
Rasa pegal dan panas menjalar hampir diseluruh tubuhku, perlahan ku buka kelopak mata namun cahaya silau membuatku urung melakukannya.
"Husein" ku sebut orang yang terakhir yang ku ingat disamping ku.
"Indri ini Ibu Nak" sayup ku dengar suara Ibu memghampiri menggenggam tangan ku, ku coba kembali membuka mata meski tak sempurna.
"Ah.. Ibu" ucap ku pelan lirih merasakan sakit yang tersisa di kepala.
"Sebentar biar Ibu susun bantalnya dulu" Ibu menyusun bantal dibelakang punggungku agar aku merasa nyaman disaat duduk diatas ranjang.
"Ibu ada disini?" Tanya ku pelan saat melihat sekeliling ruangan masih sama dengan apa yang ku lihat terakhir kali, aku masih berada di kamar hotel.
"Iya, Husein sedang membuat laporan kekepolisian perihal kejadian 2 hari yang lalu" Ujar Ibu merapikan kerudung yang ku kenakan sedikit berantakan.
"2 hari?" Tanya ku heran mengerutkan kening mencoba mengingat.
"Iya, setelah kamu sadar tak lama kemudian kamu pingsan lagi karena demam tinggi dan dehidrasi, syukur alhamdulillah kini akhirnya kamu sudah sadar Nak" Ujar Ibu menjelaskan dan tersenyum melihat ku meski aku masih dilanda kebingungan.
"Ibu, Indri haus" ujar ku saat terasa sakit dan kering ditenggorokan.
"Sebentar, Ibu ambilkan dulu" Ibu mengambil minum dalam kemasan dan menuangkannya kedalam gelas kaca.
"Beruntung kamu menghubungi Husein saat itu, kita harus berterimakasih atas semua bantuan yang Husein lakukan untuk mu Nak" ujar Ibu menyerahkan segelas air putih.
"Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu sekarang?" Evan datang dengan membawa sekeranjang buah dan tas besar berisi pakaian ku dan Ibu.
"Aku baik meski masih sedikit pusing, bagaimana Husein menyelamatkan aku" Tanyaku menatap Ibu dan Evan secara bergantian penasaran.
"Ternyata semua ini sudah direncanakan oleh seseorang yang belum kami ketahui, dia berniat menjebak mu, setelah kau mengkonsumsi obat perangsang itu tak lama kepolisian datang untuk melakukan razia pasangan - pasangan yang belum menikah, beruntung Husein tak sengaja mendengar rencana mereka hingga dia terpaksa membuat surat keterangan nikah siri untuk mengelabui polisi" Ujar Ibu menjelaskan setelah mengetahui duduk permasalahan yang dialami putri sambungnya.
"Apa aku melakukan itu dengan Husein?" Ujar ku antara takut, malu dan penasaran berkecamuk saat aku menanyakannya.
"Apa kau menginginkannya?" Tanya Evan menggoda dengan senyum mengembang sempurna.
"Mas Evan jawab saja!" Ujar ku kesal merasa diolok - olok.
__ADS_1
"Kau tak ingat?" tanyanya membuat ku semakin kebingungan.
"Jadi aku melakukannya?!" tanya ku tak percaya.
"Untuk itu sebaiknya kau bisa tanyakan langsung pada orangnya nanti, sekarang istirahatlah dulu Ibu akan keluar untuk memesan bubur untukmu" Ujar Ibu tersenyum menggelengkan kepala melihat kebodohan ku.
"Kenapa aku tidak bisa mengingatnya, benarkah aku melakukannya dengan Husein? Aahhh semua ini membuat ku gila" pikir ku memukul - mukul kepala ku berharap ingatan itu muncul.
"Apa yang kau lamunkan? Kejadian panas itu?" Ujar Evan tersenyum meledek seringai diwajahnya itu membuat dia terlihat menertawakan ku.
"Evan apa benar aku melakukannya aku tidak ingat sama sekali" tanya ku kembali penasaran atas sikap yang ditunjukan Evan.
"Setau ku kau memeluknya dengan erat, aku bahkan sampai cemburu dibuatnya" ujar Evan memeluk dirinya sendiri memeragakan bagaimana aku melakukannya.
"Benarkah?! aku pasti sudah gila" gumam ku pelan terbelalak.
"Jadi bagaimana?" Tanya Evan pada ku.
"Apanya?" jawab ku sedikit tersulut emosi karena malu.
"Evan aku sedang tidak bisa berfikir saat ini, jangan membuat ku melakukan keputusan yang berat" jawab ku uring - uringan membayangkan adegan senonoh yang sudah aku lakukan.
"Aku harap kau mempertimbangkan untuk melanjutkan pernikahan ini" Ujar Evan duduk dibibir ranjang, membuatku mengerutkan dahi heran.
"Kenapa? kau sudah bisa merelakanku?" tanya ku menggodanya.
"Dia jauh diatas kata pantas untuk mu" ucap Evan menepuk bunggung tangan ku, seolah menyakinkan semuanya.
"Apa?" aku masih dibuat bingung dengan semua dan dia memberikan saran yang membuatku kesal.
"Aku harus pergi ada yang harus aku kerjakan, sebaiknya kau tetap istirahat sebentar lagi Ibu pasti datang" Evan beranjak dari duduknya meninggalkan kamar yang aku tempati.
"Baiklah" aku kembali bersandar mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi 2 hari lalu, meskipun memalukan aku tetap harus mencobanya.
Tak lama Ibu datang dengan mangkuk berisikan bubur yang masih mengepul diatas nampan.
__ADS_1
"Kamu harus makan, setelah itu minum obat dan istirahat kembali" ucap Ibu menyuapkan bubur yang sudah mulai menghangat ke mulut ku.
"Bagaimana keadaannya Bu?" Tanya Bapak yang datang bersamaan dengan Husein.
"Sudah lebih baik, dia masih sedikit pusing" Jawab Ibu yang melihat ku tak merespon saat melihat Husein bersama Bapak.canggung.
"Benar begitu Nak? apa perlu kita ke rumah sakit lagi?" Tanya Bapak memastikan keadaan ku.
"Tidak perlu Pak" Jawab ku pelan.
"Baiklah" Ujar Bapak menganggukan kepala.
"Husein" Sapa ku pelan.
"Ya" Jawab Husein, dia terlihat sama canggungnya dengan ku, pandangan kami pun bertemu.
"Terima kasih" Ucap ku, memberikan senyum tipis meski berat karena malu.
"Sama - sama" Jawabnya menganggukan kepala.
"Indri Bapak sudah memutuskan, kalian hari ini akan melakukan nikah siri" Ucap Bapak membuat ku tersentak.
"APA?" ujar ku terkejut, ku tatap Husein dia sama terkejutnya meski dalam diam.
"Kenapa? kalian keberatan? setelah kalian menginap dalam 1 kamar bersama dan mandi bersama, apa kalian mau terlihat baik - baik saja setelah apa yang sudah terjadi?" Ujar Bapak seperti tersulut emosi saat melihat respon kami.
"Tapi Husein hanya ingin menolong ku Pak" jelas Bapak sudah tau, dia tidak mungkin tidak mengorek apa yang kami lakukan bukan.
"Meski ini semua terjadi secara tidak sengaja dan Husein hanya ingin menolongmu tetap saja dia sudah melihat apa yang selama ini kau jaga, jika suatu saat nanti kau menikah dengan orang lain dan bukan Husein apa kau masih punya muka saat suami mu mengetahui kejadian ini" Ujar Bapak sedikit membentak, aku sampai terkejut dan dibuat diam karenannya.
"Husein, Indri anak perempuan Bapak satu - satunya, dia pernah mengalami kegagalan dalam pernikahannya sampai sekaran cibiran orang itu masih bisa Bapak dengar, menurut mu apa yang akan Indri alami setelah keluar dari hotel ini, bangkai yang kita tutup rapat pasti akan tercium juga" Ujar Bapak menepuk bahu Husein yang masih terdiam terkejut dengan permintaan Bapak saat ini.
"Sudah Bapak putuskan Husein siapkan dirimu, sore ini Bapak akan menikahkan kalian secara siri" Ujar Bapak membuat keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Baik Pak saya bersedia menikahi Indri" Jawab Husein bersunggung - sungguh.
__ADS_1