
POV HUSEIN
Setelah mendapat jawaban atas semua pertanyaannya hidup ku selama ini, rasa kecewa itu menyeruak membuka luka lama yang masih belum mengering.
"Dia merelakan ku karena tekanan orang tua ku, kenapa dia harus menanggungnya sendiri? Kenapa dia tidak mendiskusikannya dengan ku? Kenapa dia ceroboh dan mengambil keputusannya sendiri"
Sepanjang perjalanan keluar menuju parkiran dari acara pernikahan, aku merasakan sakit yang sangat menyiksa, tekanan beban berat seakan menghantam kepala di kedua sisinya.
Beruntung aku masih bisa mengendalikannya, ku rogoh saku jas mencari benda pipih untuk menghubungi orang rumah, meminta bantuan untuk mengantar ku pulang.
"Assalamualaikum sayang" ucap Ummi saat telepon tersambung.
"Um- ummi to-tolong jemput aku" ujar ku terbata menahan rasa sakit dengan menekan pelipis karena penglihatan ku mulai buram.
"Husein kau baik - baik saja Nak?" ucap Ummi terdengar mencemaskan aku.
"A-ku su-sudah tidak tahan la-gi" ujar ku menahan rasa sakit yang seakan menghilangkan kesadaran ku.
"Tunggu disana Ummi akan suruh Abi menjemput mu" ucap Ummi sebelum memutuskan sambungan telpon.
Aku merasa melayang, bayangan mata terasa kabur, hingga semua yang ku lihat menjadi gelap, akhirnya aku terjatuh tepat disamping mobil yang tadi aku bawa.
Flashback
"Tekanan yang dia dapatkan terlalu berat, kami tidak bisa saja memberi obat dengan dosis tinggi, tapi efek jangka panjangnya dia akan mengalami depresi yang berkepanjangan" ucap Dokter dihadapan kami menjelaskan.
Usai ditinggal menikah oleh Indri, rasa ketakutan ditinggal orang yang dicintai membuat aku berhari - hari terjaga, hingga pada akhirnya aku masuk rumah sakit karena imsomnia akut dan dehidrasi.
__ADS_1
Usai dirawat, dokter memberikan obat penenang sebagai obat imsomnia akut ku, berbulan - bulan aku mengkonsumsi obat tersebut namun tidur dimalam hari seakan sulit untuk ku.
Rasa cemas, ketakutan, kesedihan yang mendalam membuat ku selalu terjaga, aku hanya bisa tertidur diwaktu dini hari menjelang subuh, itu pun hanya 2 sampai 3 jam setiap harinya.
Mendengar penjelasan Dokter, aku hanya bisa pasrah, rasa sakit ini hanya aku yang rasa, mereka hanya bisa menuntutku untuk sehat, tanpa mau tau dan ikut merasakan bagaimana aku sakit.
"Apa saran dokter" ujar Büyükbaba
"Dia harus direhabilitasi sekurang - kurangnya 6 bulan untuk kami bisa mengetahui kondisinya secara intensif" ujar Dokter menjelaskan setelah melihat kondisi tubuh ku dari grafik dalam lembar kertas.
"Apa Dokter mengganggap cucu saya gila hingga harus mendekam dengan mereka yang tidak waras" Bentak Büyükbaba marah.
"Kami hanya ingin memastikan kondisi cucu Tuan" ucap Dokter memberi penjelasan.
"Berikan saja obatnya, dia akan sembuh" hardik Büyükbaba menyangkal semua hasil pemeriksaan.
"Tapi tuan" Ujar Dokter segan
"Baik Tuan" ujar Dokter pasrah.
Kembali mengkonsumsi obat - obatan, membuat tingkat kecemasan ku bertambah, berbulan - bulan aku mengkonsumsi obat penenang dosis tinggi itu, bukan mendapat penanganan langsung Büyükbaba memutuskan untuk memberikan obat penenang lagi dan lagi.
Alih - alih menyembuhkan tingkat depresi yang aku rasakan semakin bertambah parah, aku sering kali meracau dan mengacau.
Semua sudah mengganggap ku benar -benar gila, dengan kesadaran penuh aku menyangkalnya, aku tidak gila.
Aku hanya terlalu tertekan karena selalu saja ditinggal orang yang aku sayangi, Hasan, Indri kenapa kalian meninggalkan ku sendiri, kenapa kalian menyakiti perasaan ku.
__ADS_1
Setiap mengingat mereka ada rasa sakit mendalam menekan dikepala dan sesak berlebihan didada membuat kesadaranku menghilang, aku terkulai lemas dilantai kamar yang lebih pantas aku sebut penjara berkedok bangunan mewah, dengan barang pecah belah yang menghantam tubuh ku.
Genangan merah menyebar keluar, samar ku dengar jeritan kepala pelayan yang selama ini merawat ku di mansion Büyükbaba, aku pun menutup mata saat kesadaran ku benar - benar hilang.
Perlahan kelopak mata ku terbuka, aku melihat sekeliling ternyata aku sudah terbaring diranjang rumah sakit dengan perban melilit dada dan bahu, samar -samar tedengar suara orang berbincang dibalik pintu.
"Saya sudah menyarankan Tuan untuk merawat Tuan muda Husein dirumah sakit, sakit yang Tuan Husein derita tidak bisa diobati hanya dengan obat semata" ujar Dokter itu tegas, mungkin dia kesal karena Büyükbaba tidak mengijinkan aku untuk di rehabilitasi disini.
"Apa kau ingin orang lain mengetahui kelemahan ku? Cucu satu - satunya yang aku banggakan gila karena seorang wanita" Hardik Büyükbaba marah suara bentakannya bisa dengan jelas terdengar hingga ke ruangan ku.
"Tuan muda tidak gila, dia hanya depresi karena tekanan suasana hatinya, saya seorang Dokter saya lebih memahami bagaimana kondisi pasien saya" Ujar Dokter itu kesal, sudah hampir setahun aku bolek - balik rumah sakit ini dan aku baru mendengar Dokter itu berbicara lantang menentak Büyükbaba.
"Terserah apa yang kau katakan, buat statusnya tidak diketahui khalayak ramai, jangan sampai ada yang mengetahui kalau dia cucu ku" Ucap Büyükbaba kesal.
Tak kerasa air mata menetes dikedua pipi ku, apa sememalukan itukah memiliki aku saat ini, kenapa aku berkali - kali mengalami kekecewaan akan sikap Büyükbaba.
Dokter menghampiri ku, dia memeriksa kondisi luka sayatan yang aku dapatkan saat aku terjatuh pingsan.
Pandangan kami bersiborok Dokter muda tampan itu menatap wajah ku lama.
"Tuan apa kau mendengar semuanya?" Ucap Dokter Aslan.
Aku hanya bisa memberi isyarat lewat kelopak mata, memberitahunya bahwa aku mendengar semuanya.
"Tuan tidak perlu takut, aku akan memastikan Tuan akan sehat kembali, Tuan hanya perlu bertenang tanpa memikirkan hal yang dirasa bisa memperburuk keadaan kesehatan Tuan, Tuan ingin sembuh bukan?" Ujar Dokter Aslan menggenggam tangan ku, dia adalah seorang psikolog muda terkemuka di Turki, jika dilihat dari wajahnya bisa ditaksir usianya tak jauh beda dengan ku.
"Tuan hanya perlu memberikan kepercayaan pada saya, dan yakini bahwa semua akan baik - baik saja" ujarnya lagi memberikan ketenangan lewat senyumannya.
__ADS_1
Inilah yang aku butuhkan, orang yang bisa aku ajak berbagi meski hanya bisa menemani, beban mental yang aku dapatkan membuatku seperti ini, dulu saat aku kehilangan Hasan ada Indri yang selalu menemaniku, mengajak ku berbincang, hingga sedikit demi sedikit rasa takut dan kecemasan itu memudar, tapi siapa sangka aku akan seperti ini karena seorang yang pernah menolong ku dalam ketakutan, dia menjadi ketakutan terbesar hingga berakhir pada depresi yang aku rasakan.
Indri aku harap kau bahagia dengan lelaki yang sudah orang tua mu pilihkan, aku akan mencoba sembuh dan sehat seperti semula meski rasa cinta ini akan sangat sulit aku alihkan