Happily Ever After

Happily Ever After
Mulai membaik.


__ADS_3

Satu minggu sudah Zaydan melakukan rawat inap di Rumah Sakit Anugrah Bersama, kini adik laki-laki dari Ataya itu sedang bersiap untuk segera pulang, di bantu oleh Aisyah dan Ataya mengemas semua barang milik nya.


"Ayah nya Rani telepon ayah tadi!"Kata Aisyah lalu menatap Zaydan.


Ataya yang sedang membantu mengemas barang-barang pun sesaat terhenti lalu menatap Aisyah.


"Ngomongin apa?"Ataya penasaran.


"Kata nya pertungan Zaydan sama Rani di batal kan saja, Rani sudah menjadi tersangka dan sudah mulai menjalani hukuman nya hari ini."Jelas Aisyah.


Ataya dan Zaydan hanya saling menatap, kedua nya bungkam ketika mendengar kabar tersebut.


Aku tahu ini jahat, tapi jujur saja aku senang ketika ayah Rani sudah terlebih dulu membatalkan hubungan antara aku dan anak nya.Ucap Zaydan dalam hati.


"Untung aja Irma nggak bawa kejadian itu ke jalur hukum, coba aja kalo di laporin pasal berlapis tuh.Dari ugal-ugalan sampai menghilang kan dua nyawa, terus percobaan pembunuhan."Sindir Ataya.


"Teh, kalo udah selesai hayu kita pulang! Zaydan udah nggak betah ada disini."Kata Zaydan kepada kaka prempuan nya.


Ataya mengangguk, lalu berjalan ke arah Zaydan dan menberikan kruk untuk membantu nya berjalan.


"Hati-hati! bisa nggak nih?"Ataya sedikit ragu melihat ke adaan Zaydan yang masih kaku dan belum terbiasa menggunakan kruk.


"Jadi ke adaan Irma sekarang gimana?"Aisyah menatap Zaydan yang sudah berdiri di hadapan nya.


"Nggak gimana-gimana bun! kenapa? mau nyalahin Irma juga, kalo Irma yang bikin Rani marah terus bawa mobil nya ugal-ugalan sampe newasin dua orang?!"Zaydan berujar pelan.


"Nggak, bunda ko ngerasa nggak enak yah!"Jujur nya kepada Zaydan.


"Zaydan juga ngerasa nggak enak, niat nya baik mau jengukin Zaydan, datang nya sehat wal'afiat eh pulang nya tulang leher Irma hampir patah."


"Kita bahas di rumah, sekarang kita pulang dulu."Ajak Ataya lalu membopong tubuh adik nya perlahan.


^


^


^


"Tunggu, teteh panggil abang dulu!"Ataya lansung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah untuk memanggil suaminya.


"Pah!"Panggil Ataya.


"Papah!"


Ceklek..


Ibra keluar dari kamar kedua anak nya.


"Sudah sampai?"Tanya Ibra lalu berjalan ke arah Ataya untuk segera membantu Zaydan.


Zio dan Luna pun ikut keluar, tubuh kecil nya ikut berlari menyusul ayah dan ibu nya yang sedang berjalan ke luar.


"Yee...uncle Za pulang!"Teriak Aluna ketika melihat Zaydan menuruni mobil secara perlahan.


"Eh..eh..eh.jangan dulu! kaki uncle nya masih sakit."Jelas Ataya kepada Luna dan Zio yang akan segera menghambur pada Zaydan.


Zaydan hanya tersenyum kepada dua keponakan nya, lalu berjalan pelan sambil terus berpegangan kepada Ibra.


"Ayah belum pulang?"Aisyah bertanya pada menantu nya.


"Belum bun, kaya nya sebentar lagi."Jawab Ibra.

__ADS_1


"Ayah kemana emang bang?"Tanya Zaydan.


"Ketemu sama ayah nya Rani, mau bahas soal hubungan kalian."Jelas nya.


Zaydan mengangguk, lalu kembali fokus berjalan sambil terus berpegangan kepada Ibra.


Setelah Zaydan duduk di sofa ruang tengah, kedua anak kecil itu terus mendekat, mengajak bercanda dan terus meminta Zaydan untuk menemani kedua nya bermain.


"Kaki uncle sakit?"Tanya Zio berbisik.


Zaydan pun menatap Zio sambil tersenyum lalu menganggukan kepala.


"Tapi nggak berdarah!"Bisik Zio kembali.


"Iya tapi kaki uncle emang beneran sakit ka! makanya jalan uncle pakai tongkat."Jelas Zaydan pada putra sulung Ataya.


"Coba di buka perban nya!"Cicit Luna yang tidak percaya.


"Hey kalian ini kenapa? om nya lagi sakit juga! main sama papah aja gih, ajakain biar nggak ngurusin kerjaan mulu."Ataya muncul tiba-tiba dari arah dapur.


Zio lansung mengangguk, lalu beralih menatap pintu ruang kerja Ibra dan lansung berjalan mengahampiri nya.


"Ade mau main barbie mah."Renget Luna.


"Iya boleh, mama mau anter dulu om ke kamar belakang yah."Ujar Ataya lalu di angguki putrinya.


"Zaydan ayok, kamar nya udah rapih, kamu bisa istirahat sekarang."Zaydan langsung mengulur kan tangan nya kepada Ataya.


"Berat banget si kamu!"Cicit Ataya ketika menarik tangan Zaydan.


"Mohon bersabar, cuma tiga bulan teh, nanti udah bisa jalan mah nggak minta di bopong terus ko."Zaydan tersenyum.


^


^


"Aduh!! obat nya bikin gw jadi tepar mulu."Gumam Irma.


Tangan Irma lansung merogoh ponsel milik nya yang terletak di atas nakas.


—Klik..


Kunci layar terbuka, ada beberapa pesan masuk yang belum Irma baca, yaitu dari Iqbaal dan Zaydan.


‐Irma! begitulah isi pesan dari Iqbaal.


Namun Irma seolah kurang berminat untuk saling berkirim pesan dengan teman masa SMA nya itu, sampai Irma terus mengabaikan pesan dari Iqbaal dan beralin melihat pesan yang di kirim Zaydan untuk dirinya.


‐Sayang!


-Gimana ke adaan leher kamu?


-Apa masih sakit?


-Aku sudah pulang, nanti kalau sudah bisa jalan akau jengukin kamu💜.


Irma tersenyum, akhir-akhir ini Zaydan selalu mengisi hati nya yang terasa kosong, apalagi pria itu sudah terus menerus memanggil nya dengan sebutan sayang.


^^^Aku udah baikan Za🥰^^^


Balas Irma, lalu meletakan ponsel di sebelah nya.

__ADS_1


Drttt...


Panggilan masuk.


"Zaydan!"Gumam Irma tersenyum lalu menggeser tombol hijau ke atas.


📞:Assalamu'alaikum cantik!


‐Wa'alaikumusalam, ganteng.


Irma dan Zaydan pun tertawa.


📞:Aku kangen kamu.Nggak ada niatan buat nengok aku ke rumah mama nya Zio nih?


-Kapan-kapan yah! aku nggak enak sama bunda.


📞Jangan takut sama bunda, dia juga makan nasi.


-Iya aku tau, tapi belum siap aja!


📞Aku sembuh, kita temuin bunda bareng-bareng.


-Kamu udah telepon orang tua nya Rani?


📞:Belum.


-Kenapa?


📞:Nggak kenapa-kenapa, pengen nya nelpon kamu!.


-Oh ya?


📞:He'em.


-Kaki nya gimana?


📞:Tinggal nunggu pulih, kenapa? udah kangen yah?


-Ge'er sekali anda!


📞:Sayang!


-Hemm.


📞:Love you.


-Too😊


Cukup lama mereka berbicara dari sambungan telepon, akhirnya terputus setelah Irma pamit untuk pergi ke kamar mandi.


Sebelum ia benar-benar pergi ke kamar mandi, Irma terlihat memandang lurus langit-lagit kamar nya, memikir kan sesuatu untuk masa depan nya bersama Zaydan.


Ada rasa ingin segera menyempurnakan hubungan nya, namun lagi-lagi dirinya di buat takut dengan restu Aisyah yang menurut nya sudah susah untuk di dapat kan.


"Ya allah, permudahkan lah semua nya, sekarang aku yakin dia adalah pria baik yang akan menuntun ku sampai jannah mu."Lirih Irma.


Perlahan Irma bangun, mendudukan tubuh nya di sisi ranjang dan mulai beranjak pergi menuju kamar mandi.


...Bersambung......


...Jangan lupa! like, vote, komen, dan follow....

__ADS_1


...Tips sama share juga yah, biar novel author makin berkembang....


...Apalah daya author yang hanya bubuk rangginang🤧...


__ADS_2