
Sudah dua hari kami menempati rumah yang disewa Bapak, dan sudah seminggu lebih kami tidak bertemu dengan Mas Ardi.
Sebelum pergi ke puncak aku memang sudah memutuskan untuk berpisah dengannya, sudah tidak ada yang bisa aku harapkan lagi dari pernikahan ini.
Dua tahun lebih aku bersabar dan meyakinkan diri jika dia akan berubah seperti yang kami harapkan, tapi mungkin exspetasi ku yang terlalu tinggi hingga hanya kekecewaan yang aku dapatkan, semua yang aku lakukan tak membuahkan hasil apa - apa, aku lelah berharap pada manusia yang sudah tidak perduli dengan kami, kami yang seharusnya sebagai prioritas utamanya.
Aku sangat yakin Allah S.W.T akan mempermudah langkahku kelak, Allah pasti merubah nasib kami selama kami mau berusaha.
Sebelum aku mengajukan perceraian, aku mendekati kedua anak ku terlebih dahulu, aku meminta izin pada mereka untuk berpisah dengan Ayahnya.
Mas Adam mungkin sudah mengerti dan mengijinkan aku, tapi Rasyid? dia baru akan menginjak usia dua tahun dibulan depan, bagaimana kalau dia rindu dan menanyakan keberadaan Ayahnya? Meski saat dia lahir sampai saat ini dia terbiasa tanpa sosok ayah yang menemaninya.
Disini aku tidak berniat memutuskan ikatan cinta Ayah dan anak, jika dia berkunjung atas dasar ingin bertemu dengan anak - anaknya aku tidak akan melarang sedikitpun dia, sangat berhak mendapatkan waktu bersama mereka.
"Sudah siap?" tanya Evan saat melihat ku turun dari tangga.
Rumah dua lantai yang Bapak sewa memiliki 4 kamar, dua diatas satu ditempati aku dan Rasyid satunya lagi ditempati Adam, sedangkan dilantai bawah ditempati Ibu dan Evan.
"Sudah siap Mas" jawab ku menganggukan kepala.
"Panggil aku Evan saja!" sungut nya kesal.
Selalu saja seperti ini jika aku memanggilnya dengan sebutan Mas, entah apa yang ada dibenaknya.
"Kenapa? kau kan lebih tua 3 tahun dari ku, Bapak juga menyuruh ku seperti itu" ucap ku mengangkat sebelah alis heran.
"Aku tidak mau" Evan bersikeras menolak
"Berikan alasan yang jelas" ucap ku tegas.
"Sebutan itu membuat bulu kuduk ku meremang ketakutan" jawabnya dengan mengusap - usap tengkuk leher dan bahunya.
"Apa? yang benar saja" memangnya aku memanggilnya dengan sebutan nama - nama setan gentayangan dan kawan - kawannya.
"Baiklah aku tidak akan memanggilmu seperti itu, bagaimana dengan Kak?" Aku harus tetap menghormatinya walau bagaimanapun dia tetap kakak yang lebih tua dari ku.
__ADS_1
"Baiklah itu lebih baik, semua berkas sudah kau siapkan? setelah dari pengadilan kau akan pergi dengan teman mu itu?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Evan.
"Ya, Kenapa? apa kau menyukainya?" tanya ku menggoda dengan senyum seringai memandang wajahnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa menyukai wanita pemalu seperti dia, melihat wajahnya dengan jelaspun aku tak bisa karena dia selalu menundukan kepalanya" ucap Evan membuatku terkekeh gemas melihat bibirnya berkomat - kamit membicarakan teman pelatihan ku.
Memang benar Tari adalah sosok wanita pemalu, tingkat rasa malunya akan mencapai puncaknya jika dia berjumpa dengan lelaki tampan.
Jangankan bertegur sapa, menatapnya saja raut muka Tari akan berubah kemerahan karena malu, menggemaskan sekali setiap aku ingat gadis itu, anak yatim piatu yang dirawat neneknya.
"Jika kau melihatnya dengan jelas kau akan tergila - gila karena kecantikannya" ujar ku menyumpahi Evan.
"Itu tidak mungkin" jawab evan memutar bola matanya yakin.
"Berani taruhan?" Tanya ku memberi tantangan yang bermaksud lain.
"Taruhan apa?" tanyanya heran.
"Jika sampai kau menyukainya, kau harus menikahinya" ucap ke menatap wajah Evan lebih dekat.
"Dan itu tidak akan terjadi" ujarnya menyangkal.
"Baiklah aku menyerah, aku tidak mau mengikuti taruhan" Ucap Evan setengah berteriak karena ku tinggalkan.
"Sarapan apa sayang Ibu?" ku sapa anak pertama ku sambil mencium puncak kepalanya gemas.
Semenjak kami dipertemukan dengan Bapak, Ibu dan Evan kami tidak terlalu risau memikirkan pangan, Ibu selalu menyediakan makanan sehat terlebih untuk anak - anak yang dia buat sendiri, entah salad, puding, cake ataupun cookies Ibu bahkan mengikuti kelas untuk bisa menyenangkan cucu - cucunya, hingga kini aku melihat kedua anakku tampak gembul dibagian wajah mereka.
"Roti bakar buatan Nenek, Ibu mau?" tawar Adam memberikan sepotok roti bakar yang sudah dia bagi 2, dulu kami sering berbagi makanan bersama masih tampak jelas dalam ingatan, kami pernah makan mie goreng instan satu bungkus dibagi bertiga sebagai lauk makan malam.
"Ibu buat sendiri saja, habiskan sarapannya ya" ucapku mengelus rambut tebal Adam.
"Bu nanti Mas Adam boleh ikut Ibu dan Om Evan?" Tanya Adam menatap saat aku mengoleskan selai nanas diatas roti tawar yang akan aku makan.
"Ikut kemana? anter ke sekolah?" tanya ku heran, sebelum minta ijin pasti Adam sudah tau jawabannya iyalah ya.
__ADS_1
"Anter ke pengadilan" jawab Adam membuatku tersedak saat memakan roti yang ku buat.
"Kenapa?" tanyaku setelah mencoba menetralkan rasa tidak nyaman di tenggorokan akibat tersedak.
"Mas Adam khawatir Ibu takut disana" Jawabnya lirih menundukan kepala.
"Sayang.. " ku usap pundak Adam.
"Om Evan kan ada, nanti Om Evan yang jaga Ibu jadi Mas Adam sekolah saja tidak perlu khawatirkan Ibu" ujar Evan menenangkan Adam.
"Ibu.." ucap Adam lirih hampir tak terdengar.
"Iya Mas.." jawabku lembut mengimbangi suara Adam.
"Mas Adam ijinkan kok kalau Ibu mau menikah dengan Ust Husein, Mas Adam suka dan sayang Ust Husein" ucap Adam mengangkat pandangan kedua mata kami pun bertemu, aku bisa melihat jika ucapan Adam seperti memohon bahwa dia menginginkan Husein sebagai Ayah sambungnya.
"Mas ini sudah siang, lebih baik Mas bergegas habiskan sarapannya nanti Mas kesiangan, ini kan hari pertama Mas belajar disekolah lagi" ucap ku mengalihkan permohonan Adam.
"Ibu tidak suka dengan Ust Husein yah?" Tanya Adam kedua matanya sudah berkaca - kaca.
Nak sebegitu sayangkah dirimu pada husein hingga kau bersedih karena kata - kata Ibu.
"Mas bukan begitu, Ibu belum bisa putuskan sekarang" ucap ku beralasan.
"Ibu tidak perlu berjanji jika memang tidak bisa Mas Adam ngerti, Om Mas Adam tunggu dimobil ya" Adam meninggalkan meja makan, kami hanya bisa menatap Adam yang berjalan keluar.
"Mas.." ucap ku lirih.
"Indri biarkan dulu seperti ini, berikan waktu Adam untuk memahaminya" ucap Ibu mencegah ku yang ingin mengejar Adam.
"Tapi.." ucap ku pilu melihat Adam yang seperti ini.
"Dia pernah kehilangan sosok Ayah dan Husein mampu menggantikannya meski sebentar, wajar jika dia menginginkannya" penjelasan Ibu menyadarkan ku, ternyata dengan aku disisinya masih membuat dia kekurangan sosok Ayah dan mencarinya dari orang lain.
"Tapi aku tidak bisa berjanji apapun tentang Husein Bu" ucap ku menegaskan.
__ADS_1
"Semua keputusan ada ditanganmu, jika menurut mu itu baik semua pasti akan memaklumi" ujar Ibu.
Maafkan Ibu Nak, Ibu tidak pantas untuk Husein, dia berhak mendapatkan pendamping yang lebih baik, semoga kau mengerti