Happily Ever After

Happily Ever After
Pakai perasaan.


__ADS_3

^


^


"Sudah siap?"Tanya Zaydan yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan pakaian yang sudah terlihat rapih.


Irma yang tengah duduk di hadapan cermin pun mengangguk, menatap suaminya dari pantulan cermin lalu tersenyum.


Wanita itu berdiri, memandang dirinya sambil terus merapikan pakaian nya dari pantulan cermin.


"Sudah cantik!"Ucap Zaydan, kemudian mengusap perut Irma.


"Yasudah ayo berangkat."Ujar Irma, lalu membawa tas nya dan keluar dari kamar.


Melihat Irma yang sudah berjalan terlebih dulu, Zaydan segera beranjak, dan membawa sebuah map coklat berisikan berkas-berkas yang sudah di siap kan Zaydan untuk membuat laporan ke kantor polisi.


"Sayang itu apa?"Tanya Irma.


"Beberapa berkas dan rekaman cctv."Jawab nya sambil menutup pintu apartemen, lalu berjalan mendekati istrinya.


Tangan Zaydan meraih tekapak tangan Irma, berjalan beriringan menuju pintu lift yang tidak jauh dari unit milik kedua nya.


"Kamu beneran mau laporin Tania?"Irma kembali memulai obrolan nya.


"He'em, kamu juga kalau mau bikin laporan bisa!"Jelas Zaydan.


Irma terdiam, lalu mendongkak menatap Zayfan lekat.


"Kenapa?"Zaydan mengerutkan dahi.


"Em,...


Ting!


Mereka berdua kembali berjalan keluar, menuju basemen di mana mobil nya terpakir.


Zaydan berjalan ke arah sisi kiri, membukakan pintu untuk Irma, kemudian menutup nya setelah istrinya masuk.


–Brugh...


"Tadi apa yang mau kamu katakan?"Tanya Zaydan sambil memarkirkan mobil nya.


"Nggak jadi."Sahut nya.


Zaydan menoleh.


"Ada apa? bilang saja nggak usah di pendem sendiri!"Tegas nya.


Zaydan mulai memacu kecepatan mobil nya, terus fokus kepada jalanan sambil menunggu jawaban dari istrinya.


"Hey?!"Zaydan melirik sebentar.


"Emmm,...


"Bilang saja ada apa?"Zaydan terus mendesak.


Hila tersenyum canggung.


"Nggak jadi deh!"


"Dasar!"Ucap Zaydan.

__ADS_1


^


^


–Klek.


"Assalamu'alaikum,...


Ucap kedua nya bersamaan ketika masuk kedalam rumah Ataya.


Suara teriakan dan langkah kaki jelas terdengar, kemudian munculan Zio dan Aluna yang berlari dengan raut wajah sumringah nya ke arah Zaydan dan Irma lalu menghambur ke dalan pelukan Irma dan Zaydan yang baru saja datang.


"Uncle ayo main bola sama kaka!"Zio melompat-lompat.


Zaydan tersenyum, lalu menggendong Zio di punggung nya.


"Dede bayi,..dede bayi, ayo main sama kaka Luna."Luna membeo dengan tangan kecil yang terus mengusap perut Irma.


"Iya kaka Luna."Cicit Irma menyerupai suara Luna yang sedikit cempreng.


"Kalian ini kenapa? uncle sama aunty nya biar masuk sama duduk dulu!"Omel Ataya sambil berjalan ke arah ruang tamu.


Kedua anak itu menganguk, lalu berjalan bersamaan ke arah ruang tangah, dimana Ibra terlihat sedang duduk di sofa sambil menonton tayangan tv.


"Eh,..ada yang baru dateng!"Ibra menoleh.


"Jalan macet, maklum malam minggu anak muda pada mau mojok."Sahut Zaydan kemudian duduk di sofa berama istrinya.


"Mau ke kantor polisi kapan?"Tanya Ibra.


"Aku ikut abang ajalah, kurang faham juga aku."Tikas Zaydan.


"Lebih cepat lebih baik!"Timpal Ataya.


"Mah Luna mau main sama dede bayi!"Pinta gadis kecil dengan rambut panjang yang di kepang.


"Nanti yah, aunty nya masih cape, dede bayi nya juga masih bobo."Jelas Ataya pelan pada Luna."Kaka, mamah boleh minta tolong?"Ucap nya kepada Zio.


Anak laki-laki itu mengangguk.


"Tolong kasih tahu bibi ambil minum buat aunty sama uncle yah!"Ataya tersenyum.


"Iya mah."Zio mengangguk, lalu berjalan ke arah dapur.


"Luna main di kamar dulu gih, mama sama aunty mau ngobrol dulu."Titah Ataya.


"Tapi nanti main yah."Pinta nya.


Irma tersenyum lalu mengangguk.


Gadis kecil berparas cantik dengan wajah ayah nya yang mendominasi itu beranjak, berlari kecil ke arah kamar bermain nya bersama Zio.


"Jadi gimana hubungan kalian, baik-baik saja kan?"Tanya Ataya pelan.


"Baik teh, seperti yang teteh lihat."Sahut Irma.


"Masih mau ke pengadilan agama?"Ataya memelan kan suara nya


Irma menggeleng kan kepala.


"Baguslah, teteh takut kalian kenapa-kenapa, udah lama teteh nyuruh abang buat keluarin Tania, tapi abang juga bingung masa harus memberhentikan pekerja tampa sebab."Jelas Ataya.

__ADS_1


"Tenang saja, kita sudah urus semua dokumen dan tinggal menyerahkan nya ke kantor polisi."Sergah Ibra.


Irma terdiam, lalu melirik ke arah Zaydan.


"Kita jahat nggak sih kalo bikin Tania masuk penjara?"Ucap Tania.


"Nggak dong, dia yang jahat sama kamu."Jawab suaminya.


"Emm,..kaya nya abang nggak usah lanjutin ini deh."Pinta Irma.


"Kenapa?"Tanya Ibra.


"Kasian orang tua nya."Cicit Irma pelan.


Ibra menghela nafas nya pelan, lalu menyandar kan punggung nya di sandaran sofa.


"Wanita terlalu banyak memakai perasaan, kalian ini sama, sama-sama nggak tegaan padahal sama lawan sendiri!"Jelas Ibra sambil menatap Ataya yang duduk di samping nya.


"Ko aku!"Cicit Ataya.


"Semalem kamu bilang hal yang sama kaya Irma."Timpal Ibra.


Ataya langsung tersenyum.


"Iya tapi beneran kasian loh pah."


"Tapi aku tetep mau lanjutin, nggak ada pengecualian."Sergah Zaydan.


"Tentu, ternyata Luthfi dan yang lain juga tahu, sering ngingetin dia tapi, ya gitu tahu sendiri kecil-kecil kelakuan nya udah kaya gitu."Kata Ibra.


Semua nya terdiam ketika mendengar pernyataan Ibra yang cukup mengejutkan.


Lalu terdengarlah suara Zio yang mengoceh bersahutan dengan Santi.


"Maaf lama bu."Cicit nya.


Pandangan Ataya langsung melihat ke arah Zio yang membawa nampan berjalan pelan.


"Nggak apa-apa, biarin dia belajar."Jelas Ataya.


"Ini minum nya, kaka yang bikin loh!"Seru nya sambil meletakan dua gelas es jeruk di atas meja.


"Mbak ini nampan nya."Ucap Zio, lalu di raih oleh Santi dan segera kembali ke arah belakang.


Setelah meletakan minuman di atas meja, Zio langsung berlari ke kamar tempat nya bermain ketika mata nya tidak mendapat Luna di ruang tengah.


Ke empat orang dewasa itu terus berbincang, membahas banyakhal dari masalah Tania, membahas bisnis, dan investasi yang Zaydan lakukan di salah satu perusahaan milik ayah manta ke kasihnya.


"Kita makan dulu yuk, ngobrol nya nanti lagi saja."Ajak Ataya.


Irma mengangguk, kemudian segera bangkit untuk segera menyusul kaka ipar nya yang sudah berjalan terlebih dulu ke meja makan yang ada di dapur.


Pandang Irma berbinar, ketika melihat nasi liwet dan berbagai lauk khas masakan sunda.


Beberapa jenis ikan asin, tahu-tempe, sambel, lalapan dan masih banyak lagi.


"Selamat makan!"Ucap Ataya sambil tersenyum ke arah istri dari adik nya.


...TBC🌻🌻🌻...


...Jangan lupa di like.....

__ADS_1


...Lempar bunga⚘ sama kopi☕ juga yah.....


__ADS_2