
"Kau baik - baik saja sayang? Apa ada yang terasa sakit?" sayup suara Ummi terdengar jelas di telinga ku, beliau mengelus puncak rambut ku sayang.
Pandangan yang tadi kabur mulai tampak jelas, ingatan akan masa lalu saat aku mengalami depresi sempat melintas jelas.
"Ummi, aku baik -baik saja" Jawab ku lirih saat pandangan ku menatap wanita paruh baya yang selalu menyayangi ku.
"Biar saya coba periksa dulu" seorang Dokter lelaki paruh baya dengan stetoskop melingkar dilehernya, dia mendekat ke arah ranjang dan mengecek semua yang ingin dia tau.
Tampak rasa khawatir menyelimuti Ummi, selesai menggecek kondisi ku Dokter itu seperti diliputi rasa heran.
"Tuan apa saya boleh tau? Apa tuan pernah mengalami depresi hebat sebelumnya?" Tanya Dokter itu
"Iya" jawab ku lirih masih mengumpulkan tenaga usai kejadian pingsan tadi.
"Kapan?" tanya nya lagi
"sekitar 8 tahun yang lalu" jelas ku manatap nanar wajah sang Dokter
"Berarti saya tidak salah mengdiaknosa kalau begitu, kejadian yang baru saja Tuan alami karena terbukanya luka yang membuat anda depresi, tekanan mental yang terlelu besar membuat anda syok dan hilang kesadaran" Ujar Dokter menjelaskan
"Apa putra saya akan baik - baik saja Dokter?" Tanya Ummi raut wajahnya terlihat jelas mengkhawatirkan ku.
"Depresi tidak bisa hanya diobati dengan obat - obatan medis, tapi dukungan orang tua yang selalu mendampingi dan mendukung terciptanya suasana hangat disekitar pasien akn membuat pasien lebih nyaman dan mempercepat masa penyembuhan" ucap Dokter menjelaskan kembali
__ADS_1
"Baik Dokter, saya akan pastikan semuanya sesuai dengan saran Dokter" Ujar Ummi bersungguh - sungguh.
"Baik, silahkan Nyonya bisa tebus resep obat yang saya anjurkan di apotek terdekat" ujar Dokter saat memberikan secarik kertar berisikan coretan resep obat yang harus aku minum.
"Terima lasih Dokter" ujar Ummi.
"Jika ada gejala yang berkelanjutan segera hubungi saya" saran Dokter saat hendak pamit pergi meninggalkan kamar ku.
"Baik Dokter" ucap Ummi menganggukan kepalanya.
Ummi menatap wajah ku, dia lantas duduk disamping ranjang sambil terus mengelus puncak kepalaku.
"Husein apa ada yang ingin kamu ceritakan pada Ummi Nak?" Ujar Ummi lirih.
"Baik istirahatlah, panggil Ummi jika kau membutuhkan sesuatu" ujar Ummi diakhiri dengan kecupan dikeningku, rasa hangat langsung menjalar keseluruh tubuh ku, tapi tetap tidak menurunkan ego untu ku berbagi cerita dengan beliau.
"Terima kasih Ummi" Jawab ku pelan.
Tubuh ini lelah tapi entah mengapa mata ini tak kunjung terlelap, rasa lelah bukan karena letihnya raga tapi hati yang tak kunjung membaik.
Setiap kekecewaan akan kenangan itu terputar kembali, rasa sakit itu seolah membuka luka lama yang sebenarnya belum mengering, kini luka itu malah melebar berdarah dan bernanah, bau busuknya bahkan bisa membuat orang yang menciumnya merasa kasihan akan nasib yang ku derita.
Tatapan ku seketika teralihkan saat dering ponsel memecahkan keheningan, nama Humairah tertera di layar benda pipih tersebut.
__ADS_1
Diri enggang menjawab tapi hati tergerak untuk mengangkat, setelah menimbang - nimbang akhirnya aku putuskan untuk menutup panggilan telpon tersebut.
Hati ini memang selalu merindu dengan suara riang dirimu, tapi aku mencoba menyakinkan diri untuk baik - baik dulu sebelum semua menjadi kelabu karena rasa amarah ku.
Indri aku butuh sendiri, biarkan aku meluaskan akal dan pikiran ku agar tak menyakitimu, memang ini semua takdir yang tak bisa ku pungkir, mencoba membaur dengan rasa kecewa ternyata hanya membuatku semakin terluka.
Aku akan mencoba membaik untuk mengakhiri semua penderitaan kita, akan aku yakinkan semua orang bahwa kau berhak bersanding menjadi pendamping hidup ku.
Bunyi denting ponsel kembali mengalihkan pandangan ku, ku lihat pesan singkat yang Indri kirim lewat aplikasi chat berwarna hijau.
"Apa kau baik - baik saja?"
Pesan itu memang terkesan biasa bagi siapa saja yang membaca, tapi hati ini menghangat setiap tindakan kecil yang kau berikan seolah kau menunjukan rasa perhatianmu pada ku.
"Ya" balas ku.
"Boleh aku mendengar suaramu?" Balas indri
"Tidak, aku ingin istirahat" jawab ku
"Baiklah, kabari aku apapun itu"
Harus aku mulai darimana agar benang kusut ini bisa terusai dan terbentang kembali? Mungkin akan ku mulai dari Ummi dan Abi, bila memang mereka terlibat dengan semua ini mereka juga akan membuat jarak antara orang tua dan anak.
__ADS_1