Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Menjual Diri Karena Budi


__ADS_3

Adult Area Warning!!!


21+


Lelaki itu meraba dengan kasar sesekali menampar saat aku mempertahankan semua benda yang melekat ditubuh ku.


"Jangan.. Aku mohon, aku tak pernah menginginkannya" ujar ku lirih ketakutan


"Teriaklah sesuka hatimu, asalkan kau tau ruangan ini satu - satunya ruangan kedap suara dirumah ini, kau tau kenapa? Karena aku membuatkannya khusus untuk istri tercinta ku, aku tidak mau istri ku malu karena merasakan jeritan kenikmatan saat kami memadu kasih" ucapnya berbisik, mengendus dan menjilati daun telinga ku menyungingkan seringai menakutkan.


Seketika seluruh tubuhku bergetar, aku ada pada puncak ketakutan, aku hanya bisa berdiam dengan keringat dingin bercucuran membanjiri kening ku.


"Jangan pernah lakukan itu, kita sama sekali tidak memiliki perasaan sampai sejauh itu" hardik ku kesal


"Kenapa kau jadi mencicit ketakutan? Kemana Indri yang angkuh? Dan tadi apa yang kau bilang? Perasaan? Hahahahaha.. setelah ini kau bahkan tidak akan mengenal perasaan yang bisa membuatmu bahagia, hanya akan ada rasa sakit disetiap pernikahan kita" ucap Mas Ardi memicingkan mata elangnya.


Dengan kasar dia menarik baju piyama yang aku kenakan, piyama itu terkoyak dengan mata kancing terpental dan berjatuh, meski aku mempertahankan semua yang selama ini aku jaga tetap saja tenaganya tak sebanding dengan ku.


Satu persatu pakaian yang menempel pada tubuh ku dia tarik dan robek paksa, semakin lama semakin menjadi, dia tak segan - segan menyakitiku ada rasa perih dibagian tangan, dada dan paha akibat tarikan paksa yang ia lakukan.


Dia mengungkung ku dengan posisi dia diatas badan ku, pandangan kami pun bersiborok, dia menyesap bibir ku dengan kasar, aku sempat menolak tapi tamparan yang aku dapatkan dia menyesap,******* bahkan sesekali dia menggigitnya karena marah aku tak mau membuka mulut ku.


Lidahnya bergrilya didalam mulut ku, membelit lidah ku dan mengabsen deretan gigi yang ada, aku hanya bisa menangis dengan sesekali melawan meski tamparan yang ku dapat.


Plaaakkk

__ADS_1


tamparan itu lebih keras dari sebelumnya bahkan terdengar nyaring dan berdengung ditelinga ku.


"Berhenti menolak ku, kau terlalu angkuh hingga lupa kewajibanmu sebagai seorang istri! diam dan ikuti semua keinginan ku!" ucapnya marah kedua mata itu membola sempurna seperti siap menelan ku hidup - hidup.


Air mata bercucuran tak bisa ku bendung lagi, inilah harga yang harus aku bayar mahal.


Mas Ardi melepaskan celana piyama ku yang sedari tadi sudah koyak karena ulah kasarnya, hawa nafsu sudah membutakan mata hatinya sebagai manusia. Rasa sakit, perih dan terhina semua ku tahan dengan mata tertutup, aku hanya bisa mengigit bibir bawah berusaha untuk tidak mendesah dengan semua perlakuan mesumnya.


Lelaki itu bermain dengan kedua bukit kembarku, dia mengecup,******* bahkan mengigit puncak dada dengan kasarnya.


Setelah dia puas dia menghujamkan miliknya pada inti milik ku, aku memekik kesakitan, mencengram apa saja yang bisa aku jadikan pelampiasan ini sangat menyakitkan.


Dia bahkan tidak memberi jeda atau kesempatan pada inti kewanitaanku yang menyesuaikan sesuatu yang baru aku alami, aku hanya bisa menangis merintih kesakitan, apa salahku hingga aku diperlakukan macam binatang seperti ini.


Aku tau aku sudah menjadi istrinya tapi bisakan dia sedikit lebih manusiawi, bahkan jika aku seorang penjual kenikmatan yang jelas - jelas menjual dirinya, aku akan tetap menolak bila diperlakukan kasar seperti ini.


Sampai pada akhirnya, dia menambah laju gerakan berpacu dengan cepat dan lebih cepat hingga kedua tubuhnya menggoyangkan tubuhku dengan keras, dan akhirnya dia menuntaskan semua gairah hasrat yang dia rasa.


"Ini baru permulaan kedepannya kau akan mengalami kesakitan yang tiada akhir hingga putus asa yang kau dapatkan" bisik nya ditelinga ku dengan suara terengah - engah.


Mas Ardi bangun dan tidur telungkup disampingku, kenapa dia begitu membenci ku? apa sebenarnya salah ku? bukankah yang harusnya membenci itu aku? ini sangat menyakitkan dan aku merasa terhina.


Aku bangun dan duduk dibahu ranjang, kulihat bercak merah darah menodai sprai, kini kegadisan ku sudah hilang dirampas dengan paksa.


Husein hanya kau lelaki yang mampu menjaga marwah ku sebagai wanita, dalam kurun waktu 2 tahun hubungan hanya 2 kali kami berpelukan, kau selalu menghormati ku seperti kau menghormati Umi mu. Aku merindukanmu Husein.

__ADS_1


Aku terbangun dan tertatih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ku nyalakan shower untuk membasahi diri, ku tatap cermin yang hanya memperlihatkan setengah badan ku, penuh luka dan memar memerah. Aku kembali menangis dalam kucuran air shower yang membasahi tubuh.


Mas Ardi aku sangat membencimu, kau adalah laki - laki yang dengan sengaja menabuh genderang perang dengan ku, aku tidak akan tinggal diam diperlakukan seperti ini, Aku bukan wanita lemah yang hanya bisa menjadikan tangisan sebagai senjata untuk memintamu mengiba.


Aku membencimu sampai ke urat nadi ku.


Setelah melakukan bersih - bersih yang cukup panjang, aku kembali mengenakan piyama baru dari dalam lemari, setelah semua selesai aku keluar dari kamar dan berniat tidur di sofa ruang tamu, jam menunjukan pukul 5 pagi seharusnya Ibu mertua ku sudah bangun, terdengar bunyi langkah kaki aku berpura - pura tidur di atas sofa dengan mimik wajah ketakutan.


"Nduk kamu kenapa tidur disini?" Tanya Bu Ningsih ibu mertuaku dengan menggoyangkan bahu tangan ku.


"Aagghh.. jangan - jangan" ujar ku ketakutan dengan tangan menyilang di depan dada.


"Nak kamu kenapa sayang?" Ucap Ibu Mertua khawatir dia lantas meraba tembok untuk menyalakan lampu ruang tamu yang redup.


"Astagfirullah sayang kamu kenapa? Kenapa muka dan badan mu penuh luka?" Teriak Ibu mertua ketakutan mendengar suara ibu yang cukup keras Bapak Mertua pun berlarian menghampiri kami.


"Ada apa bu? ini masih subuh kenapa teriak - teriak?" tanya Bapak.


"Indri kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini semua?" tanya nya terkejut melihat keadaan ku


"Ja-ngan ja-ngan ini saja masih sakit jangan lakukan lagi, sakit ini sakit jangan lakukan lagi Mas Ardi ini sangat sakit" ucap ku terbata ketakutan.


"ARDI" bapak berteriak mengepalkan tangan dengan rahang mengeras


Bapak masuk ke kamar kami untuk menemui Mas Ardi sedangkan Ibu membawa ku dapur, Ibu membuatkan teh hangat dengan madu untuk ku. Aku menyesap perlahan teh yang Ibu buat.

__ADS_1


"Nak apakah Ardi meminta haknya dengan kasar? apakah ini semua ulah Ardi?" dia bertanya dengan mata berkaca - kaca dan tangan mengelus punggung ku.


"I-ya.. I-ya.. dia melakukannya, ini menyakitkan dia sangat kasar, di-a.. di-a menamparku dia menampar ku" ujar ku menangis dengan tatapan mata kosong.


__ADS_2