
Aku mengajak Ummi.kesebuah Cafe ditengah pinggiran kota dengan suasana taman yang asri, setelah memesan minuman kini rasa tegang menyelimuti diriku.
Kami berhadapan saling bertatap tanpa tau apa yang akan terjadi selanjutnya, semilir angin disore itu membuat hawa dingin terasa seperti tusukan tajam yang menghujam badan.
"Um-mi, bagaimana kabar Husein?" Aku memberanikan diri membuka suara dahulu setelah kecanggungan yang cukup lama.
"Apa yang ingin kau dengar?" Tanya Ummi datar
"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Ummi lagi dengan gigi gemeletuk dan rahang yang mengeras menahan amarah.
Aku hanya terdiam, aku tidak mau Ummi juga mengetahui dibalik keputusanku meninggalkan Husein saat itu, bukan tak mau disalahkan tapi aku tak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu Husein dan mengetahui bagaimana kabarnya meski untuk yang terakhir kali.
"Belum cukup puaskah kau menyakitinya, jika memang kau tidak bisa menyambut rasa cintanya setidaknya jangan sakiti dia" ujar Ummi menatap ku tajam.
"Apa kau tau saat dia menjalani pendidikan di Kairo dia mengalami depresi karena mu? dia bahkan harus dipindahkan ke Istanbul Turki untuk mendapatkan perawatan khusus karena depresi yang dia rasakan juga untuk menghilangkan jejak jika suatu saat dia harus menanggung malu?" bibirnya bergetar saat menceritakan semua kepahitan yang sudah Husein rasakan kedua mata itu sudah berkaca - kaca dan memerah.
"Um-mi.." ucap ku lirih terbata, aku tak tau harus mulai berbicara dari mana saat Ummi terus melontarkan panah - panah tajam yang membuat kedua mata ku membulat terkejut tak percaya juga semakin jatuh terluka karena rasa salah.
"Tolong jangan sakiti Husein lagi, hanya tingal dia yang Ummi miliki setelah kepergian Hasan dia terlalu banyak menanggung beban dan harapan kakeknya" ucap Ummi tersedu -sedu diiringi tangis, air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya luruh juga.
"Ummi tidak bisa menyaksikan dia terus menderita seperti ini, Ummi tidak sanggup lagi Indri" ucap Ummi lirih terisak - isak menangis meski kedua tangannya sudah dia pakai untuk menutupi raut wajahnya yang memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Ummi.." ku raih ke dua tangannya berharap dia bisa tenang dan bisa sedikit mendengarkan ucapan ku.
"Jika memang Husein tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pendampingmu, tolong jangan beri dia harapan jauhi dia, hindari dia meski kalian tak sengaja berpapasan, anggap kau tidak pernah menggenalnya" Ummi membuka kedua telapak tangannya yang menutup wajahnya, dia menghapus sisa air mata yang masih berjatuhan menganak sungai di kedua pipinya.
"Husein terlalu lemah akan cinta masa kecilnya, bila dia terus seperti ini jangankan membuka hati menjalin hubungan dengan wanita lain, untuk bertahan hidup saja tidak mungkin" ujar Ummi melemah, disini aku terlihat sangat bod*h kenapa aku bisa menyakiti pria berhati tulus itu.
"Indri lelaki mungkin terlihat kuat saat melakukan apapun tapi tidak dengan kegagalan dalam cintanya, mereka jauh lebih rapuh dari pada kita kaum wanita, mereka akan hancur saat cinta tulusnya tak tersambut apalagi mendapatkan kekecewaan" Ummi mulai melunai dan mau berbicara seperti biasanya.
__ADS_1
"Jadi tolong jauhi Husein" ujarnya lagi.
Jauhi Husein?
Setelah rasa bersalah ini dan menyadari rasa cinta tulus Husein yang begitu besar terhadap ku apa bisa aku meninggalkannya, aku memang merasa tidak pantas jika menjadi pendampingnya tapi tak bisakah kita berteman atau bersahabat, aku tak ingin melepaskannya seperti ini.
"Um-mi, aku akan menjauhinya sesuai permintaan Ummi tapi ijinkan aku menemuinya meski untuk yang terakhir kalinya" melihat Ummi yang memohon, akhirnya kalimat inilah yang keluar dari mulut ku, meski rasa sesak itu begitu terasa tapi aku memang tak pantas bisa berdekatan dengan Husein dia diatas kata baik, dia terlalu sempurna.
"Baiklah, tapi jangan pernah mengingkari janjimu" ujar Ummi menegaskan.
"Aku janji Ummi" jawab ku menganggukan kepala.
Selepas perbincangan kami di caffe, Ummi membawa ku kerumahnya, rumah yang semasa aku remaja menjadi tempat bermain dan belajar bersama dengan sikembar Hasan dan Husein.
Bangunan ini masih kokoh dengan warna cat dan perabot yang masih sama saat aku remaja tak ada yang berubah, aku serasa melewati lorong waktu kembali ke masa - masa saat kami selalu bersama.
"Duduklah, Ummi akan melihat keadaan Husein dahulu" ujar Ummisaat kami berada diruang tengah rumah ini.
Ummi menaiki tangga lalu berjalan menuju kamar Husein, aku berjalan perlahan mendekati meja hias ruang tamu yang menempel pada dinding.
Disana terdapat foto - foto si kembar, mulai dari mereka dilahirkan, balita, anak - anak hingga remaja saat mereka pertama kali memasuki Sekolah Menengah Atas.
Seulas senyum indah pun tercipta saat aku mengingat masa - masa itu, masa dimana kami tidak memiliki beban hidup, tekanan terberat saat itu hanya ujian bukan bagaimana rasanya gas, beras dan listrik habis bersamaan.
"Indri" sapa Ummi dari belakang tubuh ku.
"Ah iya Ummi, ada apa?" ujar ku terkejut
"Ikutlah sebentar" ajak Ummi berbalik dan mulai meninggalkan ku.
__ADS_1
Aku tiba di sebuah ruangan dengan dipenuhi buku - buku yang berjejer rapi dalam rak, ruangan ini seperti perpustakaan mini.
"Indri kenalkan ini Dokter Aslan, dialah yang selama ini menangani Husein saat di Istanbul" ujar Ummi memperkenalkan lelaki putih tinggi tegap, sedikit jambang yang membuat kesan menarik dengan postur tubuh orang luar.
"Saya Indri" ucap ku mengenalkan diri tanpa memberikan uluran tangannya untuk berjabat.
"Aslan" Jawab nya dengan senyum manis.
"Akhirnya saya berjumpa juga dengan anda" Ujarnya dengan tawa terkekeh.
"Ada yang ingin Dokter Aslan sampaikan" ucap Ummi datar seperti kurang nyaman saat Dokter Aslan terus menatap ku dengan senyum diwajahnya.
"Nona Indri ini menyangkut kesehatan Tuan muda, selama ini saya belum pernah menemukan kasus rumit seperti yang diderita Tuan muda, saya memang menyarankan Tuan muda untuk mengiklaskan orang atau sebab yang membuatnya merasa tertekan dan lebih baiknya lagi jika rasa tertekan itu bisa dia hadapi dengan begitu maka perlahan dia akan terbiasa dan rasa itu akan berkurang dengan sendirinya" ujar Dokter Aslan panjang lebar menjelaskan.
"Lantas apa?" Tanya ku penasaran.
"Biasanya pasien akan menolak jika saya sarankan seperti itu, karena rasa yang tertekan akan membuat mereka terjatuh lebih dalam lagi, tapi melihat kasus Tuan muda dia malah lebih bersemangat setiap kali bertemu dengan anda meski penyebab dari semua ini adalah anda" Jelas Dokter Aslan memberitahukan keheranannya.
" Apa ini kabar baik?" Tanya Ummi dia begitu khawatir.
"Ya seharusnya seperti itu, saya harap Nona bisa membantu merawat Tuan saat keterpurukan Tuan Husein kembali dia rasakan,tapi jangan memberi harapan yang bisa membuatnya terpuruk kembali, jadikan dia teman dan pasien anda" Ucap Dokter membuatku tersadar kembali dengan semua dosa yang ku lakukan.
"Tapi.." Ujar ku meragu, aku takut menyakitinya lagi.
"Saya memang belum yakin tapi saya rasa hadirnya Nona seperti bukan penyebab dan ancaman bagi Tuan muda" Ujar Dokter Aslan menyakinkan.
"Baik Dokter saya bersedia" ucap ku meski masih meragu.
"Sekarang masuklah ke kamarnya ajaklah dia berbincang, ingatkan dia makan dan jangan lupa dengan obatnya" ucap Dokter mengintruksikan ku untuk memasuki kamar Husein.
__ADS_1
"Baik Dokter" jawab ku perlahan berlalu pergi.