Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Datanglah..!


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana aku harus pergi ke kota hujan Bogor untuk menemui client calon pengantin yang berniat memakai jasa kami.


Bukan hal yang baru bagi ku mengendarai mobil sendiri, tapi untuk keluar kota meski jarak tak terlalu jauh dan bisa ditempuh hanya beberapa jam tetap membuatku was - was dan memilih memakai jasa aplikasi taksi online yang tersedia.


"Sudah akan pergi?" tanya Ibu dibibir pintu saat melihat ku masih berkemas.


"Ya bu, mungkin hari ini Indri pulang malam" Jawab ku menyelesaikan apa yang akan aku bawa.


"Kabari Ibu setiba disana, kalau tidak memungkinkan untuk pulang kamu minta Mas mu Evan untuk jemput dan tidur dirumah kita dipuncak saja" Ujar Ibu terlihat rasa khawatir diwajahnya


"Baik Bu" Jawab ku memeluk wanita yang selalu menunggu ku tiba dirumah.


Ku lepaskan pelukan ku saat terdengar suara klakson mobil di depan rumah, sepertinya taxsi online yang aku pesan sudah tiba.


"Bu sepertinya taxsi nya sudah sampai Indri berangkat dulu ya? Assalamualaikum" Ucap ku setelah mencium punggung tangan Ibu dengan takzim


"Waalaikumusalam" Jawab Ibu melambaikan sebelah tangannya.


Mobil berwarna silver terparkir dihalaman rumah, saat aku mendekat pengemudi itu sontak turun membantu ku membawa goddie bag besar berisi buku - buku besar berisikan foto -foto hasih make up dan dekorasi gedung hasil karya team sebagai contoh yang kami sediakan sebagai bahan pilihan sang calon pengantin.


"Ada lagi yang lain Bu?" Tanya pengemudi taxsi online itu ramah, sebelumnya aku sering menggunakan jasa taxsi online tapi tidak ada yang seramah ini.


"Tidak pak, terima kasih" Jawab ku sopan diakhiri dengan senyum, kami berdua pun masuk ke mobil yang sama.


"Kita jalan sekarang ya Bu" ujarnya melihat ku dari balik kaca spion diatas kemudi.


"Ya Pak" jawab ku.


Mobil mulai berjalan berlahan keluar dari perkampungan melewati jalan besar, tampak dari kejauhan aku melihat ramainya salon tempat ku dan karyawan lain mencari rezeki.


Hiruk pikuk kota tampak jelas disepanjang jalan Ibu kota, lambat laun mobil mulai meninggalkan jalan ramai dan memasuki daerah puncak yang cukup sepi dihari - hari biasa, perjalanan memakan waktu 2 jam lebih 30 menit sampai ditempat tujuan.


"Terima kasih Pak" ujar ku saat hendak turun dan menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah muda sesuai tarif yang tertera dalam aplikasi.

__ADS_1


"Tarifnya sudah dibayar sebelumnya Bu" Ujar pengemudi itu tersenyum menolak uang yang akan aku berikan kepadanya.


"Siapa?" tanya ku heran


"Oleh suami Ibu" jawabnya


"Suami?" tanya ku makin heran setelang mengetahui jawabannya.


"Iya betul, tarifnya sudah dibayar lebih malah oleh Pak Husein sebelum ibu menaiki mobil dari rumah, beliau malah menyuruh saya untuk menunggu Ibu sampai selesai bila Ibu tidak keberatan" ujarnya lagi menjelaskan panjang lebar.


"Husein, kenapa kau menghindari ku?" batin ku


"Tidak perlu Pak biar nanti SUAMI saya yang menemani saya saja" ujar ku menekankan kata suami karena jengkel dengan sikap Husein yang tak membalas pesan ku malah melakukan hal konyol yang bodohnya menyentuh hati ku seperti ini.


"Kalau begitu saya mohon pamit Bu" ujarnya ijin meninggalkan ku di depan hotel Grand Pangestu.


"Ya Pak terima kasih" jawab ku menganggukan kepala.


Ku raih benda pipih mencoba menghubungi calon pengantin yang sudah membuat janji dengan ku.


"Saya sedang diluar Mbak, sebentar saya telpon calon suami saya yang ada di Hotel buat nemenin Mbak dulu" Jawabnya dari sebrang panggilan telpon.


"Ah iya terima kasih" Jawab ku sedikit canggung karena harus bertemu dengan mempelai pria tanpa ada pendamping lainnya.


Aku duduk menatapi area sekitar lobi hotel yang tampak nyaman dengan bunga - bunga hias dan dekorasi unik khas tanah pasundan.


"Mbak Indri?" Sapa seorang pria putih tinggi kurus berambut ikal.


"Ya, dengan Mas Anto?" Tanya ku balik.


"Ya benar, kita ngobrol di kamar hotel saja Mbak biar enak" Tawarnya menuntun ku kearea kamar hotel yang didiaminya, sebenarnya aku sedikit risih mendengar kata kamar hotel sebagai tempat berdiskusi karena setau ku kekasihnya sedang berada diluar hotel.


Saat tepat berada di depan pintu hotel aku bergegas mengirim pesan pada Husein tanpa sepengetahuan Mas Anto yang berjalan di depan ku.

__ADS_1


[Husein aku sudah sampai di Hotel Grand Pangestu kamar 501 segeralah datang aku mulai tidak nyaman]


Mas Anto membuka kamar hotel dan mempersilahkan aku untuk masuk.


"Silahkan masuk Mbak tidak perlu sungkan sebentar lagi Nadia sampai" Ujarnya seperti mengetahui apa yang aku rasaka saat ini, aku mencoba tenang dan berfikiran positif meski sedari tadi yang ada hanya ketakutan yang menghantui.


"Ah iya terima kasih" Jawab ku mencoba tetap tenang.


"Silahkan diminum Mbak, maaf hanya ada minuman kemasan tapi kalau Mbak mau saya bisa pesankan sesuatu" tawarnya saat aku sudah merasa nyaman duduk disofa yang ada dalam kamar hotel tersebut.


"Tidak perlu, ini saja sudah cukup" jawab ku sungkan.


Ku pandangi minuman botol kemasan yang ia tawarkan, masih tersegel rapi mungkin hanya pikiran jelek aku saja yang berpikir yang tidak - tidak.


Setelah menepiskannpikiran buruk ku, aku membuka minuman kemasan itu dan meminumnya hingga hampir setengah isi minuman itu berpindah dan meluncur bebas melewati tenggorokan ku.


"Ini sebagian contoh make up dan dekorasi yang bisa dipilih untuk acara pernikahannya kelak" Aku memberikan beberapa buku besar berisi dokumentasi hasil make up dan dekorasi pesta pernikahan yang kami miliki.


"Oh iya wah semuanya tampak menarik tapi saya kurang tau selera Nadia jadi saya hanya akan melihat - lihat dulu saja biar Nadia yang memutuskannya" ujarnya saat melihat -lihat hasil dokumentasi ku.


Setelah sekitar beberapa menit kami berbincang aku mulai merasakan pusing dan pandangan sedikit mengabur.


"Ah.." keluh ku memegang pelipis yang terasa berat


"Kenapa Mbak?!" Tanya Mas Anto mengkhawatirkan ku


"Saya sedikit pusing mungkin karena perjalanan yang cukup jauh" ujar ku beralasan


"Mbak sebaiknya istirahat, saya akan tinggal sebentar menjemput Nadia supaya Mbak bisa lebih nyaman berada disini" Ujarnya menyuruh ku beristirahat, sejujurnya aku sudah tidak punya pilihan lain selain membaringkan tubuh karena rasa sakit dikepala serta kantuk yang cukup hebat.


"Baiklah, terima kasih" Jawab ku terdengar lirih.


Mas Anto keluar meninggalkan ku sendiri dikamar hotel, dengan sisa tenaga yang aku miliki ku raih handphone dalam saku gamis yang aku kenakan mencoba meminta pertolongan Husein.

__ADS_1


[Husein ku mohon kemarilah, tolong aku]


Usai pesan terkirim aku sudah tak sadarkan diri.


__ADS_2