
Aku memasuki ruangan gelap tanpa pencahayaan sedikitpun, ku pertajam tatapan ku tapi tak ku lihat siapapun dalam ruangan ini.
Dengan perlahan dan meraba - raba aku berjalan bagaikan orang buta, aku bermaksud membuka jendela untuk mendapat cahaya dan menemukan dimana saklar lampu.
Tepat saat tangan ku meraba sebuah pintu pintu itu pun terbuka, aku terjatuh dan memeluk seseorang dengan bertelanjang dada dan tetesan air yang masih membasahi badannya.
"Aaaagghhppp..." Aku berterik karena terkejut berniat melepaskan pelukan, namun orang yang didepan ku malah menutup mulut ku dengan tangannya.
"Diam!! Kau ingin Ummi kemari dan langsung menikahkan kita saat melihat aku tanpa busana sedang berpelukan denganmu?" ucapnya pelan hampir berbisik di telinga ku
"APA?!" ucap ku terkejut, tanpa busana dia bilang? Ya Allah maafkan aku.
"Diam! Pegang pundak ku agar kau tak terjatuh" ucapnya meraih ke dua tangan ku dan menyimpannya dipudaknya dengan posisi kami masih berhadapan.
Jarak yang begitu dekat membuat ku dapat mencium dengan jelas aroma mint shampo yang Husein gunakan, tetesan air dari rambutnya berjatuhan membasahi punggung tangan ku.
"Husein jangan macam - macam" ucap ku mengancam.
"Cih, siapa yang macam - macam duluan, kau masuk ke kamar ku mengendap - endap bagaikan maling" ucap Husein memandu ku melangkah perlahan ke tepi ranjang.
"Maaf" ujar ku menyesal.
Mengetahui pintu yang tidak terkunci membuat ku tidak berfikir jika Husein sedang melakukan aktifitas didalam kamar mandi.
"Sudah diam, duduklah aku akan menyalakan lampunya" ucap Husein mendudukan ku di tepi ranjang.
Tak lama lampu pun menyala, aku perlahan membuka mata saat tadi ruangan berawal gelap membuat silau saat cahaya itu ada.
Gluk.
Aku kesulitan menelan saliva saat melihat pemandangan dihadapanku, Husein tidak benar - benar tanpa busana dia memakai celana boxer pendek dengan baju kimono handuk tanpa terikat hingga badan atletis serta roti sobek terpampang nyata menggoda dihadapan ku.
Husein mendekat dengan seringai senyum aneh diwajahnya, aku masih mematung dengan pemandangan dihadapan ku.
"Apa ini menggoda mu?" tanya Husein dengan seringai aneh.
Tanpa aku sadari aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
Cletak.
__ADS_1
Husein menyentil kening ku cukup keras.
"Ah sakit!!" ucap ku setengah berteriak mengelus rasa panas kening bekas penganiayaan Husein.
"Tutup mata mu! Melihatnya suka diajak nikah tidak mau, kau ingin terus membuat dosa?" Ucap Husein ketus mengikat kimono handuk rapat hingga roti sobek itu tertutup rapat.
"Hehehehehe, sejak kapan perut kerempeng itu berubah menjadi roti sobek?" ujar ku terkekeh pelan menyadari kebodohan yang sudah aku lakukan.
"Kau benar - benar nakal ya!" ujar Husein gemas dengan kedua tangan bersedekap didadanya.
"Hahahahaha, aku kan sudah lama tak melihat seperti itu Husein jadi harap dimaklum" jawab ku asal.
"Humairah jangan menggoda ku, kau ingin aku membuka kimono handuk ini?" ujarnya geram.
"Tidak - tidak, aku akan menunggu mu di luar kau bisa berpakaian dulu" Jawab ku ketakutan, tentu saja aku takut aku mungkin hanya mematung tapi membayangkannya aku jelas saja takut iman ku tak setebal itu.
"Tidak perlu kau tunggulah disini, aku akan berganti pakaian di walk in closet" Husein meninggalkan ku dan menuju ruang ganti.
Selang beberapa menit Husein keluar dengan pakaian santai, celana joger hitam panjang,kaos oblong berwarna putih polos dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut yang masih basah.
"Ada apa kau kemari?" tanya Husein duduk di kursi dekat jendela.
"Ya, jadi jelaskan apa tujuan mu?" Husein menatap datar diri ku.
"Husein apa kau masih marah? bisakah kau memaafkan aku?" Ucap ku melembut, aku sangat ingin tetap menjadi orang yang ada disekitarnya walaupun itu hanya teman.
"Aku tidak marah, aku hanya kesal saja" jawabnya mengalihkan pandangan menatap jendela kamar yang dia buka.
"Mau berteman dengan ku?" Tanya ku
"Tidak teman ku sudah banyak dan tidak ada yang berguna" jawaban Husein membuat ku terkekeh pelan, sejak kapan dia punya teman banyak.
"Husein" ucap ku melembut.
"Aku ingin kau menjadi Istri ku" jawabnya tegas
"Husein" ujar ku lagi.
"Kenpa laki - laki itu bisa menjadi suami mu sedangkan aku tidak?" Tanya nya seprti marah.
__ADS_1
"Husein" kini aku sedih melihat betapa gigihnya Husein menginginkan ku.
"Jelaskan alasan mu" ujarnya geram.
"Husein, apa kau tidak malu mendapatkan pendamping seorang janda beranak 2, kau bukan dari kalangan orang biasa, apa kau mau melempar kotoran ke wajah orang tua mu karena menikahi wanita seperti ku" Jelas ku, aku tidak mau status dan anak - anak ku menjadi beban bagi dirinya kelak.
"Apakah menjadi seorang janda adalah aib yang menakutkan?" tanya Husein menoleh menatap wajah ku pandangan mata kami pun bertemu, aku menunduk menyembunyikan kesedihan yang selama ini aku terima.
"Bagi sebagian orang seperti itu, bahkan saat pertama aku menyandang status menjadi janda semua ibu - ibu mengucilkan ku, mereka ketakutan jika suaminya berdekatan dengan ku"
"Separah itu kah?" ucap Husein lirih.
"Sudahlah Husein jangan dibahas, kau mau berteman dengan ku tidak?" Tanya ku dengan senyum manis mengembang sempurna.
"Baiklah, setidaknya aku bisa mengusir laki - laki yang berniat mempersunting mu, supaya kita bisa melajang bersama" Ujarnya membuat ku membelalakan kedua bola mata ku. Anak ini.
"Husein kenapa terdengar menyeramkan sekali motif dibalik pertemanan yang kau setujui" ujar ku sebal.
"Kenapa? kau tidak mau?" tanya nya.
"Terserahlah aku pusing memikirkan keras kepala mu" ucap ku mengalah.
"Husein bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya ku mengalihkan pembicaraan yang selalu membuatku kesal.
"Kenapa? Kau ingin menjadi perawat pribadi ku" tanya Husein tatapan matanya seolah menyelidik.
"Ya, sebagi upahnya aku bisa memperlakukan mu sesuka ku" jawab ku datar.
"Apa yang kau rencanakan? melihat ku bertelanjang dada?" Tanya nya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Husein!!" ucap ku setengah berteriak melemparkan bantal ke wajah Husein.
"Hahahahahaha, muka mu memerah Humairah" ucap Husein tergelak menertawakan ku.
"Kau menyebalkan!" ku rebut bantal dalam pelukannya dan memukulinya tanpa henti dengan bantal itu.
Suara gelak tawa Husein menggema membuat ku tersadar bahwa ini adalah tawa pertama Husein selepas dia mendapatkan kesedihan yang berlarut -larut.
Husein aku akan pastikan kau selalu baik - baik saja dan mendapatkan kebahagiaan mu.
__ADS_1