Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Tak Rela


__ADS_3

Telpon Husein berdering tiada henti, Husein yang baru saja akan tidur terpaksa dibuat terjaga kembali.


Meski merasa kesal karena rasa lelahnya tak tersalurkan Husein tetap mengangkat telepon meski dengan mata yang masih tertutup.


"Asalamualaikum" sapa Husein saat telponnya dia jawab.


"Waalaikum salam, Husein apa yang terjadi? Kenapa kau meminta surat keterangan nikah siri? Dimana Indri?" Pertanyaan beruntun memekakan telinga Husein.


Pak Yusuf sempat ragu saat menandatangani surat keterangan nikah siri dari kelurahan, bukan tanpa sebab dia dibuat bingung karena Pak Lurahnya sendiri yang meminta tanda tangan langsung ke rumahnya pada malam hari.


Setelah dia membaca yang menjadi suami Indri adalah Husein Pak Yusuf memberanikan diri menandatangani surat keterangan tersebut dan meyakinkan Evan untuk mau menjadi saksinya.


"Bapak tenang! Bapak percaya dengan apa yang saya lakukan?" Ujar Husein menegaskan untuk tidak perlu khawatir dengan semua yang dia lakukan.


"Bapak tidak pernah sedikitpun menaruh curiga padamu" Ujar Pak Yusuf menenangkan dirinya sendiri.


"Bapak mau mendengarkan saya?" Tanya Husein, bagaimana pun beliau berhak mengetahui semuanya.


"Ya" Jawab Pak Husein pasti.


"Datanglah ke Hotel Grand Pangestu aku dan Indri sekarang tinggal di kamar 503, tetap tenang aku tidak mungkin mencelakai orang yang selama ini aku cintai" Ujar Husein kembali meyakinkan.


"Baiklah" Jawab Pak Yusuf


"Sebelum itu, bawakan baju lengkap untuk Indri dan Aku, kami sama - sama tidak mengenakan pakaian.." Belum selesai Husein menjelaskan perkataannya sudah dipotong oleh orang dalam sambungan telpon.


"Husein!!" Bentak seorang lelaki yang Husein kenal.


Ternyata sambungan telpon Pak Yusuf dialihkan ke pengeras suara hingga orang yang disekitar bisa mendengar perbincangan mereka.

__ADS_1


"Ternyata kau pun mendengar, cepatlah kami sudah kedinginan" Ujar Husein tersenyum senang.


"Jangan lari, aku akan datang dan memberi mu pelajaran!" Ujarnya marah.


"Baiklah aku menunggumu" ujar Husein tertawa lirih lalu memutuskan sambungan telepon.


Selang satu jam Bapak, Ibu dan Kakak tiri Indri Evan datang ke kamar Hotel yang Husein pesan.


Bapak menghampiri Husein dan duduk didepannya, sedangkan Ibu dan Evan langsung masuk ke kamar mengecek keadaan Indri.


"Kau apakan Indri sampai dia basah kuyup seperti ini?" Tanya Evan marah mendorong bahu Husein.


"Aku hanya mengajaknya mandi bersama" Jawab Husein disertai tawa.


"Kurang aj*ar!!" Ujar Evan geram.


Evan sudah kehabisan kesabaran dia meninju Husein hingga dia terjatuh.


"Kalian berdua berhenti! Husein jangan membuat kami terus salah paham cepat ceritakan semuanya" Ujar Pak Yusuf setengah berteriak dan membantu Husein bangun dan mendudukannya kembali ke sofa.


Husein menceritakan semua yang ia tahu, tentang kemalangan yang menimpa Indri saat ini, semua terlihat syok dan marah setelah mendengar semua cerita Husei, jika hanya berniat menipu pasangan calon pengantin itu tak mungkin sampai berniat mencelakai Indri seperti ini.


Dan yang paling Husein sayangkan dia belum tau siapa dalang dibalik semua ini, saat indri sudah dia pindahkan ke kamarnya, Husein sengaja kembali lagi ke kamar 501 dia ingin menanyainya mengenai motif dibalik penjebakan Indri saat ini.


Saat penjahat yang berada dikamar 501 sadar Husein segera mengikat dan mengintrogasinya namun dia mengaku tak pernah melihat langsung wajah orang yang menyuruhnya dia dan ke dua temannya hanya diperintahkan lewat sambungan telpon saja.


"Terima kasih Tuan Husein atas pertolongan anda dan maafkan Evan dia masih mencintai Indri jadi dia syok mendengar berita seperti ini" ujar Bu Risma


"Aku tau, tapi maaf aku tidak akan mengalah" Ujar Husein matanya menyalang menatap Evan, dia akan siap bersaing dengan siapapun yang mencintai Indri tapi dia akan mengalah pada pria yang Indri cintai.

__ADS_1


"Aku memang tidak sebanding denganmu tapi jika kau menyakitinya aku yang akan maju lebih dulu untuk menghabisimu" Jawab Evan tegas, dia sedari dulu memang sudah mengalah tapi jika ada yang menyakiti Indri dia tidak segan - segan untuk melukainya siapapun orang itu.


"Benarkah? Coba saja" Ujar Husein tertawa meledek menatap Evan.


"Kalian berdua cukup, Indri masih berbaring lemas dan kalian meributkan sesuatu yang tak penting, seperti anak kecil saja!" Ujar Pak Yusuf kesal mencoba menghentikan dua laki - laki yang sama - sama mencintai anak perempuannya.


"Ibu tolong ganti pakaian Indri dan kau Husein ini baju Evan yang bisa kau kenakan untuk saat ini" Ujar Pak Yusuf memerintah Bu Risma dan Husein


"Tidak adakah pakaian lain?" Tawar Husein, dia tidak mungkin mengenakan pakaian rivalnya.


"Sudah jangan berikan Bu, biarkan dia menggigil dan mati kedinginan" Ujar Evan ingin merebut pakaian yang sedari tadi Bu Risma bawa sesuai perintah Husein.


"Kau jahat sekali, baiklah tidak mengapa Indri bisa berbagi selimut dengan ku, lagi pula kami sudah MENIKAH SIRI" Ujar Husein bernada manja menggoda Evan.


"Itu tidak sah dan tidak pernah terjadi" Ujar Evan tersulut emosi pandangan matanya menyalang menatap Husein yang memperoloknya.


"Kau sendiri yang menjadi saksi pernikahan kami" Husein merasa senang saat Evan terus menerus terpancing emosi atas ulahnya.


"Kau!!" Evan sudah kehabisan kata - kata sifat Evan yang mudah terpancing dan meledak - ledak membuatnya tak bisa menahan untuk tidak memberikan pelajaran pada Husein, baru saja dia ingin melayangkan tinjunya dia sudah mendapatkan tatapan tajam Pak Yusuf.


"Evan cukup!" Bentak Pak Yusuf mencekal tangan Evan.


"Husein pakailah kau tidak mau Indri terkejut dengan keadaanmu bukan" Ujar Pak Husein memerintahkan Husein pergi untuk mengakhiri perdebatan konyol mereka.


"Baiklah, akan ku buat dia terkejut saat malam pertama kami" Jawab Husein sembari bangun ingin meninggalkan Evan dan kedua orang tuanya.


"Kemari kau!!" Bentak Evan geram, beruntung dia dihadang Pak Yusuf hingga perkelahian itu tak terjadi.


"Hahahahaha..." Husein tertawa terbahak - bahak sepanjang perjalanannya ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2