Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Mengikuti Pelatihan


__ADS_3

Flashback off


Mendung yang sedari tadi akhirnya menurunkan tetesan - tetesan air hujan yang tak terhitung jumlahnya, aroma bau tanah menyeruak masuk kedalam rongga hidung tatkala hujan bertemu dengan tanah.


Suasana sore ini terasa tenang dengan suara hujan sebagai musik alami, angin menghembus menambah rasa sejuk pada kulit yang tak terbalut kain.


"Semenjak pertemuan di cafe, Husein seperti menjauhi ku?" Gumam ku menatap langit


Ting.


Denting suara pesan diponsel mengalihkan pandanganku, ku tatap benda pipih dalam genggaman.


"Nomor baru? siapa?" lirih ku


"Aku akan mencari tahu apa yang membuat kita berpisah selama 9 tahun ini"


Husein.


Bahkan jika kau mengetahui semuanya, itu tidak akan merubah apapun.


Taburan bintang bergemerlap menyelimuti langit malam ini, usai melaksanakan shalat Isya kami berkumpul didepan televisi berukuran 14" sebagai media hiburan dirumah kami.


"Hmmmpp.. Mas" sapa ku pada si cikal ragu.


"Iya Bu?" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada layar televisi


"Mengaji masih dengan Ust Husein?" tanya ku lagi.


"Gak bu, sudah 2 hari Ust Husein pergi ke luar kota kata Ust Abdullah katanya beliau mau menemui Abi nya, kenapa emangnya bu?" tanya Adam menoleh heran


"Ah gak.. Ibu hanya ingin tau saja" ujarku memberikan senyuman canggung dengan pertanyaan Adam


"Ibu rindu ya?" Tanya Adam


"Apa?!"


"Mas juga rindu, Pak Ust Husein itu baik banget apa lagi setelah Pak Ust tau kalau Mas anak Ibu, beliau sering kasih jajanan kaya coklat atau biskuit, Pak Ust juga sering kasih hadiah sama anak - anak pengajian yang bisa stor hafalan surat -surat pendek tiap harinya" keluhnya muram

__ADS_1


"Berarti Mas berharap selalu dapat hadiah dong?" tanya ku dengan tersenyum


"Mas kan jarang makan jajanan kaya gitu Bu, Pak Ust juga sering hibur Mas bu, semenjak Ayah jarang pulang Mas berasa gak punya Ayah" ucap Adam sedih


"Maafin Ibu yah Mas" ku tepuk bahunya, ku raih tubuhnya dalam pelukan menyalurkan rasa hangat


"Coba Ayah Mas itu Pak Ust Husein" celetukan Adam membuat nyeri di hati ku, sebegitu terlukanya kah anak ku hingga membandingkan orang tuanya dengan orang lain.


"Mas ko ngomongnya kaya gitu sih? Mas harusnya bersyukur masih punya Ayah yang sayang, Ayah jarang pulang karena harus cari kerja Mas yang sabar ya? Diluaran sana banyak yang tidak punya Ayah dan jadi anak yatim" ku usap punggung Adam menyakinkan dirinya.


"Maafin Mas ya Bu?" ucap Adam membalas peluk ku erat


"Ini sudah malam sayang, televisinya dimatiin ya kita tidur bareng mau?" tanya ku jahil karena biasanya Adam akan menolak jika aku menawarinya untuk tidur dengan ku, dia selalu beralasan bahwa dirinya sudah besar.


"Mau" jawabnya menganggukan kepala


"Tumben Mas?" Tanya ku heran


"Masih pengen dipeluk Ibu" jawabnya malu - malu.


Adam biasanya akan bersikap dewasa meskipun usianya baru menginjak 8 tahun, kekurangan ekonomi yang kami alami membuat dirinya tertempa untuk tak semanja anak seusianya.


Selepas aku mengantar Adam sekolah, aku berniat mampir ke warung Mbak Yeni belanja sembako dengan uang seadanya.


"Asalamualaikum Mbak" sapa ku diluar warung.


"Waalaikum salam nduk" Mbak yeni datang terpogoh - pogoh meraih Rasyid dan mengendongnya


"Nduk masuk sebentar, ada yang mau Mbak omongin" dia menarik pergelangan tangan ku.


Aku duduk diruang tamu meski tuan rumah tidak mempersilahkannya, rumah ini sudah aku anggap rumah Kakak ku sendiri, Mbak yeni keluar dari kamarnya membawa selebaran seperti brosur.


"Ini coba baca Nduk, barang kali kamu minat Mba dapet dari Mas Sapta"


"Informasi pelatihan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi ayo ikuti pelatihan di BLK dengan kejuruan listrik industri, welder pengelasan, audio vidio, sepedah motor, desain grafis, mesin bubut, menjahit garmen, Adm perkantoran dan tata kecantikan kulit dan rambut" ucap ku membaca brosur ditangan


"Kamu ada minat gak disalah satu kejuruan itu masa pelatihannya satu bulan dapet uang juga buat mulai usaha" ucap Mbak Yeni antusias

__ADS_1


"Anak - anak gimana Mbak?" tanya ku bingung


"Lah klo si kecil bisa Mba asuh toh, dia itu udah Mba anggep anak sendiri, nah klo yang besar coba kamu ajak ngobrol bisa gak dia mandiri tanpa kamu seharian?" ujar Mbak Yeni


"Baik Mbak nanti saya obrolkan dulu sana Adam dan Ayah nya" ku lipat brosur pelatihan itu kedalam saku


"Hmmpp istri solehah sudah diabaikan masih saja inget ijin suami" Mbak Yeni berlalu dengan tatapan mengejek


"Hehehehehe..." aku hanya bisa tertawa menanggapi tingkah Mbak yeni


Siang hari selepas pulang dari rumah Mbak Yeni aku menjemput Adam disekolah aku langsung mengutarakan maksud ku pada Adam, diluar dugaan dia sangat setuju dengan bangganya dia berkata


"Ibu lakukan apa saja yang buat Ibu senang, Mas akan baik -baik saja Mas kan sudah besar"


Masyallah beruntungnya hamba memiliki anak seperti Adam, untuk mengabari Mas Ardi aku mencoba menghubunginya lewat telepon tapi sudah beberapa kali aku menelpon tidak ada tanggapan dari Mas Ardi hingga ku putuskan untuk mengirim pesan saja.


"Mas besok aku akan mengikuti pelatihan di BLK aku minta ijin selama sebulan ini mengikuti pelatihan tersebut, kalau bisa aku titip anak -anak" ku kirim pesan singkat ku saat aku ingin menyimpan benda pipih itu diatas nakas bunyi denting pesan dari ponsel terdengar.


"Terserah" balasan pesan dari Mas Ardi.


Aku hanya menghela nafas panjang, sudah mati rasa bahkan tenaga untuk marah saja sudah tidak ada, ijin hanya formalitas semata agar aku tak dicap istri kurang ajar atau bahkan durhaka.


Aku menghubungi Mba Yeni.


"Asalamualaikum Nduk gimana? bisa?" tanyanya langsung.


"Waalaikum salam Mbak, boleh kayanya" jawab ku


"Kok kayaknya?" ujar Mbak yeni seperti heran


"Mas Ardi hanya bilang terserah" ucap ku


"Ya sudah anggap saja boleh, besok kamu pergi sama Mas Sapta ya soalnya dia juga ikut jadi pelatih sepedah motor" jelas Mbak Yeni


"Baik Mbak, Mbak bagusnya aku ambil apa ya? Indri bingung Mbak pilihan untuk wanita kan tidak sebanyak pilihan kejuruan untuk pria"


"Gimana kalau kamu pilih tata kecantikan kulit dan rambut, itu jatuhnya kaya penata rias atau Make up pengantin gitu Nduk, kalau kamu lulus dari BLK, nanti kamu ikut pelatihan - pelatihan lagi diluar kalau mau, di BLK bisa kamu jadikan dasar awal pengenalan kamu dengan pekerjaan itu kamu gak usah pikirin biayanya nanti Mbak yang modalin nah setelah kamu bener - bener menguasai Mbak pengen kita buat Wedding Organizer bagaimana?" ujar Mbak Yeni panjang lebar

__ADS_1


"Aku setuju Mbak" ujar ku tak kalah antusias, dimana lagi aku akan menemukan orang yang mendukung penuh seperti Mbak Yeni.


__ADS_2