
Mas Ardi pamit meninggalkan ku, saat ku berbalik meniti jalan besar aku melihat Mang Deden keluar dari mobil yang tadi dia gunakan untuk mengantar ku.
"Siapa itu Nyonya?" Mang Deden menajamkan pandangannya menatap kepergian Mas Ardi yang masih terlihat jelas.
"Mang Deden buat saya takut saja" Ujar ku mendapati sikap Mang Deden yang berbeda hingga membuat atmosfer sekitar terasa lebih dingin.
"Itu Ayah kandung anak - anak" timpal ku lagi.
"Mantan suami Nyonya?" Tanya Mang Deden menegaskan.
"iya, kenapa?" tanya ku penasaran dengan sikap Mang Deden yang ketus, tidak seperti saat pagi mengantar ku.
"Apa dia berlaku kurang ajar?" tanya nya seolah mengintrogasi istrinya berselingkuh.
"Tidak, justru dia yang sudah membantu saya. Tadi saya hampir tertabrak motor beruntung ada dia jadi saya tidak mengalami luka yang serius" jawab ku menjelaskan.
"Syukurlah, saya harap Nyonya bisa menjaga perasaan Tuan dengan tidak terlalu dekat dengan lelaki lain" jawabnya seolah mengancam alih - alih menasehati.
"Maksud Mang Deden apa? Saya tidak suka dengan cara bicara Mang Deden barusan " Ujar ku mulai risih.
"Saya dimandatkan Tuan untuk menjaga Nyonya terutama dari mantan Suami Nyonya" Jawaban Mang Deden membuatku menghela nafas panjang.
"Tapi saya tidak melakukan apa - apa Mang" jelas ku mencoba tetap tenang.
"Saya tidak menyaksikannya secara langsung jadi saya tetap tidak membenarkan kejadian ini, sebaiknya kita ke puskesmas terdekat untuk mengobati luka - luka anda" Mang Deden membukakan pintu mobil seolah menyuruh ku segera masuk dan mengikutinya.
"Terserah" Jawab ku duduk lantas memejamkan mata, mencoba menghilangkan sedikit rasa kesal perihal semua ucapan Mang Deden, semua ucapannya memanglah benar aku harus lebih menjaga hati Husein meski kejadian ini murni karena tidak sengaja.
Mobil yang Mang Deden kendarai berhenti disebuah halaman pusat kesehatan, cukup ramai disana mungkin aku juga harus mengantri lama untuk mengobati luka - luka ini.
Mang Deden mengajak ku ke ruangan UGD untuk menemui seorang Dokter jaga disana, Dokter memeriksa luka terbuka yang aku dapat dari kecelakaan tadi.
"Tidak ada luka parah, ini hanya cedera ringan dalam waktu beberapa hari Nyonya akan sembuh seperti semula" ujar Dokter muda cantik dihadapan ku, melihat wajahnya mungkin usia kami sebaya.
"Baik terima kasih Dokter" Jawab ku.
Dokter memberikan resep obat yang harus aku konsumsi selama memiliki luka ini, kami berdua keluar dan kembali masuk ke mobil.
"Sekarang anda mau saya antar kemana?" tanya Mang Deden menyalakan mobilnya.
"Terserah?" jawab ku asal melihat lilitan perban yang melingkar di siku juga telapak tangan.
"Anda marah? Padahal saya seperti ini untuk kebaikan Nyonya, apa Nyonya lupa trauma yang Tuan derita?" Ujar Mang Deden mengingatkan ku, Mang Deden mulai menjalankan mobilnya memasuki jalan besar.
__ADS_1
"Bayangkan bagaimana jika Tuan sendiri yang menyaksikan adegan berpelukan tadi?" timpal Mang Deden membuat ku terpancing kesal kembali.
"Aku tidak dengan sengaja berpelukan!" ujar ku kesal. Jadi dia tau semua kejadian barusan, bukankah sebelumnya dia mengatakan jika dia tidak menyaksikan secara langsung.
"Itu menurut Nyonya, bagaimana pikiran Tuan? Bukankah Nyonya tau sendiri bagaimana rasa cinta dan cemburunya?" Ucapan Mang Deden membuat ku diam, kecemburuan Husein memang yang harus lebih aku pikirkan, rasa cemburunya bisa membuat rasa trauma itu kembali dan membuat Husein jatuh hingga mengalami depresi.
"Saya harap Nyonya sendiri yang menceritakan kejadian tadi, atau harus saya yang menceritakan dengan versi saya?" ujar Mang Deden mematik kekesalan ku kembali.
"Ternyata kau menyebalkan!" Mendapat tekanan hingga membuat rasa hormat ku hilang seketika, Kami bertengkar seolah kami sebaya.
"Terima kasih atas pujiannya" Jawab Mang Deden menghentikan mobilnya didepan halaman rumah Husein, aku keluar setelah mang Deden membukakan pintu dengan wajah kesal ku banting pintu mobil didepannya.
Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Nyonya...!" Bi Ati berteriak dari dalam rumah menghampiri ku terkejut dengan semua luka yang aku dapatkan.
"Kenapa bisa seperti ini? Bagaimana jika tuan tau?" ujar Bi Ati khawatir dengan ketenangan seisi rumah.
"Tuan sudah tau Teh, sebentar lagi tuan pulang" ucap Mang Deden menyela pembicaraan kami yang membuatku memicingkan mata menatapnya kesal.
"Kau mengabarinya?" tanya ku menahan kesal.
"Tentu Nyonya" Jawabnya dengan senyum semanis cuka.
"Ish..!" seketika aku layangkan bendera peran yang berkibar di kedua mata ku menatapnya.
"Awas kau!" ucapku dengan tatapan nyalang.
Bi Ati menuntun ku dengan hati - hati seakan aku pasien yang rapuh dan akan hancur. Sesampainya di kamar kami dilantai dua Bi Ati menyusun beberapa bantal sebagai sandaran ku saat tertidur agar nyaman, mendapati aku yang sudah nyaman diatas ranjang Bi Ati meninggalkan ku dengan alasan urusan didapur belum selesai.
Sempat tertidur sejenak mungkin akibat obat yang aku minum sebelumnya, aku di lejutkan olehsuara Husein yang menggema memanggil nama ku.
Tak lama dia pun masuk kekamar dengan melemparkan jas dan tasyangdia bawa ke sofa dan setengah berlari menghampiri ku.
"Sayang..!!" Husein meraih kedua tangan ku duduuk di bibir ranjanng, raut wajah khawatir terlihat jelas dihadapan ku.
"Husein.." aku tersenyum semanis mungkin untuk menyakinkan dia bahwa aku baik - baik saja.
"Apa yang terjadi?" tanya nya setelah beberapa kali menarik nafas panjang.
"Hanya kecelakaan kecil" jawab ku dengan senyum menatapnya gemas.
"Apa luka ini dalam?" Tanya Husein, melihat luka - luka yang diperban.
__ADS_1
"Tidak, 2-3 hari semuanya akan membaik" Jawab ku terus menyakinkannya, inilah yang harus selalu kami hadapi rasa khawatir dan ketakutan Husein yang berlebihan jika menyangkut dengan diriku.
"Mengapa bisa sampai seperti ini" tanya Husein lirih menatapku sedih.
Mau tidak mau akhirnya aku menceritakan semuanya sedari awal dimana aku menunggu di jemput Mang Deden hingga ada pemotor yang ugal - ugalan hinga berakhir kecelakaan yang sempat ditoong oleh Mas Ardi mantan suami ku, aku juga menceritakan keinginan Mas Ardi yang mengharapkan aku dan anak - anak bisa merayakan hari jadi Adam bersama - sama.
"Jadi begitu ceritanya" ujar ku mengakhiri cerita yang ingin Husein ketahui.
"Jadi dia dikota ini? Sengaja menemuimu?" tanyanya penuh rasa curiga.
"Husein tidak seperti itu" aku kembali menenangkan amarahnya.
"Baiklah" Jawab Husein menghembuskan nafas kasar membuang tatapannya.
"Jadi?" tanya ku pelan
"Apa?!" ujar Husein setengah emosi
"Apa kau mengijinkan aku dan Adam datang ke acara yang dia adakan?" tanya ku mencoba berkata sehalus dan sepelan mungkin.
"Entahlah aku akan memikirkannya" jawab nya asal.
"Baiklah, terima kasih" Ujar ku sedikit lebih tenang.
"Untuk? Aku bahkan belum mengijinkanmu menemuinya kembali" Tanya Husein penuh curiga menatap kedua mata ku.
"Untuk mendengar semua ceritaku dan tetap berfikir tenang meski aku tau disini sedang tidak baik - baik saja" ujarku menunjuk dada sebelah kiri Husein.
"Itu tidak mudah" Jawab Husein sedikit terbata.
"Aku tau" Ujar ku menatapnya.
"Itu karena aku mencintaimu" Jawab Husein seperti malu membuang pandangannya tak mau menatap ku.
"Aku sangat tau, karena akupun akan merasakan hal yang sama" jawab ku bahagia dengan usapan Husein sebelumnya.
"Sekarang istirahatlah aku akan menemani mu" Ucap Husein mengalihkann pembicaraan.
"Aku tidak mau" Jawab ku tegas menggelengkan kepala.
"Kenapa?!" tanya Husein seperti terkejut
"Kau belum mandi, aku tak tahan dengan bau mu" Ucap ku meledek menjauh menutup hidung menggodanya.
__ADS_1
"Ish, Baiklah aku akan bersih - bersih dahulu. Jangan turun dari ranjang ini perintah" Ujarnya meninggalkann ku menuju lamar mandi
"Baiklah yang mulia" jawab ku terkekkeh pelan.