Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Talak Di Malam Pengantin


__ADS_3

Malam telah tiba tanpa ada yang bisa menunda, satu persatu dari mereka yang ada undur diri hingga meninggalkan kami berdua, sepasang pengantin baru yang masih diliputi rasa gundah gulana.


"Kau mandi dan shalatlah terlebih dahulu, aku akan membereskan sisa kekacauan ini" Ujar Husein tanpa menatap ku, waktu menunjukan sudah pukul 9 malam


Kami memang belum melakukan shalat Isya karena segan untuk meninggalkam para tamu.


"Ini sudah terlalu malam untuk membereskan semuanya, biarkan saja. Kita bisa membereskannya besok pagi" Ucap ku membuat Husein menghentikan kegiatannya.


Tampak kamar hotel yang disulap menjadi ruangan pernikahan ini tidak sebagai mana mestinya, banyak hiasan bunga dan kado - kado serta seserahan yang Husein bawa bertumpuk tidak pada satu tempat.


"Baiklah, kau mandilah dulu" Pinta Husein pada ku.


"Ya" Aku meninggalkannya dan memasuki kamar mandi untuk melakukan bersih - bersih.


Usai rampung dengan kegiatan mandi ku, Aku duduk didepan nakas dengan masih menggunakan kimono handuk, memandangi diri didepan meja rias dengan handuk kecil ditangan untuk mengeringkan rambut yang basah.


Saat aku mendongkak dan menatap cermin kembali, ku lihat Husein berada tepat dibelakangku, menatapi ku dari pantulan cermin


"Akhirnya aku bisa melihat rambut indah mu" Ujar Husein tersenyum.


Ya selama ini memang aku mengenakan jilbab, sedari sekolah menengah pertama dan saat aku dekat dengan si kembar tak sekalipun aku melepaskannya.


"Aku sudah selesai, sekarang kau mandilah kita akan mengerjakan shalat Isya berjama'ah" ucap ku berbalik memandangi Husein yang masih tersenyum manatapku.


"Berjama'ah?" Tanyanya terbata.


"Bukankah sekarang kau Imam ku?" ujar ku balik bertanya.


"Ah benar" jawab Husein mengangguk - anggukan kepalanya.


Aku langsung berganti pakaian yang sudah Evan bawa sejak pagi tadi, syukurlah mereka membawa baju layak bukan baju haram yang aku pikirkan sedari tadi, aku memilih pakaian tidur berbahan satin silk berwarna abu yang menutupi seluruh tubuh namun aku membiarkan rambutku terurai tanpa jilbab yang menutupinya.


Husein menghampiri ku dengan pakaian yang sudah dia kenakan, kami melaksanakan shalat Isya berjamaah dengan khusyuk, indah suara Husein membuat hati ini terasa damai.

__ADS_1


Salam mengakhiri shalat kami, ku raih tangannya lalu ku cium dengan takzim, Husein memanjatkan rasa syukur serta doa diakhir shalat kami.


Kulipat dan ku simpan diatas nakas mukena yang baru saja aku kenakan.


"Kau ingin makan sesuatu?"Tanya Husein menatapku yang duduk diatas ranjang.


"Aku tidak lapar, duduklah ada yang ingin aku bicarakan" Aku memepuk ranjang disampingku untuk Husein duduki.


"Apa itu?" Jawabnya mendekat.


"Husein kau pasti tau pernikahan ini bukan kehendak kita berdua, aku tidak ingin membebanimu dengan hubungan ini, kau bisa menalak ku sebelum kau mendaftarkan sidang itsbat dan selama menunggu aku akan tetap melayanimu sebagai mana seorang Istri melayani suaminya tapi untuk masalah kebutuhan batin aku minta maaf, aku tidak bisa" Ujar ku pelan dan penuh hati - hati berharap Husein bisa memahami apa yang aku sampaikan.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan!" suara tegas dengan rahang mengeras membuat ku meciut takut dengan tatapan nyalangnya.


"Husein kita tak harus bersama, kau bisa mencari wanita yang lebih dari ku.." Belum selesai aku berbicara Husein sudah memotongnya dengan setengah berteriak.


"Diam!!" ujar Husein membuang muka tak ingin menatap ku.


"Husein" ujar ku pelan berharap dia bisa melunak.


"Husein" Kuraih tangannya berharap dia tidak marah dengan apa yang aku bicarakan.


"Aku hanya menginginkan mu Humairah, kenapa kau selalu menolak ku?" Ujarnya pelan dia mulai melunak saat aku genggam kedua tangannya.


"Husein tapi.."


"Diam!! Pernikahan ini adalah momen yang aku impikan selama hidup ku, dengan mudah kau meminta talak padahal baru kemarin kita menikah!" Husein menepis genggaman tangan ku rahang yang mengeras dengan tangan terkepal sudah menjelaskan jika dia sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Humairah dengar baik - baik, jangan memancing emosiku dengan pembicaraan seperti ini lagi aku tidak akan pernah menceraikanmu kau pun takkan bisa meninggalkan ku, sidang itsbat akan tetap aku ajukan bulan depan dan dibulan kelahiran mu kita akan merayakan pesta pernikahan" Ujar Husein menjelaskan dengan tatapan tajam.dan berlalu meninggalkan ku.


Pengantin mana yang dimalam pertama meminta talak seperti ku, Husein sesungguhnya ini pun berat untuk ku, maafkan aku.


Malam semakin larut rasa kantuk membuatku tak bisa membuat terjaga, hingga akhirnya aku tertidur lelap.

__ADS_1


Suara erangan kesakitan membuat ku terjaga, ku tatap layar ponsel untuk melihat pukul berapa.


"Siapa yang kesakitan disubuh buta?" aku menatap sekeliling tak ku lihat Husein dikamar ini.


"Apa dia belum kembali?" gumam ku pelan.


Dari arah jendela yang terbuka siluet seorang terlihat jelas dibalik terpaan sinar cahaya bulan, aku mencoba mendekat untuk mengetahui siapa dia meski aku yakini itu adalah Husein.


"Husein.." sapa ku pelan


"Aggghhhh..." erangan itu terdengar jelas, dia mencengkram kepala beberapa helai tertinggal dalam genggamannya.


"Husein ada apa?!" ujarku ketakutan mencoba melepaskan cengkraman tangan Husein yang kembali menarik rambutnya.


"Kenapa kau selalu menolak ku Humairah apa salah ku?" ujarnya pilu matanya berkaca - kaca memerah, semua kekecewaan dan kesedihan itu terlihat jelas dalam wajahnya.


Husein inikah trauma yang selama ini kau rasakan karena ditinggal orang - orang tersayangmu, semenderita inikah dirimu hingga rasa sakit dikepala tak terasa.


"Husein tenanglah, duduk dan tenanglah" aku menuntun Husein dengan merangkul tubuh kekarnya menuju bibir ranjang.


Setelah ku dudukan aku segera menuangkan air putih untuk ku berikan pada Husein.


"Minum air ini" aku meminumkan air putih perlahan.


"Sekarang tutup mata mu, atur napas hembuskan perlahan" ku rebahkan Husein di atas ranjang dan membantunya untuk tetap tenang dan nyaman.


"Jangan pernah tinggalkan aku, aku hanya menginginkan mu" ujarnya pelan meraih kedua tangan ku dan menggenggamnya.


"Aku ada disini" Jawab ku mengusap genggaman tangannya.


"Agh..Husein" Husen meraih tubuh ku hingga aku tersungkur dan jatuh tepat diatas tubuh kekarnya.


"Tetaplah seperti ini, aku nyaman seperti ini" Ujar Husein tanpa membuka matanya, hembusan nafas Husein yang teratur dan detak pacu jantung yang berirama menandakan dirinya sudah jauh lebih tenang.

__ADS_1


Husein andai aku bukan bekas orang lain, tentu saat seperti ini adalah sesuatu yang selalu aku inginkan bersamamu.


Kami pun terlelap dalam posisi saling berpelukan dengan aku berbantal lengan Husein.


__ADS_2