
Sewindu sudah aku berstatus janda beranak dua, awalnya aku mengira ini tidak akan mudah dengan stigma buruk yang selalu melekat pada sosok seorang janda.
Dinegara ini tak jarang pihak wanita yang selalu dirugikan, meski disini wanitalah yang selalu menjadi korban, alih - alih dilindungi mereka malah dihina karena ketidak berdayaan mereka dan ironi nya orang - orang yang membully kebanyakan dari pihak wanita, bukankah seharusnya kita saring merangkul karena kita sama - sama wanita? bukan malah merendahkan, menggunjing bahkan melebeli buruk pada seseorang yang memang menjadi korban.
Awal menjadi janda banyak Ibu - ibu yang ketakutan bila suami mereka tergoda oleh ku, saat itu aku hanya bisa tersenyum menertawakan diri sendiri.
Wanita mana yang mau menerima bahkan memiliki titel sebagai janda? tentu jika mereka berada diposisi ku pun akan sangat tidak mudah bagi mereka, lantas mengapa harus menuduh aku akan merebut suami mereka yang notabene sudah tua dan tidak beruang.
Apa yang membuat aku sampai tertarik dengan mereka? lain halnya jika mereka tertarik dengan ku? itu bukan kesalahan ku, lagi pula aku tidak mungkin meladeni mereka, lelaki sekelas Husein dan Kak Evan saja aku abaikan lantas apa yang membuat suami mereka lebih, hingga aku harus menanggapi mereka semua.
Sikap dingin selalu aku tunjukan pada siapa saja yang mengganggap ku sebelah mata, lain halnya jika seseorang itu benar - benar dekat dengan ku, aku akan dengan mudah berbincang, merangkul hingga tertawa bersama.
Selama sewindu ini, aku lebih banyak mnghabiskan waktu untuk mengejar mimpi yang pernah aku tukar dengan kehidupan rumah tangga, meski akhirnya tak bahagia tak ada yang perlu aku disesali, semua pasti ada hikmahnya.
Salon yang kami kelolah bersama berjalan lancar, tak pernah sehari pun sepi pengunjung, bahkan ada yang sampai membuat janji terlebih dahulu karena tak mau mengantri lama.
Aku memiliki 2 karyawan tambahan, Tari tetap berada disamping ku sebagai tangan kanan ku, dia orang yang paling aku percaya setelah Mbak Yeni dalam mengeloah usaha ini.
"Mbak bulan ini jadwal kita sangat padat bahkan ada satu hari dua jadwal" keluh Tari saat jam makan siang diacara pernikahan seorang anak penjabat daerah dikota ini.
__ADS_1
Mereka menggunakan jasa Make Up Artis dan Wedding Organizer milik kami untuk perayaan pernikahaan anak mereka.
Pernikahan bertema taman langit ini dibuat di tepi danau milik pribadi, kami tidak terlalu banyak menghias, danau dan taman disini sudah tertata rapi dengan banyak tanaman bunga - bunga yang indah.
"Apa kau ingin libur Tari?" Tawar ku melihat Tari seperti mengeluh.
"Bagaimana mungkin aku libur, sedangkan orang yang paling bekerja keras dalam semua ini masih bekerja, aku mengkhawatirkan mu Mbak" Jawab Tari tersungut dengan bibir mengerucut.
"Aku akan baik - baik saja, jika kamu ingin cuti katakan saja" Tari bagaikan adik manis bagi ku, perlahan sosok gadis pemalu itu hilang dengan gadis yang ceria bila dihadapan ku.
"Mungkin lain kali jika aku memerlukannya" Jawab tari dengan senyum manisnya.
"Baiklah, hari ini salon cukup lenggang bagaimana kalau sepulang dari acara ini kita berbelanja kebutuhan salon dan perlengkapan make up sepertinya sudah stok sudah mulai menipis?" ucap ku dengan kedua mata masih menatap benda pipih dalam genggaman.
"Baik Mbak" jawab Tari menganggukan kepalanya.
"Mbak boleh saya bertanya mungkin diluar jalur pekerjaan" Ujar Tari canggung.
"Ada apa tanyakan saja?" Jawab ku menatap gadis dihadapan ku.
__ADS_1
"Apa yang membuat Mbak tidak suka dengan Mas Husein? kenapa setiap kali Mas Husein berusaha Mbak selalu menghindar" tanya nya ragu - ragu.
"Tari... aku tidak pantas untuknya, dia berhak mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dari ku Tari" ucap ku klise, yang sebenarnya memang seperti itu
"Jika Allah menggariskan takdir hidup Mas Husein itu Mbak bagaimana? Apa Mbak bisa tetap menolaknya?" ucap Tari memberanikan diri mengutarakan pendapatnya.
"Tari.." ucap ku pelan, sebenarnya aku ragu akan hal itu.
"Mbak dulu juga Mbak tidak pernah tahu akan menikah dengan Mas Ardi bukan? jadi jalani saja dulu mungkin ini takdir terbaik untuk Mbak" ujar Tari meyakinkan,
Semua orang bersikeras mendekatkan aku dengan Husein setelah masa idah ku selesai, Adam yang hanya menatap ku saja sudah bisa aku baca bahwa dia juga menginginkan itu.
"Ada alasan tertentu kenapa kami tidak bersama meski kami saling mencinta" Ucap ku pelan.
"Apa itu?" Tanya Tari penasaran menatap ku.
"Maaf aku tidak bisa memberi tahu siapapun, Aku tak mau ada kesalahpahaman lagi" ujar ku menjelaskan.
"Maaf Mbak" Ucap Tari menyesal
__ADS_1
"Sudahlah, kita selesaikan hari ini" Aku meninggalkan Tari dan mendekati pengantin wanita, ini saatnya sang pengantin berganti pakaian hari sudah mulai masuk senja.