Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Kejutan Menyebalkan


__ADS_3

Sepulang dari pengadilan aku berdiam diri dikamar, aku sengaja meminta waktu bertenang pada semuanya untuk meredakaan kemarahanku, meski dengan waktu sesaat.


Tak terasa hari mulai senja, hampir setengah hari aku tak bertemu orang rumah, hanya ada Rasyid disisi ku karena dia tidak pernah bisa jauh dari pandanganku.


Terlalu larut dalam kesedihan membuat ku tak kujung turun dan keluar dari kamar, sampai akhirnya aku tersadar Rasyid harus makan malam.


Melihat kedatangan ku dan Rasyid dimeja makan, membuat kelegaan disemua wajah yang ada di ruangan ini, tidak ada yang berani mengawali pembicaraan selama acara makan malam berlangsung.


"Ibu.." Adam mulai buka suara, semua mata tertuju padanya.


"Iya sayang.." jawabku lembut.


"Apa Ibu bertengkar dengan Ayah disana?" ujar Adam menatap ku


"Tidak Nak" jawab ku lembut dengan senyuman.


"Lalu apa yang membuat Ibu marah dan seharian mengurung diri? Mas Adam ketakutan" Adam menundukan kepalanya suranyanya terdengar parau.


"Mas takut apa?" aku mengelus rambut hitam tebal miliknya.


"Mas takut Ibu gak keluar kamar, Adam masih butuh Ibu" Adam menangis lirih, aku tersadar dengan kesalahan ku, aku tak memikirkan perasaan Adam, meski dia sjdah beranjak besar dia tetap membutuhlan perhatian ku.


"Maaf ya Ibu sudah buat Mas khawatir" ku raih tubuh Adam memeluknya hangat mengecup keningnya sayang.


"Jangan seperti itu lagi, Mas takut" ujarnya sendu menatap wajah ku.


"Ibu janji ini terakhir kalinya" ujar ku menautkan jari kelingking kami.


"Indri.." panggil Bapak saat kami masih berpelukan.


"Iya Pak" jawab ku menoleh ke arah orang yang memanggil ku.


"Semua baik - baik saja bukan?" tanya Bapak sama khawatirnya.


"Semua baik - baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ucap ku dengan senyum mengembang sempurna.


"Syukurlah jika begitu, selepas makan malam ini bisakah kau ikut dengan kami?" ujar Bapak lagi


"Kemana?" tanya ku heran dan penasaran.


"Ikut saja ada kejutan besar untuk mu" ucap Kak Evan yang berada dihadapan ku.


"Kenapa kalian repot - repot memberi kejutan untuk ku?" ucap ku terkekeh lucu.

__ADS_1


"Sayangnya ini bukan dari kami" ujar Kak Evan lagi


"Apa?" ucap ku bingung dengan pernyataannya.


Kami berkumpul didepan rumah, aku berfikir akan ada acara makan malam ke dua untuk perayaan, atas selesainya sidangan perceraian ku yang terbilang alot.


Tapi melihat Bapak dan Kak Evan tidak mengeluarkan mobil membuat ku mengerutkan kening hingga kedua alis ku seperti menyatu.


"Kita akan kemana?" Tanya ku heran


"Sudah ikuti saja, pertama - tama pakai dulu ini untuk menutupi kedua matamu" Ujar Kak Evan memerintah


"Kenapa aku harus mengenakan penutup mata?" Tanya ku makin penasaran.


"Sudah diam saja, tidak mungkin kami mencelakai mu" ucap Kak Evan yang diiringi kekehan tawa Ibu dan Bapak.


Mau tidak mau akhirnya aku mengenakan penutup mata itu, aku ingin semua ini segera berakhir, aku tidak bisa dibuat penasaran seperti ini.


Aku berjalan dengan kedua mata tertutup dan Kak Evan sebagai penunjuk jalan ku, dia menggandeng tangan kanan ku agar aku tidak tersandung dan jatuh.


Akhirnya kami berhenti, aku bisa menebak jika kejutan itu lokasinya tidak jauh dari rumah yang kami sewa, nyatanya kami bisa berjalan ke lokasi tempat yang dituju.


Kak Evan perlahan membuka penutup mata yang sedari tadi menghalangi pandangan ku, perlahan ku buka kelopak mataku.


"In..i bekas rumah ku Pak?" tanya ku terkejut saat aku melihat rumah berlantai 2, lantai bawah dijadikan ruko dengan kaca mati dan pintu kaca, hingga tampak jelas jika lantai bawah digunakan sebagai ruko dengan perlengkapan salon lengkap.


"Kalian yang menyiapkan semua ini" ucap ku yang masih terkejut dengan kejutan yang mereka berikan, entah mengapa ini melebihi apa yang aku impikan, dan salon ini terlihat berkelas dengan segala furniture dan perlengkapan yang ada.


"Sayangnya bukan" Jawab Bapak santai membuat ku lebih terkejut.


"Bukan?!" ucap ku membeo mengikuti kata yang membuatku bingung.


"Ini semua dari seseorang yang sangat menyayangimu" Ujar Ibu tersenyum menatap ku.


Seorang lelaki tampan keluar dari dalam salon menghampiri kami, membuat ku seketika terpana saat melihatnya, Husein ia dia Husein apa dia dibalik semua ini?


"Husein! Apa semua ini ulah mu?" Tanya ku geram.


"Humairah.." sapanya lembut, mendengar suaranya yang melembut membuat hati ini sedikit berdesir, hati tolong kuatkan dirimu.


"Ada apa ini? Kenapa dengan kalian" Tanya Bapak bingung melihat tingkah kami.


"Berapa biaya yang kau keluarkan untuk semua ini?" Ucap ku melayangkan tatapan tajam ke arah Husein.

__ADS_1


"Humairah ku mohon.." ucapnya melembut memohon.


"Berhenti menyebutku dengan sebutan itu! Sebutkan berapa biaya yang kau keluarkan untuk merenovasi rumahku seperti ini" Ucap ku tegas, tolong berhentilah hati ku tak bisa menerima kebaikanmu lagi.


"Indri ada apa? Jika memang kalian sedang ada masalah tolong bicarakan baik - baik jangan seperti ini apa kalian tidak malu dilihat oleh kami dan anak - anak" Ujar Bapak kesal dengan sikap ku kepada Husein.


"Baik Pak" ucap ku pelan menundukan kepala.


"Kau ikut aku!" Aku meninggalkan semua, mengarah ke depan jalan besar didepan rumahku.


"Apa semua ini?" Ucap ku geram saat hanya ada aku dan Husein.


"Aku hanya ingin memberi kejutan kecil untuk mu" ucapnya memberikan senyuman manis, lesung pipi itu manis sekali, hati tetaplah kuat.


"Berapa total semua biaya yang harus aku ganti" ucap ku datar mengalihkan pandangan menatap banguanan yang terkesan minimalis tapi mewah.


"Humairah aku memberinya sebagai hadiah untuk mu dan anak - anak.." ucap Husein menjelaskan.


"Hadiah karena keinginanmu menjadikan aku seorang janda sudah terkabul" ujar ku memotong ucapan Husein.


"Apa kau menyesal bercerai dengannya?" Tanya Husein seperti kesal menatap tajam kedua bola mata ku.


"Apa?!" Tanya ku gugup karena jarak wajah kami yang terlalu dekat.


"Jadi selama ini kau mencintainya? dan sekarang kau masih menginginkannya, dengan semua yang telah dia lakukan terhadapmu dan anak - anak mu?" Tanyanya geram kedua bola matanya membola, raut mukanya memerah seperti menahan amarah.


"Kenapa kau malah ikut - ikutan marah? Disini yang seharusnya marah itu aku" Ucap ku tersulut emosi.


"Baik aku memang tidak pantas marah, sekarang aku yakin jika aku sudah tidak ada tempat dihatimu" ucapan Husein barusan membuatku sedikit merasa kasihan.


"Hah, kau terlalu kekanak - kanakan, sekarang sebutkan berapa yang harus aku bayar?" ucap ku mengalihkan pembicaraan.


"Karena kau teringin sangat membayar hadiah pemberian ku, baiklah total semuanya adalah 500 juta dan aku mau kau membayarnya satu bulan dari sekarang" Ucap Husein datar membuang muka.


"Apa?!" aku terlejut dengan pernyataan Husein


"Kenapa apa itu terlalu mengejutkan? tadi kau terlalu sombong menanyakan berapa total semuanya, itu hanya biaya renovasi saja belum termasuk furniture dan perlengkapan salon, jadi apa kau yakin bisa mebayar semuanya?" seringai aneh tercetak jelas dibibirnya.


"Apa bisa memperpanjang jangka waktunya?" ucap ku memohon.


"Tidak" ujar nya singkat tegas.


"Kau kejam sekali, aku heran kenapa dulu aku pernah menyukaimu" gumam ku pelan yang ternyata masih bisa dia dengar.

__ADS_1


"Ap- apa sekarang sudah tidak lagi?" tanya nya sedikit terbata.


"Tidak" jawab ku acuh meninggalkan Husein sendiri.


__ADS_2