
Merasa puas hati setelah memperlakukan Jeslyn, aku menggandeng tangan Husein meninggalkan kerumunan pesta membiarkan dia menjadi buah bibir sekitar.
"Menjengkelkan" gumam ku geram melepaskan pegangan tanggan Husein
"Kenapa lagi? Bukankah kau sendiri sudah memperjelas semuanya sekarang apa lagi salah ku sayang?" Tanya Husein kebingungan dengan kemarahan ku.
"Kau tetap salah dan menyebalkan" ujar ku tersulut emosi menatapnya nyalang, dasar lelaki tidak peka.
"Apa lagi?" Husein meraih tangan ku dan memeluk ku.
"Pokoknya kau tetap salah" Aku mendorong Husein menjauh dan pergi ke meja minuman, menyebalkan berada dekat dengannya.
"Humairah" Teriak Husein memanggil ku dari kejauhan.
"Boleh aku meminta minuman dingin?" Tanya ku pada pelayan yang bertugas menjaga meja minuman tersebut.
"Silahkan Nona" Jawab pelayan pria tersebut.
"Terima kasih" aku mengambil gelas bertangakai dengan berisikan air berwarna merah maroon dan meminumnya hingga tandas.
"Tapi Nona yang itu.." Pelayan seolah mencoba melarang aku meminumnya tapi terlambat.
"Aggghhh.. kenapa minuman ini pahit, getir dan terasa panas ditenggorokan?" Tanya ku pada pelayan heran.
Husein datang dan merebut gelas yang masih ku pegang lalu mengendusnya.
"Kau memberinya minuman beralkohol?" Tanya nya melayangkan tatapan tajam pada sang pelayan.
"Maaf Tuan, Tapi Nona sendiri yang mengambil minuman itu, saya sempat melarang tapi dia meminumnya sampai habis" ujar pelayan itu membela diri.
"Husein kenapa kepalaku terasa berat sekali?" Aku perasakan pusing yang teramat dibagian depan kepala.
"Berapa persen kadar alkoholnya" tanya Husein
"Itu red wine dengan kadar 15 % Tuan" Pelayan itu menunduk takut.
"Si4l!" Husein menyimpan gelas kosong ditangannya dengan kasar diatas meja minuman.
"Husein kenapa disini panas sekali?" Aku menarik - narik jilbab dibagian leher karena kepanasan.
"Sayang lebih baik kita pulang" Husen meraih tangan mencegah ku membuka jilbab yang aku kenakan.
"Aku ingin berenang" rasa panas ini membuat ku tak bisa berfikir.
"Kau boleh berenang semaumu dirumah ku dan hanya boleh aku yang melihatnya" Jawab Husein menatap ku.
"Husein kau nakal sekali, tapi baiklah kita akan berenang bersama hihihihi" Aku memukul dada Husein sepertinya menyenangkan sekali bisa berenang bersama.
"Humairah jangan menggoda ku" Bisik Husein ditelinga.
__ADS_1
"Gendong aku! kedua kaki ku sepertinya berubah menjadi agar - agar, mereka tidak bisa menopang tubuh ku, lihat!" Aku menunjukan kaki yang tertutup gaun didepan Husein agar dia percaya jika kedua kaki ku sudah berubah.
"Baiklah" Jawab Husein, dia menggendong ku ala bridal style
"Waah.. aku seperti terbang"Jawab ku terkejut, karena takut jatuh aku melingkarkan kedua tangan ku di leher Husein.
"Diamlah" Ujar Husein setelah melihat kerumunan memerhatikan kami berdua.
"Ssstttttt, Humairah diam" aku berbicara pelan dengan mengerucutkan bibir seolah mengunci mulutku sendiri.
"Kau bahkan lebih lucu saat sedang mabuk" ujar Husein menatap ku.
Husen membelah jalanan di tengah kerumunan Lobi, hingga ada seorang pria yang mencegat kami di tengah perjalanan.
"Husein ada apa ini?" tanya Randi yang mengkhawatirkan kami berdua.
"Humairah salah minum, dia meminum minuman beralkohol aku harus segera membawanya pulang" Jawab Husein menjelasakan semuannya.
"Dia lucu sekali" Ucap Randi melihat ku mengerucutkan bibir dengan jari telunjuk didepannya.
"Jangan pernah menyukai istri orang" Geram Husein menatap Randi yang terus memerhatikan ku.
"Baiklah, Bye - bye Indri" Randi melambaikan tangan.
"Bye - bye Randi, Dia manis bukan?" Tanya ku menengok pada Husein.
"Ya suami mu memang manis" Jawab Randi tersenyum ketir.
"Aku tau.. hahahahaha" Randi tertawa seolah itu lelucon yang bagus..
"Kau masih bisa memujinya saat mabuk seperti itu, Husein kau memang beruntung" Ujar Randi melihat aku dan Husein secara bergantian.
"Tentu, kirimkan permintaan maaf ku pada yang lain" Ujar Husein mengakhiri perbincangan mereka
"Baik, hati - hati dijalan" Jawab Rendi melambaikan tangan
Husein membawaku ke area parkir didepan Hotel, Husen mendudukan ku di bangku samping kemudi.
Husein mengitari bagian depan mobil dan duduk disamping ku didepan kemudi.
"Husein aku ingin membuka jilbab? disini terasa panas sekali" Ujar ku sedikit kesal.
"Baiklah, karena kau sudah didalam mobil kau bisa melepaskan jilbab mu" Jawab Husein menganggukan kepala.
Aku mulai menarik dan melepaskan beberapa jarum pentul dan peniti yang tersemat di jilbab ku, aku menggeraikan rambut dan sesekali menyisirnya dengan jari jemari ku.
Husein mendekat dan memasangkan self belt ditempat duduk ku, seketika pandangan mata kami bersiborok aku mematung menatap wajah tampannya, aroma Husein dan deru nafasnya bisa aku rasakan hingga bunyi Klik pada self belt membuatku tersadar kembali.
Husein mengemudikan mobil dan membuatnya melaju cukup kencang dijalanan, rasa sakit dikepala perlahan memudar dan kantuk itu pun tiba, aku terlelap selama perjalanan kami pulang.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, dia tertidur" ujar Husein saat melihat ku terlelap disampingnya.
Husein turun dan membuka pintu mobil tempat duduk ku untuk menggendong memindahkan aku ke dalam rumah.
"Tuan Husein?" Sapa seorang wanita paruh baya yang membuat ku terjaga.
"Bi, Tolong belikan susu murni dan makanan" Husein memberikan Wanita itu beberapa lembar uang pecahan seratur ribu rupiah.
Husein menggendong ku ala bridal style.
"Ini siapa Tuan?" tanya nya melihat aku dalam gendongan Husein.
"Istri saya" jawab Husein melihat wajah ku
"Nanti saya ceritakan, sekarang cepat belikan yang saya suruh" ujar Husein melihat wanita itu kebingungan dengan pernyataan Husein sebelumnya.
Saat hendak masuk Husein berbalik dan menatap wanita paruh baya itu.
"Bi jangan sampai apa yang Bibi lihat orang tau mengerti?" ucap Husein pada wanita yang dia sebut Bibi.
"Baik Tuan" jawabnya berlalu pergi melewati gerbang rumah.
"Siapa dia Husein? kau berselingkuh?" Tanya ku menyipitkan kedua kelopak mata menatap Husein.
"Tidak mungkin sayang, dia Bi Ati orang yang menjaga rumah kita" Jawab Husein, dia berjalan memasuki rumah yang cukup besar berlantai dua.
Kami memasuki kamar yang cukup besar bercat monocrom dilantai dua, Husein memberingkan ku di atas ranjang dan saat dia berpaling ingin meninggalkan ku aku mencegahnya dengan menarik sebelah tangannya.
"Husein apa kau sangat sayang pada ku?" tanya ku padanya dengan tatapan datar, efek alkohol lama kelamaan mulai menghilang hanya menyisakan sakit dikepala yang masih bisa membuat ku terjaga.
"Tentu saja, kenapa memangnya?" Tanya Husein duduk di pinggir ranjang menemaniku.
"Karena aku sangat menyayangimu" Jawab ku membuat Husein tersenyum malu, aku bahkan bisa melihat rona merah dipipinya
"Benarkah?" tanya nya seolah tak percaya.
"Hmmmpp, kau tak percaya?" Tanya ku mengerucutkan bibir.
"Buktikan!" ujarnya.
"Buktikan? Baiklah" Aku terbangun dan menubrukan tubuh Husein hingga dia tertidur diatas ranjang dengan aku diatas tubuhnya.
"Mmppcchh.." aku mencium Husein, melu -mat bibir bawah Husein dan memainkannya dengan lidah, Husein memeluk ku kami berdua terbuai bersama.
Tangan yang sedari tadi mengalung indah dilehernya ku turunkan perlahan meraba leher dan dadanya.
Satu persatu kancing kemeja Husein terbuka oleh ku, aku menyentuh dan meraba bongkahan roti sobek miliknya, bibir ku mulai turun mengecupi leher serta dada kekarnya.
"Apa yang kau lakukan Humairah?!" Husein terperanjat mendorong bahu ku hingga aku terjungkal dan berbaring diranjang.
__ADS_1
"Memberikan malam pertama kita sebagai bukti" Jawab ku sedih dengan perlakuan Husein, aku bahkan sampai meneteskan air mata mendapat penolakan Husein.
"Apa?! Kau serius dengan ini?" Tanya Husein memastikan, dia seperti frustasi dengan apa yang telah aku lakukan.