Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Kerinduan Adam


__ADS_3

Usai merampungkan acara makan siang, Bapak, Mas Evan, Husein dan Wulan meninggalkan ruang makan dan beralih ke area taman untuk lebih santai membicarakan perihal kerjasama yang akan mereka lakukan.


Usai membersihkan sisa makan siang aku membuatkan teh hangat untuk mereka berempat, saat aku meletakan cangkir teh di meja aku melihat Husein sangat tampan dengan wajah seriusnya.


Merasa diperhatikan diapun menoleh pandangan mata kami pun bersiborok, aku dengan cepat mengalihkan pandangan memutuskan rasa canggung yang sedari tadi tak mau hilang.


"Ust Husein.." Adam setengah berlari berteriak melihat orang yang selama ini dia rindukan.


Adam merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk sang guru, Husein yang mendapat sambutan hangat Adam segera merangkul dan mendudukannya diatas pangkuan Husein.


Perlakuan Adam ke Husein membuatku dan Bapak terkejut, dia bahkan tak sedekat itu dengan Ayah kandungnya sendiri.


"Adam Ust Husein sedang ada perlu dengan Kakek, bagaimana kalau Adam main dengan Ibu" ucap ku mencoba menarik sebelah tangan Adam untuk turun dari pangkuan Husein.


"Tapi Mas Adam masih kangen Ibu" Adam merengek ada kekecewaan diraut wajahnya matanya sudah mulai berkaca - kaca.


"Mas.." sapa ku pelan mencoba membuatnya mengerti


"Biarkan saja Indri kau berisik sekali, kenapa kau tidak suka jika anak - anak mu dekat dengan ku?" ujar Husein melayangkan protesnya dia tampak nyaman dengan semua perlakuan Adam terhadapnya.


"Tidak.." ucap ku pelan


"Tidak?! Kenapa?" Husein melayangkan tatapan tidak suka dengan perkataanku yang terputus.


"Bukan begitu Husein kau kan datang kesini untuk membicarakan pekerjaan, jadi aku pikir Adam akan menyita banyak waktu mu" ujar ku menjelaskan kesalahpahaman yang dirasa Husein.


"Pak Ust sekarang tinggal disini? kenapa tidak mengajar mengaji lagi?" Adam menanyakan pertanyaan yang selama ini dia simpan.


"Pak Ust sedang ada urusan pekerjaan Adam, jadi Tidak mengajar dulu" Husein bertutur lembut dengan tangan kanan mengelus - elus pundak Adam memberikan kenyamanan.


"Tapi kenapa lama sekali, Adam rindu.." ucap Adam lirih


"Adam rindu..?" tanya Husein sedikit terkejut bahkan bukan hanya Husein semua yang ada ditaman ini sama terkejutnya terlebih wanita bernama Wulan.


"hmmmp.. bahkan Ibu pun sama" ujar Adam lagi yang seketika membuat bola mata ku membulat sempurna.


"Adam!" aku setengah membentak.

__ADS_1


"Sejak kapan Ibu merindukan Ust?" tanya Husein penasaran aku bisa melihat dia tersenyum senang dengan ucapan Adam.


"Sudah lama, saat pak Ust pergi dan tidak mengajar lagi, Ibu bahkan sering menanyakan siapa yang mengajar memastikan Pak Ust sudah pulang atau belum" Ucap Adam panjang lebar yang membuatku semakin kesal karena malu


"Kenapa Adam harus menceritakan semuanya" batin ku


"Adam!" Nada bicara ku sudah mulai mengeras menahan malu.


Karena tidak mendapatkan tanggapan dari Adam, aku berniat untuk masuk ke Villa menenangkan pikiran.


Baru saja aku berbalik dan hendak melangkan pergelangan tanganku ditarik dan seketika tertahan ditempat.


"Mau kemana kau? lari karena malu?" Ujar Husein tersenyum meledek.


Aku hanya memutar bola mata malas, sudah tau jawabannya masih saja dipertanyakan.


"Sudah cukup puas melihat ku malu?" Tanyaku geram.


"Tidak, ini tidak sebanding dengan rasa sakit itu" ungkap Husein yang membuat hati ku mati rasa saat mendengar kekesalannya.


"Jika begitu balaslah" ucap ku, mungkin dengan membalaskan kekesalannya dia akan merasa tenang.


Matahari mulai surup, kabut sudah mulai turun cuaca seketika menurun beberapa derajat celcius, aku masih betah menatap hamparan perkebunan teh yang hijau memanjakan mata dengan duduk diatas gazebo dibelakang Villa.


Tanpa ku sadari seseorang duduk persis disebelah ku.


"Kau masih merindukan ku Humairah?" suara lembut itu terdengar lebih tulus dibandingkan sebelumnya.


"Ku kira nama panggilan itu sudah menghilang bersamaan dengan datangnya benci yang kau tunjukan" ucap ku jengkel tanpa menatap siapa yang telah menyapaku.


"Maaf.." Husein meraih sebelah tangan ku dan menggenggamnya erat.


"Maaf cemburu membuat ku menyakitimu" ujarnya lagi.


"Cemburu?!" aku menatap Husein dengan menautkan kedua alis ku heran.


"Hmmmmp, aku mengira jika Evan adalah selingkuhan mu, aku berfikir jika kau berniat berselingkuh harusnya lelaki itu adalah aku bukan orang lain" ucap Husein datar

__ADS_1


Plakk


Aku melayangkan tamparan di bahu kirinya mendengar penjelasan tidak masuk diakal mengenai lelaki mana yang pantas aku jadikan selingkuhan.


"Humairah sakit" Husein mengusap - usap bekas tamparan dibahunya itu pasti terasa panas karwna aku menamparnya dengan kekesalan penuh.


"Ustad macam apa kau yang mau jadi selingkuhan orang lain! Istigfar Husein lama - lama aku takut berduaan dengan mu" aku setengah berteriak tidak habis fikir dengan kecemburuan Husein.


"Ya aku pun merasakan hal yang sama, setelah sidang perceraian mu selesai aku akan segera meminangmu" Ucapnya lagi.


"Perceraian? Meminang? apa maksudmu?" tanya ku heran kenapa Husein tak henti - hentinya membuat ku terkejut.


"Bapak sudah menceritakan semuanya Humairah, kenapa kau tak mengabari aku?" raut wajah Husein sudah menujukan kekesalan


"Itu.." aku terbata tak tau haris memulai dari mana.


"Kenapa kau suka sekali membuat ku sakit dengan tidak melibatkan ku dengan semua masalah yang kau hadapi?" Ucap Husein geram bisa aku lihat jika dia sedang menahan amarahnya.


"Maaf tapi ini masalah rumah tangga ku, aku bisa menyelesaikannya sendiri" Jawabku pelan, Husein memang sudah berkali - kali mengingatkan ku untuk melibatkannya jika aku mengalami kesulitan.


"Sampai kapan kau tidak memerlukan orang lain?" Tanya Husein mendengus kesal


"Ini hanya masalah pribadi, Bapak sudah mengurusnya" Jawabku menjelaskan.


Senja sudah menghilang dalam sekejap awan mulai menghitam pertanda malam pun mulai tiba.


"Baiklah, Aku pergi dulu jaga dirimu baik - baik hubungi aku jika kau memerlukan orang untuk membantu mu, aku orang pertama yang akan dengan senang hati selalu ada untuk mu" Husein memberikan senyuman hangatnya.


Senang rasanya perang dingin diantara kami sudah menghilang karena kesalahpahaman yang aku anggap tidak penting.


"Terima kasih Husein" ucapku memberikan senyuman terbaik sebagai penghargaan atas semua perhatian Husein terhadapnya.


Husein bangkit berlalu meninggalkan ku yang masih menatapnya, Husein berbalik dan memanggilku.


"Humairah" ujarnya setengah berteriak karena jarak kami yang cukup jauh.


"Hmmpp" jawab ku

__ADS_1


"Ku tunggu jandamu" Teriak Husein.


"Kau!! pergi sana!" Aku balik membentak Husein yang terkekeh menggoda ku.


__ADS_2