
"Tampan" gumam Tari yang terdengar jelas ditelinga ku saat kami duduk bersebelahan.
Teringat akan gumaman Tari saat pertama kali melihat Husein, membuat ku semakin insecure berada disekitarnya, semua yang ada disekeliling Husein tampak sempurna, harusnya aku memberi jarak agar rasa ini tidak selalu menghantui.
"Seharusnya Husein menjalin hubungan dengan wanita seusia Tari yang masih muda dan cantik, bukan keras kepala menginginkan aku yang sudah emak - emak" Aku terkekeh menertawakan diri sendiri.
"Sedang menertawakan apa?" Kak Evan menghampiri ku yang sedang duduk di ayunan rotan berbentuk telur menggantung.
"Sedang menertawakan status teman di media sosial Kak" jawab ku asal.
Evan merebut handphone dalam genggaman dan membaca status media sosial yang tertera dilayar benda pipih tersebut.
"Kau aneh sekali kenapa menertawakan seseorang yang sedang patah hati? apa kau menyukai lelaki temanmu itu" Tanya nya heran
"Apa?!" Ku baca kembali layar ponsel ku dan ternyata benar disana ada seorang wanita teman didunia maya yang sedang patah hati mengisahkan ceritanya dengan aksen hiperbola.
"Ah itu, aku menertawakannya karena dia sering kali dikecewakan dan setiap kali dikecewakan dia selalu menulis status yang menyedihkan, bukankah dia seharusnya belajar dari kekecewaan sebelumnya dan mencoba melupakan kekasih yang selalu menyakitinya itu" karangku bebas panjang lebar.
"Kau benar juga, tapi mungkin dia terlalu cinta" ujar Kak Evan mengangguk - anggukan kepalanya.
"Mungkin seperti itu" jawab ku dengan cengengesan, bisa kita akhiri saja mengibah orang yang tidak aku kenal, sejujurnya aku hanya malu jika ada yang mengetahui aku sedang memikirkan Husein.
"Bagaimana pekerjaanmu?!" tanya Kak Evan duduk di kursi disamping ku, kami sedang berada di balkon kamar ku yang menatap langsung ke arah matahari terbit cahaya dan sinar hangat nya membuatku nyaman dan betah berlama - lama dalam sangkar telur ini.
"Semua baik, Bapak menitipkan salam untuk mu" ujarnya menatap wajah ku.
"Apa katanya?" tanya ku tanpa mengalihkan pandangan dari sorotan cahaya matahari pagi ini.
"Aku menyayangimu" jawabnya dengan raut wajah datar menatap ku.
"Apa?!" mata ku membulat dengan mulut sedikit terbuka, ini ke dua kalinya Kak Evan menyatakan cinta secara tidak langsung dan aku masih saja dibuat terkejut dengan ucapannya.
"Itu yang Bapak katakan" jawabnya sedikit canggung dengan senyum yang dia perlihatkan.
"Oh" aku hanya beroh ria menjawab ucapannya.
__ADS_1
"Kau betah tinggal disini?" Tanya nya seperti mencairkan suasana yang sempat membuat kami terdiam beberapa saat.
"Karena masih lingkungan kampung halaman ku, aku menyukainya" jawab ku tersenyum senang.
"Syukurlah, kau bisa menetap selama kau mau" jawabnya seolah senang.
"Kenapa?" tanya ku.
"Ah tidak, aku dengar Tuan Husein ada di kota ini, apa kau sudah berjumpa dengannya?" pertanyaan Kak Evan sontak membuat senyum manis ku menghilang.
"Sudah, pria menyebalkan itu selalu menghantui ku" ucap ku geram
"Kenapa? apa dia mengganggu mu? Apa kau memerlukan bantuan ku?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut manis Kak Evan, pendapat perhatian kecil seperti itu membuatku menghangat, dulu aku selalu seorang diri sekarang banyak orang yang menyayangi.
"Hahahaha.. dia bukan parasit jadi aku bisa menanganinya" aku terkekeh meliat perhatian Kak Evan bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya melainkan seorang pacar yang sedang cemburu.
"Apa hari ini kau ada waktu senggang?" Ujar Kak Evan beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa? seharian ini aku tidak ada janji dengan siapa pun" jawab ku, seharian ini memang tidak ada orang yang memakai jasa ku, dan ini terasa sedikit membosankan jika harus menghabiskan waktu sepanjang hari dirumah saja.
"Baiklah kalau kau memaksa" jawab ku senang beranjak dari ayunan dan menghampirinya.
"Cih, kau juga menginginkannya" ucapnya sebal
"Hahahahahaha..." aku tertawa terbahak - bahak melihat raut mukanya, lucu.
Kami berempat menaiki mobil Kak Evan kearah taman kota, menurutnya disana ada taman bermain dengan banyak pilihan permainan untuk anak - anak dan dewasa.
Bila dilihat - lihat kami seperti keluarga berencana yang bahagia dengan dua anak yang menggemaskan, Ibu dan Bapak tidak tinggal bersama ku mereka kembali ke kota Bandung untuk mengurus sawah dan ladang mereka.
Kak Evan sesekali mampir dan menginap dirumah yang Bapak sewakan untuk sementara waktu ini.
Mobil menepi diparkiran taman, Aku melihat ramai orang lalu - lalang bermain bercanda tawa dengan orang yang mereka kasihi.
Kami memilih permainan komidi putar Rasyid sangat antusias menaiki patung kuda berwarna putih, Adam dan Rasyid menaiki kuda yang sama, Adam takut jika Rasyid menaikinya sendirian dan terjatuh, mereka sangat manis jika kakak yang selalu ingin melindungi adiknya terpancar jelas dalam diri Adam.
__ADS_1
Aku dan Kak Evan duduk di bangku taman yang mengarah langsung pada komidi putar.
"Indri boleh aku bertanya?" ujar Kak Evan saat kami sama - sama memperhatikan bagaimana komidi putar itu dijalankan.
"Apa?" tanya ku menatap wajahnya hingga pandangan mata kami bersiborok.
"Apa kau punya cita - cita yang ingin kau gapai untuk saat ini?" ujarnya penasaran
"Aku bercita - cita ingin memiliki salon sambil terus mengasah kemampuanku, lama berdiam diri akan menumpulkan ilmu yang aku dapat" ucapku dengan terkekeh pelan.
"Cih, dugaannya ternyata benar" gumamnya yang masih jelas terdengar oleh ku.
"Apa?!" tanya ku penasaran
"Tidak, tidak apa - apa" jawab Evan memberikan senyuman manis.
"Mau membeli sesuatu?" tanya nya lagi.
"Aku ingin gula kapas" jawab ku menunjuk seorang penjual gula yang sudah terbungkus warna - warni tak jauh dari tempat duduk kami.
"Mau aku belikan?" tanya nya pada ku.
"Oh kakak ku baik sekali" ucap ku memuji dengan raut muka senang dan senyum manis
"Andai kita tidak dipertemukan sebagai saudara" ujarnya, keramaian disini sesaat menjadi sepi ku rasa saat Kak Evan secara tidak langsung mengutarakan perasaannya.
"Evan, jangan seperti ini aku sangat bahagia bisa memiliki mu sebagai saudara jangan buat aku merasa sedih karena kekecewaan mu terhadap takdir" aku memandang wajah gagah dan tampan dihadapanku ku tatap matanya tampak seperti seorang anak yang berharap sesuatu.
"Maaf" ucapnya lirih.
Aku meraih tangannya dan menautkan jari jemari ku di jari jemarinya genggam erat ku berikan sebagai penguat hatinya yang sedang dilanda kesedihan.
"A- apa yang kau lakukan" ucapnya terbata terkejut dengan perlakuanku.
"Aku mungkin tidak bisa menjadi pendampingmu tapi aku akan selalu menjadi gadis kecil yang ada saat kau butuhkan" ujar ku memberi kenyamanan yang dia butuhkan.
__ADS_1
"Terima kasih, aku pun akan melakukan hal yang sama" Kak Evan tersenyum menatap wajahku.