Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Dia Tak Peka


__ADS_3

Rasa sakit menjalar disetiap tubuh Husein saat dia terbangun dalam keadaan tertidur diruang kerja dengan tumpukan berkas yang mengelilingi wajahnya diatas meja.


"Aaaagghhh....!!!" Husein meregangkan tubuh yang serasa kaku karena posisi tidur yang terduduk semalaman.


"Cih..! Karena semua pekerjaan ini aku tidak bisa tidur memeluk wanitaku, aaghhh.. badan ku sampai sakit semua" Husein menatap kesal semua berkas pekerjaan dihadapan matanya.


Husein memandangi jam yang melingkar ditangan kirinya, semalam dia lupa lepaskan.


"Aku harus bersiap - siap" Ujar Husein saat melihat jarum jam tepat pukul 7 pagi.


Husein merapikan sisa pekerjaannya dan segera keluar untuk bersiap, saat keuar ruangan Husein dikejutkan teriakan Rasyid dari kejauhan menghampirinya.


"Abiii...!" Husein berjongkok bersiap menerima pelukan anak sambungnya.


"Hai Boy sudah bangun rupanya?" Jawab Husein terkekeh gemas saat Rasyid datang memeluknya.


"Ayid bahkan sudah mandi !" Jawabnya mengembungkan kedua pipinya kesal.


"Hahaha.. Benarkah? Mana sini Abi cium dulu !" ujar Husein gemas ingin menciumi leher Rasyid.


"No, Abi bau belum mandi" Rasyid menatap tajam mengoyang goyangkan jari telunjuk melarang Abinya.


"Ah Abi sakit hati" Husein berakting sedih menunduk dengan sebelah tangan menutupi wajahnya.


"Baiklah tapi hanya 1 kali saja" Cicit Rasyid merasa bersalah


"Deal" Husein menciumi leher Rasyid yang membuat Rasyid kegelian karena bulu halus dibagian dagu serta pelipis Husein.


"Hahahaha... Abi geli.. Abi geli stop" Husen dan Rasyid tertawa bersama.


"Benar ternyata anak Abi sudah mandi dan wangi, sekarang pergi sarapaan Abi mandi dulu" Husein melepaskan pelukannya pada anak kecil berusia 4 tahun.


"Ok Abi" Rasyid meninggalkan Abinya berlari menuju ruang makan.


Sesampainya dikamar Husein melihat Indri sedang menyisir rambutnya didepan meja rias.


"Humairah tolong persiapkan pakaian ku, aku ada metting pagi dengan Klien" Ujar Husein tanpa menghampiri Indri dan langsung memasuki kamar mandi untuk bersih - bersih.


"Hmm.. Tanpa meminta maaf dia sudah menyuruh ku !" geram Indri, meski begitu dia tetap patuh masuk ke area walk - in closet untuk menyiapkan pakaian serta keperluan Husein.


Setelah selesai Humairah keluar turun ke lantai 1 mempersiapkan sarapan untuk semuanya, meski ada Bibi yang membantunya Indri tetap turun tangan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak - anaknya.


Diruang makan sudah ada Adam dan Rasyid mereka masih dalam masa liburan sekolah, Indri dan Husein sudah memindahkan Adam dan Rasyid agar bersekolah di sini dekat dengan Ibu dan Abinya.


Rumah yang dulu kini ditinggali Kakek dan Nenek mereka, karena kesehatan Ibu yang sering menurun akhirnya memutuskan untuk berhenti bertani dan menyerahkan semuanya pada Evan sang Kakak.

__ADS_1


"Asalamualaikum anak - anak Abi" Husein turun dengan jas yang dia lampirkan ditangan kiri dan tablet yg dia genggam di tangan kanan.


"Waalaikumussalam Abi" Jawab Rasyid dan Adam serempak.


"Humairah aku pergi sekarang, aku akan sarapan dikantor" Husein menatap jam ditangannya dia tidak punya cukup waktu untuk sekedar sarapan bersama keluarganya.


"Hmm"


"Kenapa buru - buru sekali Abi?" Husein melirik Rasyid gemas melihat pipi yang menggembung karena sandwich.


"Abi ada metting sayang, jadi Abi harus berangkat sekarang" Husein selalu berlemah lembut pada kedua anak sambungnya.


"Aku pergi sayang, mungkin akan pulang larut jadi jangan tunggu Aku"


"Ya" gumam Indri lemah.


Cup


Husein mengecup pipi kanan Indri sebelum dia berlalu pergi pamit meninggalkan semuanya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam.." Jawab semuanya.


Dikantor Husein tergesa - gesa masuk ke bilik ruangannya, hari ini dia akan kedatangn kolega penting dari berbagai negara.


"Sudah Pak, Anda bisa mengeceknya sebelum acara metting dimulai 15 menit lagi"


"Baiklah, bawa berkasnya kesini"


Husein berniat mengekspor hasil bumi yang melimpah untuk menambah nilai jual bagi para petani.


Ada banyak rempah Indonesia yang sudah dia siapkan, tentu yang terbaik yang akan dia perlihatkan.


Nilai jual yang murah dinegri sendiri membuat para petani enggan menanamnya, mereka hanya menanam dipekarangan untuk kebutuhan sendiri tapi disini Husein tergerak untuk membuka lapang pasar internasional untuk mendongkrak sumber daya para petani.


Proyek yg dia kembangkan beberapa bulan belakangan ini bersama para petani berbuah manis rimpang dan sayuran berkualitas bagus mampu menarik infestor luar untuk melakukan kerjasama.


Husein berniat mengekspor lada, cengkeh, bunga lawang, pala ke negara Eropa sedangkan sayur mayur ke negara Asia seperti Korea yang membutuhkan banyak sawi putih untuk produksi kimchi.


"Ini semua untuk mu sayang" Husein menatap foto berbingkai yang berdiri tegak diatas meja.


Foto kelulusan Husein saat SMA hari dimana Indri menyambut rasa cintanya yang selama ini dia anggap bertepuk sebelah tangan.


Dirumah Indri dibuat kesusahan semenjak Husein pergi bekerja tiba - tiba Indri diserang rasa gelisah dan cemas serta berujung rasa mual yang menekan perut atasnya.

__ADS_1


"Uwwweeeehhkkk...." Indri berlari ke dalam toilet kamar yang diikuti Rasyid.


"Ibu ! Mas Ibu sakit !!" Rasyid berteriak memanggil Adam yang masih di meja makan meski dia sudah sedari tadi selesi sarapan.


"IBU..!" Adam berlari menghampiri Rasyid yang berada dikamar Indri.


"Rasyid panggil Bibi !" Rasyid mengangguk lantas berlari sesuai perintah sang Kakak.


"Ibu.. Ibu bisa denger Adam? Bu!" Indri mengangguk berdiri mencoba menyeimbangkan diri.


"A- adam.."


Bruk****k


Indri terjatuh dan pingsan dalam pelukan Adam.


"Ibu bangun, Ibu kenapa?!" Adam memukul pelan kedua pipi Indri dan sesekali mengguncangkan bahunya.


"Ada apa Den?" Bi Ati terpogoh - pogoh menghampiri Adam di depan pintu kamar mandi


"Ibu pingsan Bi, lihat wajahnya juga pucat tolong bantu Adam mengendong Ibu ke ranjang" Bi Ati merangkul mencoba memapah ku ke atas ranjang.


Aroma minyak angin menyeruak dipenciuman ku, tak lama kemudian aku pun tersadar.


"Euugghh"


"Ibu.." lirih Adam memanggil ku pilu.


"Adam Rasyid" Aku mencoba bangun dengan bersandar di sandaran ranjang.


"Apa ada yang sakit Bu?" Tanya Adam mendekat menempelkan telapak tangannya diatas dkening ku.


"Nyonya mau Darma bawa ke rumah sakit ?" Ujar Bi Ati khawatir.


"Tidak usah Bi, sepertinya Magh saya kambuh saya juga sedikit pusing. Bisa buatkan saya teh hangat dengan roti bakar, saya mau minum obat?" aku memijat perlahan pelipis yang sedari tafi terasa berputar berat.


"Bisa Nyonya, sebentar." Bi Ati pergi dari kamar ku menuju dapur dilantai 1.


"Ibu yakin baik - baik saja, tidak perlu ke rumah sakit?" Tanya Adam melihat keadaanku.


"Ibu hanya sakit perut dan kepala Ibu sedikit pusing itu saja sayang" ku belai rambut tebal Adam menyakinkannya.


"Biar Ayid pijitin Ibu ya?" Si kecil yang sedari tadi diam mulai merangkak naik ke atas ranjang dan memijit tangan kiri ku.


"Hmm, pijatan Rasyid enak" ucap ku tersenyum memuji yang dibalas kekehan lucu Rasyid.

__ADS_1


"Ini Nyonya teh hangat dan roti bakarnya" Bi Ati datang dengan nampan berisi 2 lembar roti bakar berisii selai coklat dan teh tawar hangat yang masih mengepulkan asapnya.


"Terima kasih Bi"


__ADS_2