg,...malu!"Rengek nya kembali sambil menangis, kemudian menyurukan kepala nya di dada Zaydan.
Akhirnya Zaydan tergelak, tertawa kencang sampai kepala nya mendongkak.
"Nggggg!"Tangisan Irma semakin kencang.
"Shut sudah-sudah."Zaydan tersenyum.
–Cup..
"Dududu sayang!"Zaydan mengusap kepala Irma pelan, lalu merangkul nya erat.
...Awas ada! kupu-kupu terbang di perut curi semua nutrisi😜...
...🦋🦋🦋...
__ADS_1
...TBC🌴🌴🌴...
...Jangan lupa! dukungan nya buat author ini.....