Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Kunjungan Mengejutkan Part 2


__ADS_3

Seketika Mas Ardi terdiam dan ketakutan, dia melepaskan cengkraman tangannya pada kerudung ku dan mundur beberapa langkah membuat jarak amannya sendiri.


"Jangan pernah berani menyentuh anak ku dengan tangan kotor mu!!" Bentak Bapak menatap nyalang kedua mata elang itu seperti menghunus jantung yang dipandangnya.


"Aku Bapaknya!! orang yang membesarkannya dengan kedua tanganku sendiri, sedari kecil tidak pernah sekali pun aku memukulnya, sedangkan kau lelaki yang baru anak ku kenal beberapa tahun ini dengan arogannya berani memukul dihalaman terbuka dan mempermalukan istri mu! Apa yang membuatmu merasa berhak menyakiti dirinya? Apa karena kau menafkahinya hingga kau dengan mudah memukulnya begitu?! jika hanya karena nafkah bahkan aku sebagai Bapaknya lebih berhak dari pada dirimu tapi itu tidak pernah aku lakukan!!" Ucap Bapak terengah - engah menahan emosi


"Jika memang kau sudah tidak suka, kembalikan dia pada ku, tanpa harus menyakiti fisiknya!!" teriak Bapak semua masih terpaku dengan kemarahan yang Bapak perlihatkan.


Aku yang dibelanya saja merasakan ketakutan, aura intimidasi menyeruak keluar dari tubuh Bapak, seketika aura dingin terasa hingga membuat semua yang ada disini merasa mengigil kedinginan, aku tidak pernah melihat Bapak semarah ini seumur hidup ku.


"Ardi apa kau ingat dengan perjanjian yang kau dan Indri buat saat hamil Adam?!" ucap Bapak menyeringai mengejek.


Deg.


Perjanjian itu, apa Bapak akan meminta kami bercerai?


"Tunggu surat panggilan dari pengadilan agama, Bapak sendiri yang akan mengurusnya" ucap Bapak lantang


"Bapak tidak bisa memutuskan ini begitu saja, disini Indri yang bersalah dia bermesraan dengan seorang pria" ujar Mas Ardi tersulut emosi dia menatap ku dan Evan secara bergantian.


"Bermesraan dengan seorang pria? Pria mana yang kau maksud? dia adalah Kakak tirinya, meskipun kau tidak tau seharusnya kau bisa bertanya dahulu, seharusnya kau mendengar penjelasan Istri mu dulu. Sekarang Bapak minta kau pergi dari sini sebelum kesabaran Bapak habis dan Bapak tidak bisa menjamin kau akan pulang tanpa luka" Ancam Bapak terhadap Mas Ardi.


Mas Ardi berlalu pergi meninggalkan kami semua, Bapak perlahan mendekati ku merengkuh tubuh ku dan memeluknya, Bapak memeluk ku erat seperti takut kehilangan, terdengar isak tangis keluar dari mulut Bapak.

__ADS_1


"Maafkan Bapak sayang, Bapak tidak menyangka anak yang selama ini Bapak sayangi akan mengalami nasib semalang ini" Bapak menangis lirih air matanya membasahi pipi ku, Bapak meraih wajah ku dan mengecup kedua pipiku yang memerah bekas tampar tangan Mas Ardi.


"Apa masih sakit? Mau Bapak antar ke klinik?" Bapak masih saja menganggap ku seperti anak kecil, mungkin benar bagi orang tua anak sedewasa apapun dihadapannya tetaplah anak kecil yang masih memerlukan sosok orang tua.


"Indri kangen Bapak, kenapa Bapak pergi jauh ninggalin Indri?" aku menangis lirih terdengar seperti rengekan anak kecil yang kehilangan orang tuannya, buliran air mata menganak sungai dikedua pipi ku.


"Sudah lebih baik kita masuk dulu, sekarang tidak akan ada yang berani menyakiti anak Bapak ada Bapak disini Bapak tidak akan meninggalkan mu lagi sayang" ujar Bapak mengelus puncak kepala ku.


Kami beriringan masuk kedalam, semua kejadian hari ini membuatku tertekan hebat, aku masih tidak percaya Mas Ardi bisa memperlakukan ku seperti itu, dia memang kasar tapi hanya kata - katanya saja tidak pernah dia berani memukulku semenjak kejadian malam pertama yang kami alami dan dia dalam pengaruh alkohol.


Kami duduk diruang tamu dengan Bapak duduk disamping ku.


"Nak Kamu bersedia kan bercerai dengan Ardi?" tanya Bapak halus


Bapak menghela nafas panjang, seperti mencoba menghilangkan beban berat yang menghimpit dadanya.


"Tadi Bapak bilang Evan Kakak tiri ku? Maksudnya bagaimana?" Tanya ku heran karena setau ku Bapak menikahi seorang janda tanpa anak saat itu.


"Biar ibu yang menceritakan semuanya" jawab Ibu Lastri dialah Ibu sambung ku, setelah setahun Ibu kandung ku meninggal, Bapak menikah lagi dengan beliau.


"Sebelum bertemu dengan Bapak, Ibu pernah menikah dengan orang lain, selama 5 tahun pernihakan Ibu dengan suami pertama Ibu belum juga dikaruniai seorang anak, hingga Ibu dan mantan suami ibu berniat mengadopsi anak sebagai pancingan sebagaimana saran kedua orang tua kami, kami mengadopai Evan dari panti asuhan saat Evan masih berusia 3 tahun, karena tak kunjung hamil juga suami Ibu mencoba memeriksakan kesehatan Ibu ke pihak rumah sakit, saat diperiksa dokter menemukan ada kanker dirahim ibu, hingga akhirnya dokter menyarankan untuk operasi pengangkatan rahim, mendengar jika istrinya tidak bisa memberikan anak suami Ibu saat itu langsung menceraikan Ibu dan meninggalkan Ibu, Evan memang bukan anak kandung Ibu tapi hanya Evan harta Ibu satu - satunya saat itu sampai akhirnya Ibu bisa sembuh dari Kanker dan menikah dengan Bapak mu" Ujar Ibu panjang lebar.


"Dan kau sudah tau sedari awal aku Adik mu?" tanya ku pada Evan

__ADS_1


"Hemmmmpp" Evan hanya berdehem


"Sebenarnya dia kecewa mengetahui jika kau Adiknya" Ucap Ibu


"Kenapa?!" Tanya ku penasaran


"Ibu!!" keluh Evan menatap nyalang Ibunya


"Evan menyukai mu Nak, tapi setelah dia tau kau Adiknya dia seperti kehilanganan semangat hidupnya, kau tau kenapa? karena kau cinta pertamanya" ucap Ibu terkekeh pelan


"Ahhh.. Ibu" ucap Evan setengah berteriak


"Ohhh manisnya" Ledek ku pada Evan


"Diam !!Jika aku mau aku masih bisa menikahimu, kita bahkan tidak ada hubungan darah" ucap Evan mengerucutkan bibirnya dengan tangan bersedekap didada


"Lihat Pak, Indri belum bercerai saja dia sudah ingin menikahinya!"ujar Ibu terkekeh, Bapak dan aku tertawa bersama mengolok - ngolok Evan yang kesal seperti anak kecil.


"Aku sangat senang dicintai Kakak ku sendiri, artinya di masa depan akan ada banyak orang yang akan menjaga ku, bukan begitu kakak ku sayang" ucap ku


"Kau masih bisa - bisa nya membuat lekucon setelah apa yang suami mu lakukan, bahkan aku saja masih sangat kesal dengannya" ucapan Evan membuat aku termenung sakit itu memang ada dan aku tau semua orang mengkhawatirkan ku maka dari itu aku mengalihkan semuanya.


Mas mungkin ini adalah akhir kisah cerita kita, aku tak kan bisa melanjutkannya, kau sendiri yang membuat benang kusut dalam untaian kisahnya, hingga membuat semua ini mengarah pada perpisahan, terima kasih selama 9 tahun ini telah bersama ku, semoga dikemudian hari kau bisa menemukan bahagia mu meski bukan dengan ku, akan ku coba hilangkan semua rasa dendam dan kecewa ku padamu.

__ADS_1


__ADS_2