Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Pernyataan yang menyesakan dada


__ADS_3

Sakit hati yang mendera, tak sanggup membuatku berkata lagi. Segera ku pinta Mas Ardi untuk mengantar kami pulang.


"Antar aku pulang Mas, kasihan si dede sudah ngantuk." aku beralasan pada suamiku.


"Ibu, Mas Adam nginep di tempat nenek boleh? besok kan mas ga ada sekolah online." Pinta putra sulungku, dengan sedikit memelas.


"Mas boleh nginep, tapi jangan nakal, jangan nyusahin Nenek. Mas jangan minta jajan terus ya, Mbah kan sudah gak kerja. Mainnya juga jangan jauh-jauh, inget waktu sholat ya Mas." Nasihat ku sambil ku usap rambut hitam tebal anak pertama kami. Tak lupa, ku kecup keningnya.


Aku ingin segera pulang, semua kekesalan yang aku rasa saat ini. Membuat ku tak bisa berlama-lama bermain dirumah orang tua mas Ardi selaku mertua ku. Sesampainya dirumah, mas Ardi langsung pergi lagi.


"Mau kemana lagi, kalau bukan ke rumah orang tuanya, mas Ardi tidak pernah bisa tinggal berlama-lama dirumah yang lebih pantas disebut gubuk ini"


Setelah menidurkan bayi ku, dalam keheningan malam rasa sakit itu muncul kembali. Terngiang jelas, ucapan Mas Ardi mengatakan.


"Aku sudah tidak mau bekerja lagi dek, Mas sudah cape. Kalau kamu mau, kamu saja yang bekerja!"

__ADS_1


Serasa sakit dada ini, kenapa sampai hati dia berucap demikian. Padahal, masih ada aku dan dua anak sebagai tanggungannya.


Anak pertamaku Adam, baru saja naik kelas dua. Sesudah liburan, aku harus membeli buku Lks sebagai panduan belajarnya. Satu paketnya, bisa berkisar dua ratus ribu lebih.


Semenjak Mas Ardi kena PHK dua tahun yang lalu, dia selalu menolak untuk mencari pekerjaan baru. Sudah banyak lowongan, yang ditawarkan padanya. Tapi dia tak pernah bergeming.


Sampai aku jengah, dan meminta bantuan ke dua mertuaku untuk membujuknya supaya, dia mau mengambil peluang itu.


Bukannya menurut, dia malah membuat pernyataan yang membuat bola mataku membulat. Aku terbelalak dan sakit di dada, mendengar penjelasannya.


"Aku sudah tak mau bekerja lagi dek, mas sudah cape. Kalau kamu mau kamu saja yang bekerja."


Bagaimana aku bisa menghadapi kehidupan kami kedepannya, selama Mas Ardi tidak bekerja kami dibantu orang tuanya untuk kebutuhan sehari - hari seperti beras dan sembako lainnya.


Itupun bila orang tuanya memiliki rezeki lebih.

__ADS_1


Tapi untuk biaya tak terduga seperti biaya sekolah, bayar iuran listrik, atau anak sakit aku tak berani mengeluh, meminjam atau meminta sekalipun.


" Ya Allah apa yang harus aku lakukan.."


ku seka air mata yang masih menganak sungai dipipi bohong kalau aku tidak sakit hati, bohong kalau aku tidak marah. Dengan alasan capek dia sama saja telah lepas tangan akan kehidupan kami.


Dia masih muda usia nya baru 35 tahun dibulan ini dan dia tidak mempunyai riwayat penyakit apapun.


Apa pantas dia memberikan alasan seperti itu.


Aku bisa saja mencari kerja, tapi bagaimana dengan bayiku Rasyid dia masih memerlukan ASI tapi bila aku tidak bekerja bagaimana aku bisa membiayai anak-anakku.


Andai aku tidak punya bayi, mungkin aku sudah kesana kemari mencari pekerjaan apapun itu selagi itu masih halal.


Dalam kalut aku menerawang ke atas melihat tali tambang bekas ayunan Rasyid yg sudah tak terpakai lagi.

__ADS_1


Tali tambang itu menjuntai seolah melambai dan berkata.


" Akhiri saja hidupmu, dunia ini terlalu kejam. Bahkan suamimu saya sudah tak perduli dengan kalian."


__ADS_2