
"Selesai sudah, kini sudah tidak ada anak gadis yang bau asem lagi hihihi" aku menertawakan diri sendiri saat selesai dengan kegiatan bersih - bersih ku.
"Indri sudah selesai belum? sini ibu mau kenalkan kamu dengan tamu ibu" tanya Ibu menyembulkan kepalanya didepan pintu
"Sudah Bu, memangnya mereka siapa Bu?" Tanya ku
"Sini biar Ibu kenalin"
Aku berjalan berdampingan dengan Ibu menghampiri tamu yang sedang asyik berbincang dengan Bapak.
"Sudah wangi tah?" Tanya Bapak
"Bapak ini seneng betul godain anak gadisnya" timpal ibu dengan gelengan kepala.
"Kenalkan ini teman ibu namanya Bu Ningsih dan ini suaminya Pak Prapto nah kalau yang ganteng ini namanya Ardiansyah permana anak dari Bu Ningsih dan Pak Prapto" tutur Ibu mengenalkan tamunya satu persatu.
Ku lirik pria yang Ibu bilang ganteng itu, dia mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna moca kulit bersih meski tidak seputih Husein.
Dia cukup tampan
"Salam kenal saya Indri anak kesayangan dari Ibu dan Bapak saya" aku mengenalkan diri dengan diiringi tawa dan canda
Mereka semua tertawa terkekeh atas candaan ku terkecuali lelaki itu, di bahkan tidak tersenyum untuk menghargai aku.
Hmmppp pria tua Arogan.
"Anak mu selain cantik dia juga sangat lucu bila aku memiliki menantu seperti dia sepertinya aku akan lebih muda sepuluh tahun setiap harinya" ujar Bu Ningsih yang dijawab gelak tawa oleh yang lain.
"Tapi tante bila setiap hari berkurang sepuluh tahun nanti baru aku menjadi menantu selama seminggu Tante sudah berubah menjadi adik kecil yang manis" jawab ku
__ADS_1
Semua tertawa kembali bahkan Bu Ningsih sempat mencubit pipi kanan ku meski tak sakit,tapi pria arogan itu hanya memutar bola mata malas.
"Berapa usia mu Nak? Kau pasti masih sekolah iya kan?" Tanya Bu Ningsih
"Tante benar sekali, aku baru berusia 17 tahun dan baru menginjak kelas 3 SMA dalam beberapa hari ini" jawab ku
"Ya Tante baru ingat saat kau lahir Ardi berusia 8 tahun" ujarnya membenarkan ucapan ku.
"Apa kau mau menikah dengan anak tante cantik?" tanya Bu ningsih terkesan menggoda
"Maaf tapi aku sudah punya calon dan tahun depan aku akan menikah" ucapnya seketika suasana hening.
Kenapa dia narsis sekali, memang siapa yang mau dengannya aku bahkan telah memiliki Husein yang lebih tampan dan ramah dibanding dia.
"Maafkan anak tante ya, Ardi memang seperti itu terkesan galak gaya nya sama persis seperti ayahnya arogan tapi penyayang, satu tahun lagi Ardi akan menikah kami semua kemari selain rindu kami juga bermaksud mengundang kalian semua untuk datang di acara pertunangan anak kami lusa" ujar Bu Ningsih menyampaikan perihal kedatangannya.
"Tentu, kami pasti akan datang kau adalah teman baik ku tidak mungkin aku sampai melupakan jasa - jasa mu" ucap Ibu menyambut gengaman tangan Bu ningsih
"Kau ini aku sedang tidak membahas itu" ucap Bu Ningsih
"Ibu berhutang apa pada Tante Ningsih?" Tanya ku penasaran
"Dulu saat ibu sedang hamil kamu, Ibu dan Bapak mengalami kecelakaan. Motor yang kami bawa tertabrak bus dari lawan arah beruntung kami bisa selamat tapi ibu mengalami pendarahan hingga harus melahirkan saat itu juga, saat itu kandungan ibu baru menginjak 32 minggu atau sekitar delapan bulan Dokter harus segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan kita berdua Nduk, saat itu Bapak dan Ibu tidak memiliki uang yang cukup meski kami telah menabung untuk biaya persalinan Ibu nanti di Bidan nyatanya Allah berkehendak lain, Bapak sudah kesana kemari mencari pinjaman dengan jaminan sertifikat rumah dan tanah karena Ibu bisa dioperasi bila sudah ada uang yang masuk minimal setengah dari keseluruhan biayanya, beruntung kami bertemu Bu Ningsih dan Pak Prapto dirumah sakit mengantar nak Ardi yang sedang sakit saat itu, setelah kami hampir putus asa mereka membantu kami dengan ikhlas tanpa mau menerima jaminan sertifikat rumah dan tanah kita bahkan mereka menolak untuk menerima uang ganti yang telah kami pinjam, Ibu sangat bersyukur atas pertolongan mereka berdua hingga saat operasi selesai Ibu berjanji bila suatu saat anak - anak kami dewasa kami akan menjodohkannya" ucap Ibu panjang lebar mengenang masa - masa sulitnya.
"Itu hanya perjanjian lelucon saja, kami akan lebih mementingkan anak - anak kami bila mereka memang sudah memiliki pasangan maka perjodohan itu tidak berlaku lagi" ucap Bu Ningsih
Syukurlah Ibu memiliki teman yang teramat baik seperti Bu Ningsih, beruntung pula aku tidak perlu menjadi alat untuk membalas budi.
"Apa kecelakaan itu juga yang menyebabkan Ibu tidak bisa memberikan adik untuk ku?" tanya ku pelan takut - takut kalau ucapan ku membuat Ibu bersedih
__ADS_1
"Betul Nduk, maka dari itu kami sangat bersyukur bisa memiliki mu ibu dan Bapak tidak tau apa yang akan terjadi bila saat itu kami harus kehilangan mu juga, Ibu akan selamanya berhutang budi akan kebaikan Bu Ningsih dan Pak Prapto" jelas Ibu tersenyum
Bapak dan Ibu memeluk ku dengan mata berkaca - kaca. Ibu dan Bapak bergantian menciumi pipi ku.
Terima kasih ya Allah kau berikan hamba keluarga yang saling menyayangi dan tetaplah seperti ini.
"Tante terima kasih, atas bantuan tante aku bisa merasakan memiliki Ibu dan Bapak yang menyayangi ku" ucap ku tulus yang dibalas pelukan hangat oleh Bu Ningsih
"Sama - sama sayang, Tante hanya kebetulan saja dan saat itu Allah memberikan rezeki lebih hingga tante bisa menolong Ibu dan kamu. Tante tidak menyangka bahwa bayi mungil yang tante tolong telah berubah menjadi gadis yang cantik"
"Kami ke sini untuk melepas rindu kenapa jadi ada drama menyedihkan seperti ini ish kau ini" ucap Bu Ningsih memukul pelan tangan Ibu.
"Hari sudah hampir larut malam lebih baik kita pulang sekarang" ujar Pak Prapto
"Terima kasih sudah berkunjung, kami senang sekali" Ibu memeluk Bu Ningsih.
Setelah berpamitan mereka berlalu pergi menggunakan mobil MPV kini aku tau kisah dibalik kelahiran ku dan kenapa ibu tidak bisa melahirkan lagi.
"Sudah malam Nduk sebaiknya kamu masuk ke kamar dan istirahat" ucap Bapak seraya mengelus puncak rambut ku.
ku rebahkan diri diatas kasur, mata menerawang menatap langit - langit ternyata dulu hidup kami lebih susah hingga berhutang nyawa pada sebuah keluarga.
Dering ponsel membuyarkan lamunan ku, ku tatap benda pipih itu tampak nama my mine
tertera.
"Asalamualaikum Husein ada apa?"
"Humairah apa kau baru saja dilamar seseorang??" Tanya nya penuh selidik
__ADS_1
Laki - laki pencemburu ini mulai lagi dia pasti melihat pria arogan itu.