Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Syarat Yang Aku Langgar


__ADS_3

Husein memesan gaun berwarna pink nude dengan bunga - bunga payet kecil menghiasi sebelah dadaku, gaun berbahan satin tampak mewah, glamor namun tetap lembut dan manis tanpa mengurangi kesan sisi wanita yang memakainya.


"Cantik" gumam ku saat melihat gaun yang aku gunakan nampak serasi dengan dasi yang akan Husein kenakan nanti.


"Sayang, kau sudah selesai kita.." Husein terpaku hingga tak bisa menyelesaikan perkataannya


"Bagaimana pendapatmu" Tanya ku melenggak - lenggok bak model didepannya


"Kita sebaiknya tidak usah pergi" Husein mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa?!" Tanya ku, mungkinkah riasan ku tidak sempurna melihat dari pantulan kaca cermin.


"Kau terlalu cantik untuk dilihat orang banyak sayang" Ujar Husein menghentakan kaki seperti anak kecil.


"Kurung saja aku dalam sangkar emasmu" Jawab ku merasa lucu dengan kelakuan husein.


"Aku tidak rela" gumamnya pelan.


"Oowwhh.. apa aku secantik itu" Tanya ku menggoda.


"Tak mengenakan apapun kau sudah cantik" Ucap Husein mengedipkan sebelah matanya.


"Maksudmu?!" Tanya ku dengan tatapan tajam.


"Kita sudah terlambat, sebaiknya kita berangkat sekarang" Ujar Husein mengalihkan perbincangan.


"Husein" Panggilku membuat husein yang berjalan meninggalkan ku berbalik heran.


"Ya" tanya nya.


"Aku ada permintaan apa bisa kau mengabulkannya?" Ucap ku sedikit meragu.


"Apa ini serius?" Tanyanya mengerutkan kesing hingga kedua halis tebalnya hampir menyatu.


"Ya" Jawab ku.


"Apa itu? Jangan bilang kau ingin berpisah dengan ku!" Tanya Husein penuh selidik.


"Bukan" aku tersenyum menenangkannya.


"Lantas?" Tanya nya heran


"Aku ingin kita merahasiakan hubungan kita sebagai suami istri" Ujar ku pelan sedikit takut.


"Kenapa?" Husein terlihat marah pandangan mata itu seolah tak suka dengan permintaan ku.


"Kau tau, mungkin sebagian teman kita sudah mengetahui jika aku pernah menjadi seorang janda, mendengar aku sudah menikah lagi denganmu yang dulu pernah aku tinggalkan tentu akan membuat aku sangat jahat, terlebih kita hanya menikah sirih pandangan kebanyakan orang selalu buruk tentang pelaku nikah sirih, aku tidak ingin membuatmu malu dengan adanya aku disisi mu" ujar ku panjang lebar.


"Siapa yang berani berkata demikian? Akan ku robek saat itu juga mulut dan tenggorokannya" Jawabnya geram kedua tangannya mengepal lesal dengan penjelasan ku.


"Husein.." aku mendekat dan memeluknya, mendengarkan detak jantungnya mencoba menenangkan amarah itu.


"Humairah aku sudah susah payah mendapatkan dirimu, kamu adalah kebanggaan ku entah kau dari awal memang dengan ku atau harus bersama dengan orang lain dulu, aku tidak mempermasalah itu" penjelasan Husein membuatku menitikan air mata, kami sama - sama mengkhawatirkan yang lainnya tapi disini aku lebih mencemaskan nama baiknya, selain itu aku punya misi lain kenapa sampai aku menginginkan hubungan ini dirahasiakan.


"Husein aku mohon.." ku tatap Husein dengan sedikit mengiba


"Baiklah hanya untuk malam ini, tapi kau harus selalu berada didekat ku dan aku akan tetap mengumumkan bahwa kita memang dekat" Ultimatum dari Husein tidak bisa aku tolak, dia berhak atas diriku.


"Baiklah, Terima kasih sayang kita jalan sekarang" Ajak ku melihat dia sudah merasa lebih tenang.


"Hemmpp" Dia hanya berdehem mungkin masih kesal dengan permintaan ku saat ini.

__ADS_1


Tepat pukul 9 malam kami sampai dilokasi acara, dari parkiran sudah terlihat jika di lobi hotel kerumunan tamu peserta reoni memenuhi ruangan.


Aku menyuruh Husein untuk turun lebih dulu dan aku akan menyusulnya, aku beralasan ingin menelpon Tari agar dia tak merasa curiga, saat Husein mendekat beberapa langkah lagi memasuki lobi saat itulah aku keluar, aku ingin menjaga jarak untuk memberi kebebasan bagi orang yang sedang aku selidiki memakan umpannya.


"Asalamualaikum semuanya" sapa Husein pada sekerumunan orang yang sedang berbincang santai.


"Waalaikum salam Husein" Jawab seorang wanita cantik dengan pakaian ketat menyembulkan kedua gunung kembarnya yang tak lain adalah Jeselyn, dia menyambut Husein dengan meraih tangan dan menggenggamnya.


Husein melirik pada pegangan tanggan itu seolah minta dilepaskan tapi Jeselyn malah menyenderkan kepalanya pada bahu Husein.


"Husein? benarkah itu dia? wah kau tampan sekali sekarang" Ujar wanita berambut pendek disamping Jeselyn.


"Benar, sekarang dia bukan Husein yang dulu kita kenal" Jawab Jeselyn seolah membangggakan miliknya.


"Wah apa yang membuat tubuh mu sebesar ini? " Tanya seorang pria dengan rambut ikal.


"Kenapa kalian membuatnya kebingungan, biarkan dia duduk dan minum dahulu" Ucap Jeselyn merangkul lengan Husein mengajaknya duduk di kursi yang sudah tersedia.


"Husein kenapa kau diam saja diperlakukan seperti itu!" gumam ku geram


"Baiklah mungkin lebih baik seperti itu, jadi sekarang aku tau jika dia belum mengetahui hubungan kami" ucap ku pelan.


"Lebih baik aku mencari teman seangkatan ku dengan tetap memantau pergerakan Jeselyn dengan Husein" pikir ku saat ini.


Aku meninggalkan Husein, mencari teman seangkatan yang bisa aku kenal, akan ku biarkan Husein saat ini selama dia tak melewati batas dan selama bukan dia yang memulainya.


"Hai.. Kau Indri Amalia bukan?" Ujar Pria dihadapan ku melambaikan tangannya.


"Ya, maaf anda siapa?" Tanya ku, wajahnya tak asing tapi kenapa aku tak bisa mengingat namanya.


"Kau tidak mengenalku? tanya nya sedikit kecewa.


"Wah kau jahat sekali" lelaki itu mengerucutkan bibirnya gemas.


"Hahaha.. Maaf" ujar ku menyatukan kedua telapak tangan.


"Aku Randi" Ujarnya dengan senyum manis.


"Randi? orang yang menyatakan cinta di depan koridor kelas?" Ucap ku yang seketika membuatnya menunduk malu.


"Ah.. kau ingat kisah memalukan itu" keluhnya


"Menyatakan cinta bukan sebuah momen yang memalukan, itu butuh keberanian dan kau cukup berani saat itu" Ujar ku membuatnya merasa nyaman.


"Ya aku cukup berani menyatakan cinta pada wanita yang sudah bertuan" Perkataannya membuat kami tertawa.


"Dan sekarang pun kau masih berani berbincang dengan wanita yang sudah bertuan" Ujar ku membuatnya sedikit ketakutan.


"Benarkah?" tanya nya membelalakan kedua mata.


"Ya" jawab ku mengangguk


"Apa Husein ada disini?" tanya Randi memerhatikan sekitar.


"Ya, dia sedang menyapa teman - temannya" Ucap ku menunjuk dimana Husein berada.


"Jadi kau benar - benar menikah dengannya" Tanya nya seolah tak percaya.


"Ya" jawab ku pasti, entah mengapa aku harus jujur perihal ini jika dihadapan laki - laki, aku takut mereka berharap dan mencoba mendekati ku lagi, aku sudah malas berurusan dengan banteng pecemburu satu itu.


"Tidak salah kalian dinobatkan sebagai pasangan buktinya sampai sekarang kalian masih bersama" Ujar nya memuji tapi aku merasa seperti diejek.

__ADS_1


Aku hanya mendiaminya perihal pujian yang dia lontarkan.


"Baiklah, aku akan pergi menyapa yang lain, terima kasih sudah berbincang dengan ku" ujarnya mengangkat minuman ditangannya sebagai penghormatan terakhir.


"Terima kasih juga sudah menemani ku" jawab ku menundukan kepala.


"Istri yang baik" Bisik Husein di belakang ku, sebenarnya aku sudah tau jika Husein memerhatikan ku ketika Randi menyapa.


"Aku memang istri yang baik, tidak seperti kau yang mau digandeng siapa saja" Ujar ku ketus menatap sekeliling mencari keberadaan Jeselyn, itu dia.


"Jadi kau cemburu?" Husein menyungingkan senyum jahat menatap ku, seperti puas sesuatu yang dia inginkan kini dia dapatkan.


"Tuan seharusnya anda meminta maaf bila melakukan kesalahan bukan mengalihkan percakapan" Jawab ku tersenyum padanya.


"Aku minta maaf sayang, dia langsung menarik ku begitu saja" Ujar Husein mendekat berbisik ditelinga ku.


"Terserah" Jawab ku datar menanggapi penjelasannya.


"Hai Indri" sapa Jeselyn mendekat dengan beberapa temannya.


"Hai Jeselyn" sapa ku tersenyum seramah mungkin


"Indri bagaimana menurutmu? bukan kah aku lebih cocok dibandingkan dengan mu untuk menjadi pendamping Husein?" Ujar Jeselyn terang - terangan menggandeng tangan Husein didepan ku.


Aku melihat Husein menatap nyalang pada Jeselyn dan menatap pada ku seolah memberi tahu bahwa dia ingin menyudahi kepura - puraan kami, namun aku memberinya kode berupa senyuman untuk dia tetap tenang.


"Wah Jeselyn kau kasar sekali hahahaha" Ujar wanita berambut pendek di dekatnya.


"Benarkah? tapi menurutmu apakah aku cocok dengan Husein?" Tanya Jeselyn pada temannya.


"Tentu saja?!" Ujar nya tersentak kaget dengan pertanyaan Jeselyn


"Menurutmu bagaimana Indri?" Tanya Jeselyn menatap ku seolah mengejek.


Baiklah mungkin aku harus mengakhiri akting ku saat ini, melihat dia menjadi semaunya ternyata cukup menguras hati.


"Husein kau berniat menikah lagi?" tanya ku pada Husein dengan melipat kedua tangan ku didepan dada.


"Menikah lagi? apa maksud mu?" Tanya Jeselyn kebingungan menatap Husein dan aku secara bergantian.


"Tentu tidak sayang" Ucap Husein tersenyum senang melihat kelakuan ku.


"SAYANG?" Jeselyn terbelalak tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar.


"Maaf sebelumnya bila kami belum memberikan kabar, dua bulan lagi kami akan menikah tepat dihari kelahiran ku" Ujar ku menjelaskan kebingungan yang aku buat.


"Menikah? Kau dengan Husein" Tanya Jeselyn seperti masih tidak percaya.


"Ya, dia terus memaksa untuk menjadikan ku istrinya" Jawab ku sedikit memgerucutkan bibir yang membuat Husein gemas hingga dia mengigit bibir bawahnya saat menatap ku.


"Tidak mungkin, Husein dia seorang janda beranak 2! dia jauh dari kata pantas untuk mu" ujar Jeselyn setengah berteriak hingga pusat perhatian tertuju pada kami.


"Lantas siapa yang menurutmu pantas? Kau?! Humairah ku jauh lebih pantas dari siapapun entah dia masih gadis atau seorang janda beranak 2" Ucap Husein geram dia sudah terlihat marah, kedua tangannya mengepal hingga buku - buku tanggannya memutih,rahanggnya mengeras dengan tatapan menyalang menatap Jeselyn.


Semenjak Husein mengalami depresi dia seperti tidak bisa menahan amarah saat apapun berurusan dengan ku tidak sesuai dengannya.


"Husein jangan kasar seperti itu, aku tidak suka" Jawab ku semanja mungkin mengalihkan rasa amarahnya.


"Maaf sayang, aku hanya bisa bertutur lembut dengan dirimu saja" ujarnya setelah merasa tenang kembali


"Manisnya" ujar ku memberikan tangan kanan yang disambut langsung oleh Husein dan menautkan jari jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2