Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Honey Moon


__ADS_3

Matahari dengan malu - malu menampakan wajahnya dengan separuh wajahnya masih terselimuti awan, pagi ini angin masih terasa dingin dengan rintik gerimis menyapa tubuh, cuaca diluar mendukung untuk kami kembali tidur.


Kupandangi wajah tampan dihadapan ku, teringat kejadian semlam karena efek alkohol aku sampai berani mengungkapkan semuanya dihadapan Husein.


Jari telunjuk menyusuri pahatan indah dihadapan ku, hingga membuat sang pemilik terusik dan terbangun.


"Selamat pagi sayang agghhh.." ucap ku terkejut dengan pelukan erat Husein yang melingkar di pinggang kecil ku.


"Kenapa dingin sekali?" ujarnya dengan suara serak khas bangun tidur memejamkan matanya kembali.


"Karena kau tak mengenakan pakaian" jawab ku ketus berusaha melonggarkan pelukan Husein.


"Apa perlu kita bermain untuk memanaskan tubuh?" ujarnya dengan seringai menghiasi wajahnya.


"Ini sudah siang Husein dan aku kelaparan?" Jawab ku mendengus kesal.


"Benarkah?" Husein membuka kedua matanya mengumpulkan sisa kehidupan yang masih belum terkumpul.


"Pukul berapa sekarang?" tanya nya lagi menatap ku.


"Pukul 9 tepat" Jawab ku menunjukan jam yang menempel didinding.


"Baiklah" Husein terbangun menyibakkan selimut tebal yang menutupi kami dan menggendong ku ala bridal style


"Apa yang kau lakukan?" ujar ku terkejut mengalungkan kedua tangan ku dilehernya karena takut terjatuh.


"Kita akan mandi wajib bersama untuk mempersingkat waktu, bukankah kau sudah lapar?" Jawab Husein membopong ku ke area kamar mandi.


"Tapi.." ujar ku malu melihat kami yang sama - sama tak mengenakan apapun.


"Sudah diam" jawab Husein datar.


Kami mandi bersamaaan dengan kaca tebal sebagai pembatas, usai menyelesaikan kegiatan bersih - bersih dikamar mandi aku dan Husein keluar beriringan dengan kimono handuk yang kami gunakan.


"Duduklah, biar aku keringkan rambutmu" ujar Husein menyuruh ku duduk dibahu ranjang dekat nakas Husein menggambil pengering rambut dibawah nakas.


"Kau bisa menggunakannya?" tanya ku mendongkak menatap wajahnya.


"Aku pernah memakainnya beberapa kali" ujar Husein menganggukan kepalanya.


Pijatan halus serta rasa hangat yang ku rasakan membuat ku nyaman dengan semua perlakuaan Husein memanjakan aku saat ini.


Belum usai kegiatan Husein mengeringkan rambut ku, terdengar bunyi ponsel dibalik selimut tebal.

__ADS_1


"Sebentar sepertinya itu suara ponsel ku?" ucap ku menghentikan Husein.


Tertera dalam layar panggilan vidio dari Bapak.


"Asalamualaikum Pak Bu" sapa ku saat panggilan vidio itu tersambung.


"Waalaikumussalam, Kau dimana Nak? Kenapa semalam tidak pulang? Bapak mengkhawatirkanmu" ujar Bapak dibalik panggilan vidio terlihat ada Ibu yang menemani.


"Sepertinya Bapak lupa jika Indri sudah memiliki suami?" ujar Husein ketus tanpa memperlihatkan batang hidungnya di panggilan vidio.


"Hahaha.. Ya kadang Bapak lupa, kejadian tempo hari membuat Bapak selalu cemas jika Indri tak pulang atau memberi kabar" Ujar Bapak setengah malu dengan omongan Husein.


"Semalam kami pulang larut jadi menginap dirumah Husein di daerah puncak" Ujar ku menjelaskan kejadian semalam.


"Rumah kita sayang" ucap Husein mencium kening ku yang membuat ku salah tingkah karena malu.


"Apa itu indri?" Tanya Bapak sedikit ambigu.


"Apa?" ujar ku balik bertanya.


"Leher mu Nak!" Tanya Bapak menunjuk area leher ku.


"Husein!!" sepontan aku setengah berteriak karena terkejut, leher ku dipenuhi bercak merah bahkan ada yang keungguan.


"Waalaikumussalam" jawab ku saat panggilan itu telah berakhir.


"Honey moon" gumam Husein kedua matanya bersinar terang.


"Husein kenapa leher ku?" tanya ku menatap tajam pada tersangka yang membuat ku malu.


"Itu sisa semalam sayang" jawab Husein mengulum senyum seolah bangga dengan maha karyanya.


"lihat bahkan ada yang bersemu ungu!" ujar ku kesal.


"Kenapa memangnya? Itu tanda kepemilikan dari ku" ujar Husein duduk disamping ku menyibakkan rambut panjang melihat semua ulahnya.


"Kau menyebalkan!" aku menepis tangannya yang menghitung tanda kepemilikan dileher dan bahu ku.


"Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi jika kau keberatan" Ujarnya menunduk seolah menyesal.


"Kau ingin sarapan disini atau diruang makan?" tanya Husein mengalihkan pembicaraan.


"Aku tak memakai baju!" jawab ku ketus membuang muka. kesal.

__ADS_1


"Ah benar, aku lupa memberitahu mu di walk in closet sudah tersedia semua perlengkapanmu" Ucap Husein membuat ku menatap kembali wajahnya.


"Kapan kau menyiapkannya?" tanya ku dengan tetap mempertahankan muka tidak tamah dihadapannya.


"Hari pertama kita menikah, aku kira kau akan mau jika tinggal disini bersama ku jadi aku persiapkan semua keperluan mu" ucap Husein tersenyum manis.


"Maafkan aku, tapi kita harus membicarakan ini dengan semuanya terutama anak - anak" rasa bersalah mulai timbul saat aku tak bisa mematuhi dirinya yang kini sudah menjadi suami ku.


"Baiklah, sekarang carilah pakaian yang kau suka" Husein mengantar ku ke walk in closet karena dia pun belum berganti pakaian, kami masih sama - sama mengenakan kimono handuk.


Sontak perhatian ku tertuju pada laci dibawah lemari gantung, disana tersusun rapi pakaian dalam wanita beraneka warna.


"Bahkan CD dan BH juga?" tanya ku penasaran menatap Husein seolah tak percaya dia tahu ukuran ku.


"Itu aku tau dari Ibu" Jawab Husein tersenyum malu


" Tapi sepertinya kini aku tidak memerlukan petunjuk ibu lagi" Ujar Husein memeluk ku dari belakang, kecupan singkat dia berikan dipipi ku.


Usai berganti pakaian kami berdua keluar dari kamar dan turun ke meja makan di lantai 1.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya" Sapa Bi Ati, aku bersyukur menemukan banyak jilbab hingga aku tak perlu malu lagi dengan tanda kepemilikan Husein.


"Selamat pagi Bi" Jawab ku tersenyum menatap wanita paruh baya dibawah anak tangga dekat dengan meja makan.


Husein menarik satu kursi untuk aku duduki disamping kursi yang akan dia duduki.


"Kau ingin sarapan apa?" tanya ku melihat ada 2 pilihan menu sarapan di meja makan.


"Aku ingin sandwich" ujar Husein menentukan pilihan ke roti isi tuna dan sayuran segar.


Aku mengisi piring kosong Husein dengan 2 potong sandwich berbentuk segitiga, sedangkan aku memilih nasi goreng dengan telur mata sapi.


"Terima kasih Humairah" ujar Husein menatap ku dengan senyum hangat.


"Berterima kasihlah pada Bi Ati dia yang menyiapkannya, aku hanya bisa melayanimu saja saat ini, ini semua karena ulah mu" Ujar ku tersungut mendengus kesal, ucapan terima kasihnya kenapa seperti ejekan di telinga ku.


"Hahahaha, Baiklah besok kau bisa menyiapkan sarapan untuk ku, jika perlu apapun mintalah bantuan Bi Ati" Ujar Husein tertawa, ku lihat sekilas Bi Ati pun tersenyum malu.


"Baiklah, kapan kita pulang?" Tanya ku mengabaikan mereka berdua.


"Aku ada sedikit pekerjaan disini apa bisa kita menunda kepulangam kita? Atau kita perlu menjemput anak - anak untuk menemanimu disini?" Tanya Husein


"Anak - anak?" gumam Bi Ati seolah terkejut menatap kami, mendengar perkataan Bi Ati membuat ku kehilangan selera makan, aku hanya menghabiskan setengah nasi

__ADS_1


__ADS_2