
Seminggu telah berlalu setelah pertemuan tak menyenangkan dengan Jeselyn tempo hari.
Rasa khawatir itu sering datang, mengenal bagaimana tabiat Jeselyn selama ini, dia mungkin tidak akan diam saja setelah perlakuan ku tempo hari.
"Mbak ini ada telpon dari calon pengantin yang ingin memakai jasa kita" Ujar Tari membuyarkan lamunan ku saat mengenang masa - masa sekolah dulu.
Tari menyerahkan handphone yang aku peruntukan sebagai no salon.
"Asalamualaikum saya Indri owner Jasmin MUA Salon And Spa" sapa ku pada penelpon disebrang sana.
"Waalaikumsalam Mbak saya Nadia, saya kenal Mbak dari teman saya, saya berniat memakai jasa MUA Mbak untuk acara pernikahan kami" jawabnya menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Boleh saya tau acaranya diadakan dimana dan tanggal berapa?" Tanya ku langsung ke intinya.
"Acaranya hanya sederhana saja Mbak jadi diadakan dirumah kerabat saya di daerah Bogor tanggal 21 dua minggu dari sekarang" ucarnya mencoba menjelaskan semuanya.
"Waktunya cukup mepet juga ya?" gumam ku pelan menatap kalender yang berdiri tegak diatas meja.
"Iya Mbak saya hamil diluar nikah" ujarnya memberitahu tanpa rasa segan dan malu.
"Oh Maaf" Jawab ku merasa tak enak dengan pembicaraan ini.
Aku sedikit dibuat heran karena sang pengantin terang - terangan menjelaskan inti masalah pribadinya.
"Gak papa Mbak, untuk lebih lanjutnya bisa kita ketemu saja?" ujarnya
"Ya bisa, kapan?" tanya ku
"Lusa bagaimana? di Hotel Grand Pangestu, untuk sementara saya dipingit di Hotel dulu karena rumah kami berdekatan" Ujarnya memberitahu ku.
"Baik nanti kabari saja untuk tepat waktunya" pinta ku karena kami belum menentukan waktu yang jelas untuk bertemu.
"Baik Mbak terima kasih" ucapnya menyelesaikan percakapan kami.
"Gimana Mbak?" Tanya Tari penasaran yang masih berdiri dihadapan ku.
"Lusa Mbak harus ke bogor menemui calon pengantin ini" Jelas ku.
__ADS_1
"Lusa kan minggu Mbak, salon lagi rame - ramenya Tari gak bisa nemenin Mbak?" Ku lihat raut wajah Tari kebingungan.
"Mbak bukan anak kecil Tari, Mbak bisa handle ini sendirian" jawab ku menyakinkan.
"Mbak bukannya perusahan Mas Husein di puncak daerah Bogor ya? Mbak minta tolong antar dia saja?" ucap Tari memberi masukan yang membuat ku ragu.
"Hmmpp.. disana juga ada Mas Evan Mbak bisa minta tolong dengannya" gumam ku pelan yang masih bisa didengar jelas oleh Tari.
"Mbak emang gak penasaran sama lamaran wanita itu, sekali mendayung 2 3 pulau terlampaui Mbak, selain ada Mas Husein yang nemenin Mbak juga bisa tanya langsung mereka menjalin hubungan apa tidak" ucap Tari menyadarkan aku akan masalah lamaran yang Jeselyn utarakan.
Lama aku termenung mengingat Jeselyn yang yakin akan lamarannya, mereka sama - sama orang kelas atas yang bisa dianggap pantas untuk menjadi pendamping.
"Penasaran kan" ledek Tari menyadarkan ku dalam lamunan.
"Ccck.. cckk.. sekarang sudah berani ya menggoda Mbak?" ucap ku berdecak kagum.
"Hehehe.. Maf Mbak saya permisi pengunjung mulai rame" ujar Tari tertawa lirih bersiap pergi setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Eh mau keman kamu" ucap ku sedikit meninggikan suara karena mulai kesal dengan tingkah Tari.
"Ka..bur.." Ujar Tari berlalu pergi.
"Husein, apa aku harus menghubunginya?" gumam ku memutar - mutar ballpoint yang berada dalam jemari telunjuk dan ibu jari ku.
Ku rogoh benda pipih yang tersimpan dalam saku tunik, ku coba mengirim pesan pada orang yang sedang aku pikirkan.
[ Assalamualaikum, hai..]
Beberapa menit sudah berlalu namun tidak ada notifikasi dibalas atau sudah dibaca, karena merasa gemas akhirnya aku mengirimi Husein pesan lagi untuk minta tolong untuk menemani ku.
[Lusa aku akan berkunjung ke Puncak untuk urusan pekerjaan, tepatnya di hotel Grand Pangestu bisakah kau menemaniku bertemu client?]
"Sepertinya dia masih marah, mungkin sudah saatnya aku tak menghubunginya lagi" gumam ku sedikit kecewa.
Setiba di rumah dan beristirahat sejenak sesekali aku menatap layar handphone dalam genggaman.
"Dia benar - benar tidak membalas pesan ku" gumam ku geram mengerucutkan bibir melempar benda tak berguna itu ke ranjang dan pergi masuk ke kamar mandi untuk bersih - bersih sebelum waktu shalat Magrib tiba.
__ADS_1
Keluar dari kamar mandi aku dikejutkan oleh si kecil Rasyid yang kini usianya hampir menginjak 5 tahun.
"Ibu wangi Ayid mau cium" Ujar Rasyid dengan senyum merekah memperlihatkan deretan gigi putih kecilnya.
Akupun berjongkok dihadapannya menyeimbangkan tinggi badan agar kami bisa bertatapan, Rasyid mengecup kedua pipi ku secara bergantian.
"Wah, tumben Ayid mau cium Ibu biasanya Ibu harus rayu - rayu dulu baru mau, pasti ada maunya ya?" goda ku tersenyum menelisik
"Ayid mau sekolah PAUD boleh?" tanya Rasyid dengan mengerjab - ngerjabkan kedua matanya menggemaskan.
"Ayid mau sekolah?" Tanya ku memastikan
"Iya, boleh?" Rasyid balik bertanya
"Boleh donk sayang, maaf ya Ibu sampai lupa daftarin Ayid sekolah PAUD" ucap ku lirih menatap wajah tembam dengan mata bulat ku usap rambut tebal Rasyid tanda sayang.
"Ini lembar pendaftarannya sudah Ibu isi, tinggal kamu tanda tangan saja sebagai walinya" ujar Ibu mendekati memberikan selebaran pendaftaran berlogo nama sekolah PAUD yang berada tak jauh dari lingkungan kami.
Ku baca dengan seksama semua poin dalam pembar pendaftaran tersebut lalu menandatanganinya sebagai pernyataan bahwa semua data yang diisi benar adanya.
Aku kembalikan kembali lembaran pendaftaran Rasyid ke Ibu karena kemungkinan aku tak bisa mampir esok hari.
"Terima kasih ya Bu, akhir - akhir ini salon selalu rame kadang Indri lupa hal - hal penting tentang anak - anak" Ujar ku menyesal dan berasa bersalah.
"Ibu kan ada, kamu gak usah merasa bersalah seperti itu" Ujar Ibu tersenyum menatap ku.
"Terima kasih Bu" Jawab ku memeluk Ibu sambung yang serasa Ibu kandung.
"Kami tunggu dibawah kita makan malam bersama" Ujar Ibu melepaskan pelukan ku.
"Ibu masak apa? sambalnya ada?" Tanya ku penasaran.
"Sambal selalu ada buat anak Ibu si pencinta pedas" Ujar nya menggoda menggelengkan kepala.
"Hehehe.. Ibu terbaik" ujar ku mengajungkan kedua Ibu jari.
"Cepat pakai baju, kita tunggu dibawah Adam sudah dari tadi nunggu kamu" Ucap Ibu menuntun Rasyid keluar dari kamar ku.
__ADS_1
"Ya Bu" Jawab ku menuju walk-in closet, aku memilih piyama bergambar kelinci kecil disemua bagian bahannya.