
Brrrraaakkk.
Husein menyapu bersih semua barang diatas meja dengan kedua tangannya, hingga makanan dan barang pecah belah berserakan dilantai
Bi Ati ketakutan menunduk mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding pembatas ruangan.
"Kenapa?! Ada yang salah?" Ujar Husein menatap nyalang Bi Ati dihadapannya.
"Tidak Tu- tuan" Jawab Bi Ati terbata ketakutan tanpa berani menatap lawan bicaranya.
"Husein.." Aku menghampiri Husen merangkul sebelah tangannya.
"Maafkan saya Nyonya, ma- maaf" ujar Bi Ati menunduk membungkuk - bungkukan badannya.
"Husein kau membuatnya ketakutan!" Ujar ku setengah berteriak melihat reaksi Bi Ati.
"Ma- maaf Tuan, saya hanya terkejut" Bi Ati terduduk dilantai dengan tetap menunduk ketakutan.
"Husein sudahlah, bukankah kau harus pergi sekarang?" Aku coba mengalihkan perhatian Husein, jujur reaksi seperti Bi Ati ini yang membuat ku merasa tak pantas bersanding dengan Husein, dulu saat dia hanya anak dari orang kaya saja aku tidak berharap apa lagi sekarang dengan kesuksesan dan gelimangan harta yang dia miliki.
"Jika ada yang kau inginkan kabari aku" Husein memberikan 2 buah kartu, seperti kartu ATM berwarna hitam dan emas.
"Aku akan kembali saat waktu makan siang" ujarnya lagi.
"Hheemm" Jawab ku menganggukan kepala tanda mengerti
Cup
Husein mengecup singkat bibir ku tanpa rasa canggung dengan orang yang ketakutan dan masih bersimpuh dihadapannya.
"Assalamualaikum" ujarna
"Waalaikumussalam" ku raih tangan kanannya dan menciumnya dengan takzim.
Selepas kepergian Husein, aku mendekati Bi Ati dan berjongkok dihadapnnya, ku raih kedua pundaknya membantunya untuk bangun.
"Bibi tidak apa - apa?" Tanya ku memastikan pecahan keramik dari piring tidak melukainya.
"Tu- tuan..?" ujarnya terbata menatap pintu yang masih terbuka mencari sosok Husein.
"Apa ini pertama kali Bibi melihat Husein seperti ini?" Tanyan ku pelan membuatnya terasa nyaman.
"I-ya... Ti- tidak" Bi Ati seolah mendapat ingatan mengenai sikap Husein saat ini.
"Jadi" tanya ku mencoba mencari tahu.
"Tuan pernah sekali mengamuk dan menghancurkan semua barang disini, Tuan berteriak nama Humairah, Indri dan Evan. Seperti seorang yang cemburu, tapi Bibi tidak tau siapa mereka, kejadian itu sekitar 2 tahun yang lalu tapi Bibi tidak berani mendekat, Bibi hanya mendengar dari balik kamar saya" Ujar Bi Ati mengingat kejadian menakutkan yang pernah dia alami.
"Humairah dan indri itu orang yang sama, itu saya" Jawab ku menatap Bi Ati, bila aku tak salah mungkinkah itu saat dia bertamu ke villa Bapak saat makan siang itu.
__ADS_1
"Oohh.. Ma- maaf Nyonya" Ujar Bi Ati menunduk kembali.
"Tidak apa, sekarang jika Bibi punya keluhan terhadap saya jangan menunjukannya didepan Husein, dia akan sangat marah jika ada orang yang menyinggung saya" Ujar ku menjelaskan apa yang harus Bi Ati hindari agar tak melukai dirinya.
"Ma- maafkan Bibi Nyonya" ujarnya menunduk mengangguk - anggukan kepalanya.
"Sudahlah, sekarang lebih baik kita bersihkan kekacauan ini" Aku dan Bi Ati segera membersihkan meja dan lantai dari pecahan gelas dan piring yang berserakan.
Berada dikamar selama beberapa jam membuat ku bosan, aku turun ke ruang dapur mencari keberadaan Bi Ati.
"Bi bisa antar saya ke pasar, saya ingin memasak untuk makan siang kita" Ujar ku pada Bi Ati yang sedang cuci piring.
"Baik Nyonya" Ujar nya menyelesaikan kegiatan cuci piring menghampiri ku.
"Kita pakai mobil saja Nyonya, Tuan sengaja meninggalkannya untuk mengantar Nyonya kemana saja jika Nyonya merasa bosan dirumah" ucap Bi Ati memberikan saran.
"Lantas dia mengendarai apa ke perkebunan?" Tanya ku heran,aku hanya melihat satu mobil saja disini.
"Tuan mengenakan motornya" jawab Bi Ati.
"Baiklah" Jawab ku.
Aku dan Bi Ati diantar Mang Deden ke pasar, aku membeli ayam, ikan , sayur serta buah - buahan semua terlihat masih segar meski aku berbelanja hampir memasuki waktu jam makan siang.
Sesampainya dirumah aku segera memotong sayur serta ayam, hanya masakan sederhama yang aku siapkan melihat waktu makan siang tinggal 2 jam lagi.
Aku meminya Bi Ati untuk mengkoreksi semua masakan yang aku hidangkan.
"Benarkah? Bibi tidak bohong?" tanya ku tak percaya, hidup selama satu tahun lebih menjanda dan mengurus salon membuatku jarang bergelut dengan bahan makanan di dapur.
"Saya tidak berani Nyonya" Jawab Bi Ati tersenyum.
Jam didinding sudah menunjukan pukul 1 siang, tapi Husein belum terlihat pulang atau mengabari ku lewat pesan singkat.
"Kenapa Husein belum pulang juga?" gumam ku pelan melihat benda pipih ditangan yang tak bergeming.
Aku memutuskan untuk membawa semua masakan yang sudah aku siapkan ke tempat Husein bekerja.
"Mang bisa antar saya ke tempat kerja Tuan?" tanya ku pada Mang Deden yang sedang duduk santai dibawah pohon mangga dekat pos didepan rumah besar ini.
"Siap Nyonya" Jawab nya mengambil kunci mobil di dalam pos.
Mang Deden adalah adik dari suami Bi Ati, usia nya sekitar 40 tahunan , kami sampai disebuah pekarangam perusahan yang cukup besar dengan pemandangan dikelilingi pergunungan.
"Terima kasih Mang, Mamang pulang saja duluan nanti saya pulang dengan Tuan" ujar ku meninggalkan Mang Deden
Aku diarahkan kesebuah ruangan oleh pegawai paruh baya saat bertanya dimana keberadaan Husein.
"Assalamualaikum" sapa ku pada beberapa orang yang sedang duduk bersama, seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
__ADS_1
"Waalaikumussalam" Jawab Mas Evan dengan yang lainnya.
"Dek" Mas Evan mendekat seolah seperti memeluk ku
"Mas" Jawab ku sedikit risih karena kami tidak sedekat itu.
"Diamlah aku ingin memberi pelajaran pada Suami mu" ujar Mas Evan pelan ditelinga ku.
"Hemmmppp" Husein berdehem keras saat melihat adegan pelukan kami.
"Maaf anda siapa?" Tanya wulan wanita yang aku ketahui sebagai sekertaris Husein disini.
"Dia adik ku" Jawab Mas Evan, mengedipkan sebelah mana. Ada apa ini? Baiklah aku akan ikut permainan mu Mas.
"Mas aku bawa makan siang, kita makan sama - sama" Ujar ku menunjukan rantang bersusun 4 berwarna warni kepada Mas Evan.
"Ehmmmpp" Husein berdehem dengan keras lagi membuat Mas Evan tersenyum senang.
"Baiklah, Tuan ini sudah waktu jam makan siang saya mohon undur diri" Ujar Wulan membubarkan beberapa orang yang tadi berkumpul mengelilingi mereka.
"Sudah puas?" Ujar Husein menatap ku dengan bibir mengerucut sebal.
"Belum" Jawab ku datar.
"Humairah!!" Husein setengah berteriak dengan nada manja.
"Tu-tuan?!" Wulan terkejut dengan kelakuan Husein yang memanggilku lain dari nama ku.
"Hei kau berani membentak Adik ku!" Mas Evan menunjuk Husein tidak suka dengan ucapan Husein yang dia anggap bentakan.
"Diam kau!" bentak Husein menatap nyalang kearah Mas Evan.
"Husein.." Sapa ku pelan saat melihat dia mudah sekali terpancing emosi jika bertengkar dengan Mas Evan.
"Sayang, kau jahat!" Husein merajuk membuang muka tak mau menatap ku.
"Aku juga membawa bekal makan siang untuk mu, ini cukup untuk 3 orang" Ujar ku melerai pertengkaran koyol yang terjadi.
"Untuk kita saja, dia tidak usah!" Jawab Husein bersikeras dengan kecemburuannya.
"Cih Adik ipar durhaka!" Mas Evan berdecih sebal menatap Husein
"Tu-tuan" ujar Wulan terbata dia masih kebingungan dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Ah kau pasti kebingungan, Wulan ini Indri calon istri ku" ucap Husein menjelaskan semuanya.
"Jadi waktu itu.." Wulan masih kebingungan melihat kami bertiga.
"Hubungan kami pernah memburuk dan membaik kembali setelah pertemuan itu" ujar Husein menjelaskan kembali.
__ADS_1
"Ooh seperti itu" Wulan sedikit mengerti dengan apa yang di jelaskan Tuannya.