Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Hitam Diatas Putih


__ADS_3

Dimeja makan semua berkumpul, setelah menyelesaikan sarapan Bapak mertua ku menyuruh semua yang ada duduk diam ditempatnya masing - masing.


"Ardi apa ada yang ingin kau ucapkan ssebelum Bapak turun tanggan?" Tanya Bapak


Mas Ardi hanya terdiam menunduk sesekali dia mendokakan kepalanya menatap diriku.


"Cepat katakan !!" ujar Bapak menggebrak meja dengan sorot mata tajam menatap Mas Ardi


"Ma-af.. Ma-afkan aku, aku melakukannya dengan tidak sadarkan diri, saat itu aku sedang mabuk maaf aku sudah memyakiti mu, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi maafkan aku" ucapnya dengan beberapakali menundukan kepalanya.


"Aku ingin pisah!" Ucap ku tegas sorot mata ku memancarkan kebencian yang mendalam, setelah semua yang dia lakukan dengan mudahnya dia meminta maaf.


Jika dia memang kesal dengan perjodohan yang telah orang tuannya lakukan kenapa dia tidak berusaha menolaknya? aku pun tak sudi jika harus memiliki suami yang kasar dan sering main tangan sepertinya, yang seharusnya marah disini adalah aku, aku sudah berbaik hati menerima dengan lapang dada perjodohan ini, aku bahkan merelakan masa muda ku untuk mengabdi menjadi istri, aku baru berusia 18 tahun dimana masa - masa ini harusnya aku mengejar pendidikan dibangku kuliah bukan memuaskan hawa nafsu menjadi istri seorang pria arogan dan kasar.


"Apa kamu sudah pikir baik - baik Nak?" Tanya Ibu halus, Ibu pasti menyadari disini anaknya lah yang salah jadi dia tidak mungkin melarang ku untuk berpisah


"Aku yakin Bu" ucap ku, dengan semua luka yang aku dapat akan sangat mudah untuk melayangkan gugatan perceraian.


"Jangan indri, maafkan aku.. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, semalam aku hanya lepas kendali karena mengkonsumsi alkohol dengan dosis tinggi" Mas Ardi bersimpuh dikaki ku, aku bahkan bisa melihat jika dia bersungguh - sungguh.


"Kau bisa mengajukan persyaratan apa saja asalkan tidak ada kata cerai diantara kita" ucapnya mengiba


"Maaf tapi tekad ku sudah bulat pernikahan ini sedari awal sudah salah, dan disini hanya aku yang menjadi korban, hanya aku!" ucap ku tegas aku tak mau tergoyahkan dengan sikap memelasnya


Aku berdiri melangkahkan kai menuju kamar mencoba mengakhiri semuanya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika kau hamil? bukan kah semalam adalah masa subur mu?" ucapan Mas Arya menghentikan langkah ku.


Apa? bagaimana dia tau jika semalam masa subur ku, ah benar saat pernikahan adalah saat aku mengalami datang bulan dan aku baru beberapa hari ini selesai, sial.


"Lantas mengapa?" Tanya ku membalikan tubuh menatap matanya


"Nak kau tidak bisa bercerai disaat kau hamil" ucap Ibu pelan.


"Apa kau sengaja menjebak ku?" Tanya ku marah.


"Nak kau sedang dalam keadaan emosi, sekarang istrahatlah dulu nanti kita bicarakan lagi" ucap Bapak menenangkan ku


"Bagaimana jika kita tunggu sampai bulan depan jika ternyata benar kau hamil, kau tidak bisa mengajukan vugatan perceraian tapi jika kau tidak hamil aku akan melepaskan mu" ucap Mas Ardi


"Baiklah, tapi selama satu bulan ini kau tidak boleh menyentuh diri ku, aku akan tidur diruang tamu" aku pergi berlalu dengan mimik muka kesal, semoga saja aku tidak hamil.


Aku berbaring dalam ranjang pasien, perawat membuka sebagian baju menampakan perut rataku, Bidan itu memberikan gel dingin diatas perutku dia memutar -mutar alat pendeteksi detak jantung janin diatas perutku.


"Bayinya sehat bu, bisa kita dengar dengan jelas suara detak jantungnya" ucap Bidan tersebut seketika air mata ku lolos begitu saja, pupuslah semua angan ku untuk berpisah dengannya.


"Jadi maksud Bu Bidan istri saya hamil begitu?" Tanya Mas Ardi antusias, mendengar ucapan Mas Ardi aku melayangkan tatapan benci karena dengan leluasanya dia menyebutku istrinya, ucapan itu terdengar seperti benda tajam yang menusuk telinga ku.


"Apa kalian belum mengetahuinya?" Tanya Bu Bidan heran


"Justru kami kesini bermaksud untuk mengetahuinya karena menantu saya bulan ini telat datang bulan" ucap Ibu beralasan

__ADS_1


"Wah Ibu pasti sangat menyayangi menantunya, selama saya menjadi Bidan saya tidak pernah menjumpai ibu hamil yang diantar oleh keluarga suaminya, bila hanya suaminya bukan hal yang aneh bagi saya" Bidan itu pun tertawa pelan


"Nona kapan terakhir kali anda mendapatkan menstruasi?" tanya Bu Bidan


"Sekitar satu bulan yang lalu Bu Bidan" jawab ku


"Bisa jadi usia kandungan saat ini sekitar satu bulan, untuk lebih jelasnya calon ibu bisa melakukan USG untuk memastikan usia janin dan Hari Perkiraan Lahiran, ini ada vitamin dan tablet penambah darah, usahakan jangan stres dan melakukan pekerjaan terlalu berat usia saat ini masih sangat rentan" ujar Bu Bidan menyerahkan beberapa lembar vitamin dan tablet tambah darah


Sesampainya dirumah aku terduduk lesu dengan apa yang baru saja aku tau, ada janin didalam perut ku, bukan perkara janin yang aku sesalkan hanya Ibu yang tak pandai bersyukur mengeluh karena kehamilannya, aku hanya tidak mau melanjutkan pernikahan ini, aku bahkan tidak akan keberatan menjanda dalam keadaan mengandung.


"Indri apa kau harus bisa menerima semua ini Nak, perceraian adalah suatu hal yang paling dibenci Allah, berikan kami kesempatan untuk merawat cucu kami yang masih ada dalam kandunganmu" ucap Ibu mengiba, Bapak bahkan sudah berkaca - kaca menahan air matanya.


"Aku ingin ada hitam diatas putih, aku ingin ada perjanjian yang bisa melindungi aku dan calon bayi ku, aku tidak akan menerima alasan apapun jika kalian tidak mau melakukannya"


ucap ku mencoba tenang meski sedari perjalanan pulang tadi aku sudah menahan kekesalan mengetahui aku tidak bisa berpisah dengan Mas Ardi, aku lebih memilih menahan emosi karena takut kekesalan ku berakibat buruk terhadap si kecil


"Aku tidak mau kejadian tempo hari terulang kembali dan berakibat fatal pada janin ku"timpal ku lagi


"Baiklah apa isi perjanjian yang kau inginkan?"


Tanya Mas Ardi pasrah


"Isi perjanjian tersebut adalah jika kau melakukan kekerasan rumah tangga dan berselingkuh maka saat itu juga aku berhak melakukan gugatan perceraian tanpa kata banding dari pihak kau" ucap ku penuh penekanan.


"Baiklah aku setuju, aku akan menyewa notaris agar perjanjian ini memiliki hukum yang kuat agar membuat mu tenang" ucap Mas Ardi

__ADS_1


"Apa aku boleh memegang perut mu?"tanya Mas Ardi kedua matanya menatap perut yang masih datar ini.


"Tidak, Aku ingin sendiri jangan pernah memaksa ku dan membuat ku dalam tekanan"


__ADS_2