Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Pewaris Tunggal


__ADS_3

Setengah tahun aku mendekam dibalik bilik rumah sakit jiwa, Büyükbaba bahkan tidak pernah bertegur sapa secara langsung dengan ku, dia memang sering datang dan menanyakan kesehatan ku pada Dokter Aslan, tapi tidak untuk menemuiku secara langsung.


Jujur aku sangat sakit hati terhadap semua keluarga ku terutama Büyükbaba, dia yang menginginkan aku menempuh pendidikan di Kairo dan meneruskan kerajaan bisnisnya disana, tapi saat aku seperti ini dia tidak mau merawat ku, saat aku membutuhkan sosok keluarga disisiku, bahkan Ummi dan Abi tak pernah dia ijinkan menjenguk saat mengetahui aku sakit disini.


Ini semua karena perjanjian yang Ummi dan Abi buat, dulu saat Ummi masih remaja Büyükbaba menginginkan Ummi untuk menjadi pemimpin di perusahaan yang Büyükbaba rintis sejak awal.


Saat itu Ummi menyanggupinya karena memang dialah anak semata wayangnya, hingga sampai saat Ummi bertemu dengan Abi, melihat kesungguhan Abi Ummi bersedia menikah diusia muda, saat itu Ummi berusia 25 tahun, Büyükbaba mendengar Ummi akan dipersunting orang tentu saja beliau marah.


Büyükbaba tidak memberikan restu dan mengusir Ummi dari mansionnya, hingga akhirnya hati Büyükbaba melunak saat mengetahui Ummi melahirkan kami, Hasan Dan aku.


Büyükbaba meminta salah satu cucunya menjadi pewaris, meneruskan kerajaan bisnisnya di Kairo, melihat kami beranjak dewasa Büyükbaba menjatuhkan pilihan pada Hasan yang cakap dan pintar, hingga kejadian itu terjadi.


Kejadian dimana Hasan menyelamatkan Indri dari kecelakaan dan dirinya tak tertolong, kini jadilah aku yang harus menjadi pengganti Hasan, mengurusi kerajaan bisnis yang selalu menjadi kebanggan Büyükbaba.


"Tuan bagaimana kondisi anda saat ini?" Sapa Dokter Aslan saat berkunjung menemuiku yang sedang duduk melamun diatas ranjang memeluk kedua lututku.


"Aku sudah bisa tidur nyenyak tanpa bantuan obat, rasa cemas juga sudah mulai menghilang" Ujar ku diakhiri dengan senyuman tipis, hanya dia yang bisa aku percaya untuk saat ini, Dokter Aslan menjelma seperti sahabat yang selalu mau menerima keluh kesahku.


"Apa rasa sakit dikepala masih sering Tuan rasakan?" Tanya nya lagi dengan menatap cacatan medis yang ada ditangan kirinya.


"Hanya saat bangun tidur saja" ucap ku singkat menjelaskan.


"Apa itu mengganggu?" Tanyanya lagi memastikan.

__ADS_1


"Ah tidak" jawabku dengan diiringi gelengan kepala.


"Dua hari lagi Tuan akan melakukan serangkaian tes untuk mengetahui kondisi Tuan, jika hasilnya bagus Tuan bisa meninggalkan rumah sakit akhir minggu ini" Ujarnya menjelaskan.


"Terima kasih Dokter Aslan" ujar ku ada kebahagiaan tersendiri saat mengetahui bahwa aku akan segera dianggap sehat.


"Baiklah saya pamit dulu, silahkan beristirahat kembali Tuan" ujar Dokter Aslan pamit berlalu meninggalkan ruang rawat ku.


Minggu ini aku pastikan keluar dari tempat ini, aku tidak menyesal pernah mendekam di kamar ini, setidaknya aku tau bagaimana orang - orang disekitar ku bersikap saat aku kesusahan.


Indri luka yang kau berikan terlampau menyakitkan bisakah aku membencimu? akankah saat kita bertemu kembali aku mampu memalingkan wajah ku untuk tidak menatap mata indahmu?


Membenci saja tidak bisa, bagaimana mungkin aku mampu melupakanmu? terlalu besarnya rasa ini membuatku sakit sendiri.


Hari menentukan itupun tiba, serangkaian tes telah Dokter Aslan dipersiapkan, dimulai dari sesi tanya jawab tertulis tes medis.


Dokter Aslan menatapku heran, seperti ada kekhawatiran saat aku melihat raut wajahnya, aku hanya berdoa apapun itu semoga menjadi pilihan yang terbaik untuk ku.


Kini kami duduk berhadapan dengan meja kerja sebagai pembatasnya, Dokter Aslan menatap lembaran kertas pada sebuah map yang tertera nama lengkap ku.


"Tuan Husein, berdasarkan hasil pemeriksaan anda bisa kami nyatakan sehat tapi.." ujar Dokter Aslan ragu - ragu, saat dia menjelaskan hasil trs yang telah dilakukan.


"Apa?" Ucap Husein memotong karena penasaran

__ADS_1


"Tapi gejala serupa akan terjadi kembali jika anda mengalami tekanan perasaan kecewa atau kesedihan terlampau dalam" Ucap Dokter Aslan menatap sedih diriku.


"Jadi suatu saat saya bisa dibilang akan kambuh lagi seperti itu?" ucap ku menegaskan pernyataan Dokter Aslan.


"Mulai sekarang belajarlah untuk melepas kesedihan itu, dengan seperti itu saya rasa beban dalam diri Tuan tidak akan menjadi sedikit lebih ringan dan Tuan tidak akan mengalami hal semacam ini lagi" ucap Dokter Aslan menyakinkan.


"Dengan cara apa?" Tanya Husein penasaran


"Menghadapi ketakutan itu sendiri, mungkin terdengar menyeramkan tapi jika ketakutan itu bisa Tuan kontrol maka kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali dimasa depan" ucap Dokter Aslan menyakinkan.


Penyembuhan dari diri sendiri hal yang harus bisa aku lakukan, dengan begitu aku akan benar - benar dianggap sehat jika bisa melakukannya, dengan kata lain aku harus bertemu dengan ketakutan ku, mengatasinya sendiri dan aku akan normal kembali.


Jadi aku harus bertemu Indri? Membayangkannya saja sudah membuat hati ku terasa sakit.


"Baiklah Dokter saya akan coba dilain waktu" ucap ku lirih menganggukan kepala.


"Baiklah Tuan dari hasil tes akhir minggu ini anda bisa pulang" ucapan Dokter Aslan membuat senyuman tipis terukir indah diwajah ku.


"Terima kasih Dokter" ujar ku bahagia


"Tapi Tuan tetap harus berkunjung jika dirasa ada yang tidak benar dalam diri Tuan" ucapnya lagi


"Baik saya mengerti" jawab ku

__ADS_1


__ADS_2