
"Humairah, Sayang..." terdengar teriakan Husein memanggilku dari arah pintu utama rumah.
"Ya aku di dapur" Jawab ku setengah berteriak, aku sedang menyiapkan puding coklat pesanan Adam yang baru saja sembuh dari demam.
"Kenapa berisik sekali?" Ujar ku saat Husein mendekat memberikan selebaran seperti surat undangan berwarna silver gold.
"Sayang ada undangan reuni dari sekolah kita kebetulan 2 angkatan digabungkan, tahun kelulusan mu dan tahun kelulusan ku" ucap Husein memberikan undangan itu dihadapan ku.
"Aku tak mau datang" jawab ku memalingkan wajah kembali mengaduk bahan Vla susu yang sedang aku buat.
"Kenapa?" tanya Husein berkacak pinggang
"Aku takut jadi bahan obrolan karena kita pernah berpacaran selama sekolah" Jawab ku ketus, meski kami tak melakukan hal yang aku anggap zinah tapi tetap saja kata pacaran membuat aku seolah - olah pelaku zinah.
"Hahaha... kita sampai dinobatkan sebagai pasangan serasi sepanjang tahun" Husein tergelak seolah bangga dengan predikat bodoh yang pernah kami terima semasa sekolah.
"Kau saja yang datang" jawab ku ketus.
"Kalau kau tak datang aku juga tak akan pergi" Ujar Husein melempar undangan itu ke meja dapur.
"Kenapa? bukankah kau mantan pengurus OSIS kenapa tak mau datang" Tanya ku, bukankah seharusnya dia datang akan ada banyak orang yang akan menanyainya jika dia tak hadir pada acara penting seperti itu.
"Karena pasangan ku tak hadir" jawabnya memeluk ku dari belakang dan menempatkan kepalanya bersandar pada bahu ku.
"Terserah" jawab ku malas.
"Siapa yang memberi undangan ini?" tanya ku penasaran melihat undangan yang Husein lempar ke meja.
"Jeselyn, dia menjadi ketua panitia yang mengadakan Reuni" ucapan Husein membuatku kebingungan
"Jeselyn?!" tanya ku memastikan.
"Kau heran? akupun sama, bagaimana bisa anak yang selalu bermasalah disekolah sempat - sempatnya memikirkan reuni sekolah" ternyata pikiran Husein sangat dangkal, tentu saja untuk menemui mu secara tidak langsung, setelah penolakan yang dia alami dia tak mungkin diam saja, tapi apa dia belum tau bahwa kami sudah menikah? meski sidang Itsbat kami akan dilaksanakan minggu depan, tidak mungkin Jeselyn tidak mengetahui kabar mengenai Husein.
"Setelah aku pikir - pikir tidak ada salahnya juga menghadiri acara itu" aku ingin tau apa yang Jeselyn inginkan dari kami.
__ADS_1
"Kenapa kau tiba - tiba berubah pikiran?" Tanya Husein melepas pelukan dan membalikan tubuhku hingga kami berhadapan.
"Aku hanya ingin mengenang kenangan semasa SMA" ujar ku asal menggoda Husein
"Kenangan dengan siapa?" tanya nya menyipitkan kedua mata seperti sedang mengintrogasi seorang pencuri.
"Dengan siapa lagi? tentu dengan para lelaki yang pernah menyukai ku" Ujar ku tersenyum menatap Husein.
"Siapa mereka? siapa yang kau rindukan? apa dia, lelaki yang menyatakan cinta di halaman depan kelas mu didepan semua orang banyak itu? Iya?!" Tanya Husein tersulut amarah. Dasar pecemburu buta, dia semakin parah setelah menjadi suami ku.
"Hahahaha..." Aku tak bisa menahan tawa melihat kecemburuan Husein yang selalu seperti ini bahkan dosisnya selalu bertambah setiap harinya.
"Kenapa kau tertawa? apa membuatku cemburu adalah lelucon lucu untuk mu" tanyanya tersulut amarah kesal.
"Aku merindukan sikembar yang menggemaskan" Jawab ku pelan mengalungkan kedua tangan ke bahunya.
"Sikembar?!" Husein terbata mengulang perkataan ku.
"Masih cemburu?" goda ku menatap wajahnya.
"Apa?!" aku heran sekaligus terkejut hingga melepaskan tangan yang mengalung di bahu dan lehernya.
"Rindukan aku saja, jangan Hasan juga" Ujarnya mengerucutkan bibir. seperti anak kecil.
"Kau pecemburu sekali" aku berdecih sebal.
"Ya aku memang pecemburu tapi hanya pada mu" Jawabnya mulai tersulut emosi kembali.
"Baiklah" aku menyerah dengan banteng pencemburu satu ini.
"Kenapa?" saat melihat Husein tak menanggapi perkataan ku.
"Aku pun merindukan Hasan" Jawabnya sendu.
"Bagaimana jika sore ini kita berjiarah ke makamnya" usul ku mencoba menghibur Husein yang merindukan satu - satunya saudara yang dia punya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang" Ucap Husein manis menatap diriku yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang
"Sama - sama sayang" jawab ku tak kalah manis tersenyum sampai kedua mata ku menyipit.
"Coba sekali lagi" ujar Husein kegirangan.
"Coba sekali lagi" ucap ku memgikuti ucapan Husein.
"Humairah!" Ujarnya geram.
"Husein" sahut ku memanggil namanya.
"Kau menyebalkan!" geramnya menatap kesal
"Hahahahahahahaha" aku tertawa terbahak melihat tingkah polahnya.
"Diam atau ku lum4t bibirmu sampai habis" Ancamnya membuatku tersentak
"Ap.. Mmmppppphhh " belum selesai aku melayangkan protes Husein sudah menautkan bibirnya dan *****4* habis dengan rakus bibir mungil ku.
Seketika aku dibuat melayang meski Husein melakukannya dengan gemas,seluruh tubuhku bergetar hebat dibuatnya, tak ingin lebih jauh dari ini aku mencoba menyadarkan diri dengan menggigit bibir bawah Husein.
"Husein kau nakal sekali" Aku mendorong Husein untuk melepaskan tautan bibir kami yang membuatku sesak nafas.
"Aku kan sudah memperingatkanmu sayang hahahaha" sangkal Husein tertawa puas, ibu jarinya menyapu bibir bawahnya yang sedikit meneteskan darah namun dia tak marah saat melihatku bernafas dengan tersengal - sengal.
"Aku membencimu!" sungut ku emosi, dia sangat pandai mencuri kesempatan dan itu adalah ciuman pertama kami, aku hanya mengijinkannya mencium kening serta kedua pipiku.
Bukan tanpa alasan ciuman bibir adalah salah satu kelemahan ku, entah kenapa itu akan membuatku terbuai dan melanjutkan hasrat ingin bercinta, aku menyadarinya saat aku menikah dengan Mas Ardi dulu.
Kini aku harus menahan diri agar aku tidak meminta hal lebih yang aku sendiri belum siap melakukannya.
"Aku juga mencintaimu sayang" Jawab Husein pergi meninggalkan ku yang masih kesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Sadar Indri, tarik nafasdari hidung lalu hembuskan perlahan lewat mulut, ya seperti itu tenang santai dan jangan berfikir yang tidak - tidak"gumam ku berbicara sendiri.
__ADS_1