Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Restu Yang Ku Rindu


__ADS_3

Rasa canggung sekaligus tegang menyelimuti perasaan ku saat ini, kami berlima duduk diarea lesehan restauran dengan meja panjang sebagai pemisah.


Husein, Abi dan Büyükbaba dihadapan ku sedangkan Ummi duduk disamping ku, ketiga pria itu seolah - olah sedang mengintimidasi ku karena sebuah kesalahan yang aku sendiri tak tau apa itu.


Aku sesekali melirik Ummi mencari jawaban atas situasi yang aku alami saat ini, namun Ummi hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Apa yang membuat Husein berteriak memanggilmu?" Tanya Büyükbaba menatap ku tajam.


"Kami hanya berselisih paham saja.." Belum selesai aku menjawab Husein sudah menyela.


"Dia tidak mau menikah dengan ku, apa jawaban itu cukup memuaskan bagi kalian?" Ujar Husein menatap Büyükbaba geram


"Husein dimana sopan santun mu!" bentak Abi menatap Husein nyalang.


"Untuk apa bersopan santun dengan orang yang selalu ingin mengatur kehidupan ku?" Ucap Husein dengan senyum tipis seakan meledek.


"Apa cinta mu lebih berharga dari pada keluarga ?" tanya Büyükbaba menatap Husein dan aku bergantian.


"Ya" Jawab Husein tegas menatap diriku


"Husein" ujar ku lirih, aku tak mau keluarga ini terpecah belah hanya karena ku, sudah bersusah payah aku selama ini mengalah demi kebaikan mereka.


"Aku akan terus mengajaknya menikah sampai dia mau meski kalian tidak pernah merestui, aku seorang lelaki yang tidak memerlukan wali" Ujar Husein lantang


"Husein!" ucap ku setengah berteriak, kenapa dengannya? kenapa jadi seperti ini, seharusnya aku tidak menjalin hubungan lagi dengannya meski hanya berteman.


"Humairah, sebaiknya aku antar kau pulang" Husein terbangun dan menarik pergelangan tanggan ku

__ADS_1


"Tapi.." aku terbangun dengan kebingungan, entah harus bagaimana menenangkan ketiga pria ini.


"Kami merestui kalian" Ujar Büyükbaba samah dengan diakhiri hembusan nafas panjang, seolah beliau baru saja memutuskan keputusan terberat dalam hidupnya.


"Apa?!" tanya Husein tak percaya.


"Kenapa? Apa ini hanya akal - akalan kalian saja?" tanya Husein lagi.


Serentetan pertanyaan juga muncul dalam benak ku, apa yang membuat mereka bisa sampai merestui kami?


"Sedari awal memang bukan kau yang diperuntukan mengurus perusahaan Büyükbaba, kehilangan Hasan membuat kami menekan kau terlalu keras, kami membuat mu menerima kenyataan sebagai ahli waris tunggal yang harus meneruskan bisnis keluarga" Ujar Abi membuat Husein dan aku duduk kembali untuk mendengarkan penjelasan mereka.


"Kami tau kami terlalu egois, tanggung jawab yang kami berikan tidak menjadikanmu dewasa dan menerimanya, justru malah membuat terluka dan tersiksa karena berpisah dengan Indri" Ujar Abi seolah menyesal dia sesekali menunduk dan menatap wajah ku.


"Karena merasa tidak adil Husein meninggalkan perusahaan dan mengabaikannya perusahaan mengalami kerugian besar bahkan sampai mendekati kebangkrutan beruntung Abi dan Büyükbaba bisa mengatasinya, melihat disini kau bisa mendirikan perusahaan mu sendiri disaat itu kami menyadarinya bahwa selama ini kami sudah melakukan kesalahan" ucap Ummi meraih tangan ku dan menggenggamnya sorot mata wanita paruh baya itu seolah penuh penyesalan.


"Seperti yang kau bilang, tanpa restu kami pun kalian pasti bisa menikah apalagi dengan status kalian yang sama - sama sendiri, tapi bisakah kalian mengganggap kami sebagai keluarga lagi? kehilangan Hasan masih membuat Ummi kesepian apa lagi jika harus kehilangan Husein juga" ucap Ummi lirih diiringi isak tangis kecil keluar dari mulutnya.


"Husein, semua ini terjadi karena keegoisan ku tidak ada hubungannya dengan kedua orang tuamu, akulah yang meminta Abi mu untuk mempertemukan aku dengan Indri dan memutuskan hubungan kalian, jika kau ingin marah dan melampiaskannya kau bisa membenci ku" ujar Büyükbaba penuh penyesalan


"Apa kalian yakin sedang tidak mempermainkan ku?" Husein menatap Abi dan Büyükbaba nyalang, ada kemarahan yang terlihat jelas diwajahnya.


"Indri maafkan kami" ucap Abi dengan mata berkaca - kaca menahan kesedihan.


"Husein bisakah kau lebih tenang, jika kau masih dalam keadaan marah seperti ini aku akan pergi dan tidak mau berbicara lagi dengan mu" ujar ku kesal melihat perlakuan Husein pada keluarganya.


"Humairah tapi..." jawab Husein melembut

__ADS_1


"Bukankah disini aku juga berhak marah? tapi apa kau melihat aku searogan dirimu?" ucap ku memberi tatapan nyalang padanya.


"Baik" Jawab Husein mengalihkan pandangannya kesembarang arah.


"Bahkan hanya dengan kata - kata saja kau mampu menenangkan Husein, ternyata secinta itu dia padamu" ucap Büyükbaba terkekeh pelan melihat kelakuan Husein.


"Saya sudah memaafkan kalian semua, saya mengerti dan memaklumi semua kesalahan kalian, terima kasih sudah merestui kami sejujurnya restu ini adalah sesuatu yang sangat saya rindukan tapi maaf saya tetap tidak bisa menerima pinangan Husein, Husein berhak mendapatkan gadis baik bukan seorang janda beranak dua seperti saya, saya tidak mau dengan label yang saya miliki saat ini membuat dia kesusahan bahkan malu suatu saat nanti" Ucap ku menjelaskan, restu ini yang ku rindu tapi kau berhak mendapatkan seseorang yang lebih segalanya dari ku.


"Humairah kau mulai lagi.." ucap Husein tersulut emosi.


"Husein menikahlah dengan wanita yang kau cintai suatu hari nanti aku akan bahagia menyambutnya tapi jangan dengan aku" senyum tulus ku berikan padanya sebagai pertanda bahwa aku ikhlas dia dengan yang lain.


"Nak.." sapa Ummi meraih tangan ku


"Maafkan saya Ummi, andai restu ini datang saat saya belum menikah saya akan senang menerimanya, tapi saya tidak menyesal dengan jalan takdir yang Allah berikan kepada saya saya sangat bahagia memiliki Adam dan Rasyid saat ini" ujar ku menenangkan Ummi menyambut genggaman tangan hangatnya.


"Mereka membutuhkan sosok ayah Nak dan Husein bisa memberikannya" perkataan Ummi barusan seketika menyadarkan ku, ya memang benar itu semua tapi aku merasa tak layak untuknya.


"Saya tau, saya bahkan sangat yakin anak - anak saya akan bahagia saat mendapatkan sosok ayah seperti Husein, Adam bahkan terang - terangan meminta Husein sebagai ayah sambungnya" Jawab ku tertawa lirih, hingga tak terasa air mata menetes membasahi kedua pipi ku, sungguh ini keputusan yang menguras emosi.


"Lantas kenapa kau menolaknya?" tanya Ummi penasaran.


"Saya hanya ingin sendiri sebagai orang tua tunggal mereka" jawab ku singkat, aku harus segera pergi jika tidak aku akan menangis dan menggoyahkan keputusan ku sendiri.


"Nak.." ucap Ummi lirih


"Maaf saya sudah terlalu lama diluar, saya harus kembali lagi ke salon untuk mengecek pekerjaan yang saya tinggalkan, terima kasih atas pertemuannya kali ini saya pamit" aku meraih tangan Ummi, Abi dan Büyükbaba secara bergantian menyalaminya dengan takzim.

__ADS_1


"Assalamualaikum" ucap ku tersenyum dan beranjak meninggalkan mereka tampak raut kecewa diwajah mereka semua.


"Waalaikum salam, Husein bagaimana ini.." Ummi menatap Husein cemas saat melihat ku berlalu dan pergi.


__ADS_2