
Bila kebanyakan tempat kerja meliburkan karyawannya diujung pekan saptu dan minggu tidak dengan tempat usaha ku, salon akan ramai saat hari - hari libur karyawan.
Kebanyakan dari mereka akan menggunakan hari liburnya untuk memanjakan diri, makan diluar, shooping juga pergi ke salon.
Salon sejak belum dibuka sudah nampak beberapa wanita beragam usia dari remaja hingga dewasa mulai memenuhi pekarangan salon, biasanya sebagian dari mereka sudah mendaftar via aplikasi online yang kami sediakan.
Menjadi salon satu - satunya yang menyediakan jasa perawatan lengkap di tengah perkotaan yang padat penduduk membuat kami sedikit kewalahan disetiap hari libur.
"Tari ada yang bisa Mbak bantu?" tanya ku pada Tari, setiap kali melihat pengunjung yang membludak aku selalu ikut turun tangan membantu para karyawan ku.
"Mbak yang disana aja, dia minta di creambath, masker keratin sama potong poni yang lain biar Tari yang handle" Ucapnya menjelaskan.
Tari biasanya hanya duduk santai menyambut tamu ditempat pendaftaran tapi bila situasi seperti ini dia pun ikut terjun langsung seperti yang aku lakukan.
"Yang pakai baju dusty pink itu?" tanya ku memastikan saat Tari menunjuk seorang wanita sebaya dengan ku yang duduk di kursi tunggu dengan majalah yang menutupi wajahnya.
"Iya Mbak" jawabnya mengangguk memastikan.
"Selamat siang Kakak, saya Indri Hair Stylist yang akan menangani rambut Kakak" sapa ku membuka obrolan.
"Wah, saya ditangani langsung oleh ownernya" jawabnya tanpa menurunkan majalah fashion yang sednag dia baca.
"Ah, Iya" jawabku sedikit canggung.
"Jadi kemungkinan mengecewakan sangat kecil bukan" ujarnya lagi dengan tetap membaca majalah tanpa berniat menunjukan wajahnya
"Kami akan usahakan memberi kepuasan kepada setiap pelanggan" ujar ku menyakinkan memberi senyuman meski sedikit jengkel karena pelanggan ini tak kunjung menampakan wajahnya.
"Baguslah kalau begitu, karena setelah ini aku akan bertemu dengan Husein Mamas ku tersayang" jawabnya menutup majalah dan melemparnya di meja samping tempat duduknya.
"Jeselyn" jawabku sedikit terkejut
"Aku sangat kecewa kau terlambat mengenaliku" jawabnya sinis dengan menyunggingkan senyuman meledek.
"Kau sedang berkunjung?" tanya ku mencoba ramah.
Poin yang selalu aku ingat, jangan pernah berdebat dengan pelanggan, karna meski kita yang benar pelanggan akan tetap pergi dan tak pernah kembali dan bisa jadi lebih parahnya dia akan membawa pelanggan yang lain untuk tidak berkunjung kembali.
"Ya, aku mengajukan diri untuk menjadi istri Husein" jawabnya tersenyum lebar, seolah telah memenangkan pertarungan.
__ADS_1
"Oh" jawab ku acuh.
"Sepertinya kau tidak terkejut?" jawabnya sedikit kesal menatap tajam pada ku.
"Aku memang sudah mengikhlaskan dia dengan wanita yang bisa membuatnya bahagia" jawab ku santai menbalas dengan senyum tipis yang melekat diwajah ku.
"Syukurlah, berdampingan dengan wanita cantik dan anak seorang milyader seperti ku tentu menjamin hidup bahagianya" jawabnya menyunggingkan senyum, sifat sombong dan pongah tak pernah hilang dan tetap melekat dalam dirinya.
"Semoga saja, aku sudah geram mendengar pinangannya" jawab ku dengan senyum meledek.
"Jangan terlalu sombong!" ujarnya setengah membentak.
"Mbak saya sudah selesai" ujar Tari yang sedari tadi memperhatikan kami.
"Oh, bisa kamu lanjutkan dengan Mbak ini, Mbak belum sempat pegang" ujar ku menjelaskan.
"Baik Mbak" Jawab Tari sigap.
"Kakak dilanjut sama Mbak Tari ya, saya tinggal dulu" Ujar ku tersenyum ramah pada Jeselyn orang yang paling malas aku temui.
Aku berlalu meninggalkan Tari dan kembali masuk ke ruangan ku.
Rasa tak kesal menyelimuti pikiran, aku seperti tak rela jika Husein harus dengan wanita seperti dia, mungkin jika bukan dengannya aku akan lebih merelakannya.
Dengan rasa kesal ku alihkan perhatian ku pada berkas yang masih menumpuk di meja kerja ku.
Namun ucapan manja Jeselyn yang menyebut Husein mamas sayang seperti terngiang di telinga ku.
"Ish Menyebalkan sekali!" aku mengerutu sesekali ku hentakan kaki.
"Astagfirullah sadar Indri, Ya Allah aku tidak cemburu hanya saja aku kasihan jika Husein harus mendapatkan Istri seperti dia" ku langitkan doa meminta yang terbaik untuk orang yang selalu aku sayangi.
Teriknya matahari siang mulai menyusut, berganti senja meski tertutup selimut kabut, hati mulai terasa menghangat walau sempat merasakan kalut.
Senja mengajarkan kita utuk belajar ikhlas melepas karena keindahannya hanya bisa dipandang sebentar saja.
Terdengar bunyi pintu diketuk.
"Mbak Tari boleh masuk?" ujar Tari dibalik pintu
__ADS_1
"Ya" jawab ku.
"Sudah waktunya jam pulang Mbak, ini pembukuan minggu ini" Tari menyerahkan satu buah buku besar berwarna ungu kehadapan ku.
Aku memang menyuruh Tari mencatat dua kali selain pada aplikasi yang ada di komputer, aku juga menyuruh Tari mencatatnya dalam buku besar yang tiap satu minggu sekali laporan itu diserahkan pada ku.
"Terima kasih Tari" ucap ku sambil memeriksa laporan pengeluaran serta masukan yang sudah Tari catat dan susun rapi.
"Mbak kenapa?" Tanya Tari menatap ku heran
"Kenapa?" tanya ku balik karena tak mengerti pertanyaan Tari.
"Pelanggan tadi Mbak kenal?" Tanya Tari penasaran
"Oh, dia teman Mbak saat SMA namanya Jeselyn dia calon istri Husein" jawab ku sedikit acuh
"Apa?!" Tari terkejut setengah berteriak
"Tari" jawab ku menatap wajahnya.
"Maaf Mbak, tapi Mbak yakin? wanita berpakaian seperti te**lanjang itu calon istri Mas Husein? paha dan dadanya diumbar begitu mau jadi istri Ustad? gak punya malu apa?" Ucap Tari tersulut emosi
"Kok kamu seperti yang marah Tari? jangan - jangan kamu suka ya dengan Husein?" tanya ku tersenyum meledek menggelengkan kepala.
"Mbak jangan aneh - aneh deh, jelas Tari marahlah orang yang pantas berdampingan dengan Mas Husein cuman Mbak gak ada yang lain" ucap Tari yang masih kesal.
"Tari" ucap ku menutup buku dan menyimpannya di atas meja.
"Maaf Mbak" Tari menunduk menyesal.
"Husein berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari Mbak" selalu kata - kata itu yang aku tekankan pada semua orang yang berharap menyatukan kami kembali.
"Ya Mbak" jawab Tari pelan
"Sebenarnya Mbak juga gak rela kalau Husein dengan dia, tapi bila dia bisa berubah lebih baik jika bersama Husein kenapa tidak? mungkin itu sudah takdirnya dan akan menjadi ladang pahala yang besar juga bagi Husein bisa menuntun istrinya menjadi lebih baik" Aku mencoba memberi penjelasan agar Tari mengerti, setelah sebelumnya akupun melakukan hal yang sama seperti yang baru saja Tari lakukan.
"Baik Bu Ustad" Jawab Tari dengan memanyunkan bibir mungilnya.
"Tari" ucap ku penuh penekanan.
__ADS_1
"Hehehe.. Tari sudah selesai, Tari pulang dulu ya, Assalamualaikum" Tari berlalu pergi setengah berlari, anak itu tak ubah seperti Adik bagi ku, aku harap dia bisa cepat menemukan pria baik yang bisa menjadikannya pendamping hidup.
"Waalaikumusallam" jawab ku pelan.