Happily Ever After

Happily Ever After
Manja.


__ADS_3

^


^


Seperti hari-hari biasa nya, Irma selalu terbangun terlebih dulu, membenahi apartemen yang di tempati nya karena terlihat sedikit berdebu.


Setelah melaksanakan solat subuh, Irma langsung bergegas membuat sarapan kemudian membersih kan diri setelah beberapa menit bergulat dengan wajan dan minyak panas.


Berbeda dengan Zaydan, akhir-akhir ini dia selalu terlilah lelah dan mengantuk, hingga tidak biasa nya suami dari Irma itu tertidur kembali setelah melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


Saat ini jarum jam sudah menunjukan pukul delapan tiga puluh, Irma yang baru saja selesai memaki riasan di wajah dengan pakaian rapih wanita itu bangkit dan segera berjalan ke arah Zaydan yang masih terlelap, sampai dengkuran keras nya terdengar menggema di dalam ruang kamar.


"Sayang, aku mau ke toko dulu yah?!"Ucap Irma dengan tubuh sedikit membungkuk, mendekat kan bibir nya tepat di daun telinga Zaydan.


Pria itu menggeliat, merenggangkan otot tubuh yang terasa kaku.Mata nya perlahan mengerjap, kemudia menoleh ke arah Irma dan menarik tubuh kecil itu sampai Zaydan bisa mendekap nya.


"Jam berapa?"Suara nya parau, bahkan terdengar malas karena kantuk masih menguasai tubuh nya.


"Sudah mau jam sembilan."Jawab Irma.


Pandangan nya menunduk, menatap wajah dengan mata yang selalu tertutup berada di atas pangkuan nya menghadap ke arah perut yang masih terlihat rata.


Zaydan tidak bergeming, pria itu hanya terdiam dengan hidung yang sesekali mengendus perut istrinya.


"Kalo mau sarapan, ada di meja.Udah aku siapin, tapi aku harus berangkat, ada janji sama Sri untuk membuat menu baru bersama."Ujar nya pelan dengan telapak tangan yang terus mengusap kepala Zaydan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tunggu sebentar, aku masih mau seperti ini."Gumam Zaydan pelan namun masih bisa di dengar oleh Irma dengan jelas.


"Sayang kamu manja!"Ucap nya setelah mendekat kan bibir di daun telinga Zaydan.


"Masa sih, nggak ah,... cuma lagi mau deket kamu aja, bau nya enak."Sergah Zaydan, kemudian menghirup nafas nya dalam.


"Aku suka parfume kamu."Zaydan berujar.


"Ini minyak wangi yang biasa aku pake! kamu aneh Za, nggak biasa nya kaya gini."Irma tersenyum dengan mata yang terus memperhatikan Zaydan.


Mata sayu Zaydan terbuka, kemudian beralih menatap wajah wanita yang sedang memangku kepala dengan elusan pelan yang tidak pernha berhenti.


"Iya, aku juga ngerasa diri aku aneh.Cape, ngantuk, badan pegel-pegel.Sama,... rasa nya pengen di deket kamu terus."Ungkap nya jujur.


"Tidur lagi saja kalau masih ngantuk, aku berangkat, janji sebentar ko."Cicit Irma.


Zaydan langsung menggeleng kan kepala nya, bangkit lalu menyugar beberapa kali rambut nya yang terlihat acak-acakan.

__ADS_1


"Tunggu aku mandi, kita berangkat bersama.Sudah dari Toko kita pantau Ruko sebentar."Kata Zaydan sambil tersenyum.


—Cupp..


"I love you!"Kemudian beranjak turun dari tempat tidur setelah mencium bibir Irma, dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Beberapa menit Irma menunggu sambil memain kan game di ponsel nya.


Akhinya Zaydan selesai, pria itu keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilik di pinggang nya, hingga nampak jelas perut kotak-kotak milik Zaydan.


"Sayang ambilin baju!"Titah Zaydan kepada istrinya.


Irma mengangguk, lalu segera berjalan ke arah lemari pakaian yang berada di kamar nya.


"Jeasn atau celana bahan?"Tanya Irma.


"Jeans!"Sahut Zaydan.


"Kemeja atau kaos?"


"Kaos saja."Pinta nya lalu di angguki Irma.


"Ini,... aku bekal sarapan nya dulu!"Irma meletakan pakaian untuk suaminya.


"Terimakasih sayang."Zaydan tersenyum.


^


^


"Ayo!"Zaydan merentangkan tangan nya, kemudian di raih Irma dan jalan bersamaan ke arah dalam.


"Assala'mualaikum,?"Ucap Irma bersamaan dengan Zaydan.


Fina dan Nur yang sedang menata beberapa kue di dalam etalase pun menoleh, sampai pandangan bos dan anak buah nya itu bertemu.


"Kemana aja nih?!"Tanya Nur sambil tersenyum.


"Kemarin ke Bandung, nengokin ayah sama bunda mertua ku."Sahut Irma.


"Saya ke dalam dulu yah!"Pamit nya kemudian berjalan masuk kedalan ruangan belakang, yang tak lain adalah ruangan Irma dan pantry.


"Sayang kamu tunggu di ruangan aku yah! aku bantuin bikin desert dulu."Titah nya."Sama tolong bawa tas aku yah."Irma memberikan tas kecil milik nya kepada Zaydan sambil tersenyum.

__ADS_1


Zaydan menekan handle pintu ruangan yang masih tertutup, masuk perlahan kemudianduduk di sofa kecil yang berada di sana dengan pintu yang di biarkan terbuka.


Pandangan nya terus menatap sekitar, ruangan bercat putih dengan setiap barang yang tertata sangat rapih.


Zaydan bangkit dari duduk nya, ketika melihat sebuah pigura kecil yang terhalang oleh vas bunga berukusan sedikit besar.


Tangan Zaydan meraih benda tersebut, namun ketika melihat nya Zaydan sangat terlihat kaget dengan mata yang membulat sempurna.


Benda kota, berukuran kecil yang sudah di penuhi banyak debu berisikan foto dirinya yang mungkin Irma ambil diam-diam saat itu, nampak jelas dari ke jauhan Zaydan yang tengah tersenyum dengan pandangan mata yang enatah menatap ke arah mana.


"Dasar bucin!"Ledek nya kemudian meletakan benda itu kembali pada tempat nya.


^


^


"Janji cuma sebentar yah?!"Tegas Irma setelah kedua nya sampai di mana Ruko bakmie milik keluarga suaminya.


"Iya, cuma cek bahan-bahan sama pembukuan kalo teteh belum periksa itu juga."Kata Zaydan kemudian di angguki Irma.


Seperti biasa, Zaydan selalu turun dari mobil terlebih dulu, namun pria itu selalu menunggu nya sambil mengulur kan tangan, untuk Irma terima dan memautkan jemari nya satu sama lain.


Kedua nya terus berjalan saling bergandengan tangan, sampai kedua nya masuk, ada satu pasang mata yang menatap ke arah Irma lekat, kemudian turun ke arah tangan.


Mata nya kenapa kali! gumam Irma dalam hati ketika menatap Tania yang selalu memperhatikan nya.


"Gimana pekerjaan kalian?"Tanya Zaydan pada karyawati yang duduk di meja kasir, siapa lagi kalo bukan Tania, gadis berusia dua puluh tahun yang selalu memandang Zaydan beda dari yang lain.


"Baik pak, semua nya sudah bu Ataya urus!"Jelas nya tersenyum.


Dih centil!


Irma menatap nya jengah, dengan satu alis yang terangkat.


"Pembukuan juga?"Tanya Zaydan.


"Iya, sudah pak."Jawab nya kembali.


Zaydan mengangguk, kemudian berjalan ke arah belakang untuk memantau dapur dengan tangan yang terus menggenggam tangan Irma.


Apa istimewa nya sih yang lebih tua, jelas-jelas yang lebih muda di depan mata.


Mata nya mendelik, lalu kembali duduk di kursi nya dengan umpatan di dalam hati Tania.

__ADS_1


...TBC🌿🌿🌿...


...Jangan lupa! like, vote, tips, komen, dan dukungan lain nya......


__ADS_2