
Semua tampak terjaga disamping Indri yang berbaring lemah di atas ranjang, muka canting berwarna pucat itu kini sudah mengenakan pakaian kering dan merasa hangat.
Perhatian merekapun teralihkan saat jari jemari Indri bergerak secara perlahan, semua terkejut karena senang karena akhirnya Indri bisa sadar dari tidur lamanya, Ibu menghampiri dudukdi tepi ranjang dan mengenggam tangannya.
"Hu...seeeiin ...." Itu kata pertama yang Indri ucapkan.
Mendengar kata pertama yang diucapkan adalah orang lain Ibu berdiri, memberi ruang untuk Husein duduk dipinggir ranjang diapun menggenggam tangan Indri mengantikan Ibu.
"Ya ini aku" Jawab Husein lembut.
"Huu..ssseeee..iinn tolong jangan tinggalkan aku" Ujar Indri yang ketakutan tampak keringat dingin keluar disekitar dahi dan pelipisnya dengan mata masih tertutup rapat.
"Aku ada disini" Husein menggengam kedua tangan Indri meyakinkan jika dirinya ada didekatnya.
"Aku takut" ujar nya lirih hampir tak terdengar.
"Istirahatlah aku akan menemanimu disini" Jawab Husein menyeka keringat yang memenuhi dahi Indri dengan handuk kecil.
Perlahan Indri mengerutkan dahinya mencoba membuka mata dan melihat keadaan sekitar, kedua matanya terbuka hampir sempurna namun yang tampak jelas dalam pandangannya hanya Husein sedangkan 3 orang dibelakangnya terlihat samar, wajah mereka bagaikan orang - orang yang sudah mencelakainya.
"Husein jauhkan mereka dari ku,mereka orang - orang jahat!!" Teriak Indri terkejut histeris memeluk erat Husein yang ada didekatnya.
Husein tampak kebingungan,dia sama terkejutnya dengan apa yang Indri lakukan.
"Kami memang sudah menikah siri tapi itu hanya di atas kertas apakah aku boleh memeluknya seperti ini?" Pikir Husein.
Pak Yusuf, Ibu Risma dan Evan terkejut dan khawatir melihat keadaan Indri apa lagi ketakutan yang Indrj tunjukan setelah melihat mereka.
Husein menyadarkan pikiranya dan mencoba melepaskan pelukan Indri.
"Baiklah aku akan mengusir mereka, kau istirahatlah" Ujar Husein mencoba menidurkan Indri kembali.
"Tidak jangan tinggalkan aku, ku mohon" Indri histeris kembali dan memeluk Husein lebih erat dari sebelumnya.
Dua gunung kembar milik itu mendesak Husein hingga dia merasa sesak di dada juga dibagian bawah, serasa ada yang ingin memberontak keluar untuk mengajaknya bermain.
__ADS_1
"Sial" geram Husein dalam hati
"Humairah" Husein mencoba menahan rasa bergetar dalam hatinya dengan tetap menyakinkan Indri untuk melepaskan pelukannya.
Tubuh Indri melemah dia memegangi keningnya yang terasa berat, Indri merasakan mual yang memenuhi ulu hati tak lama Indri pun muntah yang berisikan cairan kuning.
"Wuueeehhkkkkk..." Indri terjatuh diatas ranjang dan kembali tak sadarkan diri.
"Indri.."Teriak Ibu histeris
"Cepat panggil dokter!" ujar Hussein setengah berteriak ketakutan.
Indri memang sedang demam tapi setelah kejadian muntah tadi mendadak suhunya naik dan tinggi lebih dari sebelumnya, melihat semua ini Husein menjadi panik karenanya.
"Husein kenapa dengan Indri? kenapa dia ketakutan melihat kami?" Tanya Pak Yusuf kebingungan melihat putri kandungnya ketakutan melihat keluarganya sendiri.
"Akupun tidak tau, kita akan segera mengetahuinya setelah Dokter datang dan memeriksanya" Ujar Husein menenangkan yang sebenarnya diapun ketakutan akan hal buruk terjadi terhadap Indri.
Tak lama Dokter dan Evan pun datang, Ibu langsung mempersilahkan Dokter memeriksa Indri, ketakutan terlihat diwajah semua orang.
"Tidak Dok, tapi dia baru saja mengkonsumsi obat ini, dia dijebak oleh kliennya" Husein sempat mengambil bekas bungkus obat perangsang yang dikonsumsi Indri sebelum membawanya ke kamar yang dia pesan
"Dia telah mengkonsumsi obat perangsang dosis tinggi yang ilegal, merk dagang ini tidak diperjual belikan di negara kita efek samping dari obat ini mual, muntah, sakit kepala hingga demam tinggi jika keinginannya tidak tersalurkan" Ujar Dokter menjelaskan secara rinci apa yang dia tahu mengenai obat itu.
"Lantas kenapa dia tidak mengenali kami sebagai keluarganya" Tanya Pak Yusuf khawatir.
"Dikarenakan demam tinggi seseorang bahkan bisa berhalusinasi karenanya"Jelas Dokter memberi pengertian agar semua memakluminya.
"Apakah Indri akan baik - baik saja?" Tanya Husein raut wajahnya terlihat sangat mencemaskan Indri.
"Apa anda suaminya?" Tanya Doktek memastikan
"Apa?" Tanya Husein kebingungan.
"Dia selalu memanggil - manggil seseorang bernama Husein, jika itu anda saya harap anda bisa menemaninya sampai dia tersadar" Saran Dokter kepada Husein.
__ADS_1
"Tentu" Jawab Husein
"Pasien juga mengalami dehidrasi berat, saya sudah memberikan cairan infus untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang" Ujar Dokter menjelaskan kembali.
"Terima kasih Dokter, Evan anak kami akan mengantar kembali anda" Ucap Ibu Risma penuh syukur.
"Sama - sama saya pamit dulu, bila ada keluhan lain segera hubungi saya" Ujar Dokter menyalami semuanya pamit undur diri.
"Baik Dokter" Jawab Pak Yusuf.
Husein menatap nanar wanita yang berbaring diranjang dengan jarum infus menempel dipunggung tangan.
"Indri aku akan cari siapapun mereka yang sudah berani mencelakaimu dan buatmu seperti ini" Gumam Husein geram mengepalkan kedua tangan.
Semalaman ke tiga lelaki itu terjaga, sedangkan Bu Risma tertidur disamping Indri, mereka berfikir keras mengingat kemungkinan siapa yang bisa mereka curigai sebagai tersangka.
Husein memang sudah lama mengenal Indri tapi semenjak Indri menikah Husein sengaja kehilangan kontak dengan Indri untuk belajar melupakannya.
Pak Yusuf dan Evan pun sama, mereka tidak bisa menerka siapa dalang dibalik semua ini.
"Mungkinkah mantan suaminya?" Ujar Evan mengerutkan kening menatap Pak Yusuf dan Husein bergantian, dia hanya asal tebak tapi Ardi kemungkinan yang ada untuk saat ini.
"Tidak mungkin, Ardi memang menyia - nyiakan Indri tapi dia juga sama dengan kau" Ucap Pak Yusuf selama pernikahannya dengan anaknya, Indri pernah berkata meski Ardi menyia - nyiakan mereka dengan melepas tanggung jawab selama hampir 2 tahun, tak pernah sekalipun Ardi bermain tangan dan berlaku kasar, hanya saat dia cemburu melihat Indri dengan lelaki lain hal itu dia lakukan.
"Bapak lupa dia pernah melakukan kekerasan saat aku akan mengenalkan Bapak yang tidak taunya itu anak kandung Bapak sendiri" Ujar Evan tersulut emosi mengenang bagaimana Ardi menjambak kerudung Indri dan menamparnya beberapa kali.
"Ya kau benar Evan, tapi pada saat itu dia cemburu dan Indri masih berstatus Istrinya" Ujar Pak Yusuf meragu.
"Kita akan masukan dia ke daftar orang yang patut kita curigai" Husein pun berfikiran sama dengan Evan, Ardi orang yang pantas dicurigai sebagai dalang dari semua ini.
"Baiklah, tapi jangan melakukan kekerasan Bapak tidak mau kalian berurusan dengan polisi" Ucap Pak Yusuf mengingatkan kedua lelaki disampingnya.
"Kau masih menahan pria itu?" Tanya Evan pada Husein.
"Ya, dia sedang tertidur lelap usai aku mencekokinya obat tidur" Jawab Husein santai.
__ADS_1
"Kau masih berperikemanusiaan rupanya" Ujar Evan tertawa meledek.