Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Kunjungan Mengejutkan Part 1


__ADS_3

Selesai sudah masa pelatihan yang aku dan peserta lain ikuti, tak terasa waktu 3 bulan itu terasa begitu cepat, banyak ilmu yang dia dapat dari pelatihan disini.


Peserta yang memiliki nilai paling tinggi berhak mendapatkan dana bantuan tunai untuk memulai usaha dikemudian hari, dan saat pelatih menyebutkan peserta yang memenangkannya semua peserta pelatihan harap - harap cemas mendoakan nama mereka yang akan keluar sebagai pemenang.


"Peserta pelatihan yang mendapatkan nilai tertinggi dan mendapatkan bantuan dana tunai sebesar satu juta rupiah adalah..."


Semua peserta tampak gugup ada juga yang berdoa, mungkin berharap namanya yang keluar.


"Indri Amalia" ucap panitia akhirnya


Sorak sorai terdengar memenuhi ruangan pelatihan, Tari yang berada disampingku memeluk senang, aku hanya diam mematung seperti tak sadarkan diri.


"Mbak ayo kedepan" Bisik Tari menyadarkan ku.


Aku pun berdiri dan mendekati pihak panitia, berdiri bersampingan dengan mereka, niat hati hanya ingin belajar hingga tidak menyangka akan mendapatkan sebuah penghargaan seperti ini.


Usai acara penyerahan sertifikat kelulusan semua orang mulai membubarkan diri masing - masing, hari ini aku berniat untuk langsung ke rumah Mbak Yeni untuk menuyerahkan uang yang aku dapatkan, diperjalanan ke rumah aku bertemu dengan Bu Tejo dan konco - konconya.


"Bu Adam habis dari mana?" tanya Bu Tejo padaku dengan senyum manis yang terkesan dipaksakan


"Saya habis dari Balai Latihan Kerja Bu?" Jawab ku, sebenarnya aku selalu punya firasat buruk setiap kali bertemu dengan beliau.


"Bu tadi saya ketemu sama lelaki ganteng yang dulu ke rumah sampean, sepertinya dia berniat meminang sampean deh, soalnya tadi saya liat dia bawa kedua orang tuanya turun dari mobil bawa banyak bingkisan parsel begitu" ujarnya menaik turun kan halisnya


"Lelaki ganteng?! Yang mana ya Bu?" tanya ku heran.


"Ish gak usah pura - pura gitu Bu Adam, Bu kalau boleh saya kasih nasehat ni ya mbok jadi wanita itu harus bisa jaga harga dirinya gitu, masa cerai belum udah mau dipinang orang aja, jadi wanita itu jangan serakah, poliandri itu gak boleh dalam Islam malu sama kerudungnya Bu Adam" ucapnya panjang lebar dengan tatapan mengejek


"Astagfirullah lelaki yang mana yang Bu Tejo maksud? Saya tidak pernah menjalin hubjngan dengan lelaki lain selain suami saya!" ujar ku tegas


"Eh Ndak usah ngegas gitu dong, saya kan hanya kasih nasehat, mbok ya diterima dengan hati lapang bukan dengan marah - marah gitu, Bu Ibu disini saya sudah baik -baik kan ya ngasih tau Bu Adam, dasar Bu Adam nya aja yang tidak tau terima kasih, yu Ibu - Ibu kita pergi aja jadi nyesel saya tegur sapa sama dia" Ucap Bu Tejo mengerucutkan bibirnya kesal.

__ADS_1


Bu Tejo pun pergi berlalu dengan segerombolan Ibu -Ibu lainnya, disini siapa yang salah sih?


Aku tidak memperdulikan ucapan Bu Tejo, usai menghampiri Mbak Yeni dan menyerahkan uang senilai satu juta rupiah aku bergegas pulang ke rumah untuk memastikan kebenaran yang diucapkan Bu Tejo.


Di atas bale - bale bambu aku melihat seseorang yang duduk dengan tumpukan parsel disampingnya, ku amati wajah yang menurutku tak asing.


"Asalamualaikum Pak Evan sedang apa?" tanya ku lembut ternyata yang dimaksud Bu Tejo dan Ibu -Ibu lainnya adalah Pak Evan orang yang pernah bertabrakan dengan Adam anak ku.


"Mbak Indri habis dari mana? Maaf saya berkunjung mendadak, sebenarnya saya berniat mengabari sedari kemarin tapi saya lupa meminta no telepon Mbak" ucap Pak Evan dengan senyum manis menghias diwajahnya


"Sudah lama menunggu saya? Maaf saya baru pulang dari acara pelatihan" ucap ku, ku rogoh kunci rumah dalam tas selempang yang aku kenakan.


"Pak Evan maaf, saya tidak bisa menawari Bapak masuk kedalam, soalnya sedang tidak ada orang dirumah, saya takut terjadi fitnah" ucap ku


"Ah iya tidak mengapa, saya sangat mengerti saya menunggu disini saja, oh iya saya kesini membawa kedua orang tua saya mungkin sebentar lagi akan datang" ucapnya menjelaskan


Ternyata ucapan Bu Tejo benar adanya jika Pak Evan membawa kedua orang tuanya untuk berkunjung kerumah ku, tapi untuk apa? ada hal penting apa hingga dia membawa kedua orang tuanya kemari? kami tidak sedekat itu bahkan untuk berteman.


Setelah membuat minuman aku menghampiri Pak Evan kembali, ku pandangi kanan kiri mencari sosok orang tua yang dia bawa kemari.


"Orang tuanya Pak Evan kemana?" tanya ku duduk berdampingan dengannya.


"Tadi Ibu telpon katanya mampir ke apotik dahulu beliau memang kurang enak badan" Ujar Pak Evan


"Indri boleh saya minta sesuatu?" Tanyanya halus


"Iya minta apa ya Pak?" aku balik tanya.


"Panggil aku Evan saja kita hampir seumuran, kau memanggil ku Pak kesannya kita beda puluhan tahun" ujarnya dengan cengengesan


"Maaf bila selama ini kurang nyaman, baiklah saya akan biasakan panggil anda dengan nama saja" ucap ku.

__ADS_1


Sembari menunggu kedua orang tua Evan datang kami membuka pembicaraan ringan, kami serasa teman lama yang berjumpa kembali Evan yang pembawaannya dewasa dan mudah dalam membuka obrolan membuat lawan bicaranya merasa nyaman karwna selalu ada bahan untuk dibicarakan.


Plakk


Rasa panas dan perih menjalar dipipi ku, tanda merah bercap lima jari tercetak jelas disana, aku hanya mematung merasakan rasa sakitnya tanpa berniat menoleh untuk tau siapa yang telah melakukannya.


"Apa yang anda lakukan!" ucap Evan marah


"Kenapa? Disini harusnya saya yang marah!" ucap Mas Ardi, ya lelaki yang menamparku barusan ialah Mas Ardi entah apa yang dia pikirkan hingga membuatnya berani menamparku dihadapan orang lain.


"Tapi apa salah Indri sampai harus menerkma tamparan? Apa tidak bisa dibicarakan baik - baik?" ucap Evan tersulut emosi, aku bahkan bisa melihat jika dia sedang menahan amarah melihat tangan terkepal dan rahang mengeras.


"Bicara baik - baik? Apa pantas seorang istri berdua - duaan dengan lelaki lain? Apa pantas seperti itu?!!" ujar Mas Ardi membentak


Evan mendekati ku dan menjadi perisai menghalangi Mas Ardi untuk lebih dekat dengan ku.


"Oh jadi anda suami yang lepas tanggung jawab dan menelantarkan istri dan anak - anaknya?" Evan tersenyum mengejek


"Istri kurang ajar, ini yang kau lakukan diwaktu senggang mu? Mengumbar aib keluarga meminta simpati dari orang luar, supaya apa? Agar semua orang menganggap ku sebagai manusia jahat begitu?!" Mas Ardi sudah tidak bisa menahan amarah lagi.


Mukanya memerah dan mata menatap nyalang, dengan kasar dia memberikan bogem mentah diwajah sekitar hidung Evan hingga membuat Evan terdorong tersungkur di tanah, Mas Ardi menarik jilbabku hingga ku rasakan panas diarea kepala karena rambut yang ku ikat tertarik paksa.


"Aagghh.. Mas hentikan ini sakit" ucap ku meminta belas kasihan.


Plakk.. Plakk


Dua tamparan keras aku terima kembali.


"Wanita tidak tau terima kasih, bahkan disaat aku menjadi pengangguran sekalipu kedua orang tua ku masih bisa menafkahi mu, tapi dimana orang tua mu mereka bahkan tidak pernah ingin tau kabar putri kesayangannya" ucapnya membentak marah.


"Lepaskan tangan mu dari putri ku!!!" suara keras menggelegar dibelakang ku membentak Mas Ardi.

__ADS_1


"Bapak?!" gumam ku


__ADS_2