Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Kesedihan Adam


__ADS_3

Kami berempat akhirnya meninggalkan acara yang seharusnya masih berlangsung lama, Adam diam menatap keluar jendela mobil dengan tatapan kosong dan tangan mengepal seperti menahan amarah dan kekecewaan.


Rasyid dalam pangkuan Indri tertidur pulas disamping kemudi mungkin karena terlalu lelah bermain dengan ku, hening yang kami rasakan sepanjang perjalanan ke rumah tak ada yang berani memulai percakapan untuk sekedar mencairkan suasana.


Aku membawa mobil ke arah rumah ku bukan ke rumah orang tua Indri Kakek dan Nenek mereka.


"Abi dimana ini?" tanya Adam setibanya dirumah kami.


"Ini rumah Abi, Ibu, Mas dan Rasyid" Jawab ku menatap Adam tepat dibelakang ku masih didalam mobil yang terparkir.


"Ini rumah Abi??" tanya nya lagi netranya menyapu seluruh pemandangan disekitar rumah dengan masih duduk di dalam mobil.


"Rumah kita sayang" Jawab Indri menatap Adam.


Indri masuk terlebih dahulu ke dalam rumah untuk membaringkan Rasyid yang tertidur pulas dalam pelukannya.


"Besar sekali" Adam bergegas turun dan berlari keluar


"Adam suka?" tanya ku lagi melihat keterkejutannya mengamati halaman depan rumah ku.


"Suka Abi" ujar nya antusias dengan senyum secah menghiasi anak yang berusia 10 tahun itu.


"Jadi kapan Adam tinggal dengan Abi?" Tanya ku sedikit merengek padanya.


"Apa boleh?" tanya nya membuat ku terkejut heran.


"Tentu saja, Adam kan anak Abi" Jawab ku membuat senyumnya semakin lebar namun dia langsung menunduk.


"Tapi Adam kan hanya Anak sambung Abi" ujarnya lirih.


"Kok Adam bilangnya gitu sih? Abi jadi sedih" Ucapku terkejut dengan ucapannya.


"Abi.. Adam sangat senang memiliki orang tua seperti Abi, jauh sebelum Ibu berpisah dengan Ayah dan Ayah mulai mengabaikan kami Adam selalu berangan - angan memiliki Ayah seperti sosok Abi, seorang imam yang bisa kami andalkan"


"Tapi Adam tidak mau dengan adanya Adam dan Rasyid menjadi beban Abi karena menikahi Ibu"


"Melihat Ibu bahagia saja Adam sudah sangat bahagia, dulu saat Ayah menyakiti Ibu Adam hanya bisa diam. Adam hanya anak kecil yang bisa memeluk Ibu dan Rasyid, maaf membuat Abi mengijinkan kami bertemu dengan Ayah. Adam pikir Ayah sudah berubah dan akan menyayangi kami lagi, nyatanya Ayah masih berlaku kasar, Abi Adam minta maaf"


"Adam Ab--" belum sempat aku berucap terdengar isak tangis dibelakangku yang semakin jelas.


"Anak Ibu sudah besar, Ibu yang harusnya minta maaf Mas. Ibu yang memohon pada Abi, Ibu tidak tau hal ini akan terjadi" Ucap Indri berjalan perlahan mendekati Adam berjongkok menyamakan tinggi badan dengan anaknya lalu memeluk Adam. Isak tangis indri membuat ku semakin merasa sedih air mata yang membasahi kedua pipinya membuat ku merasa bersalah.


"Ibu jangan menangis" Adam menyeka air mata dikedua pipi Indri dengan kedua tangannya secara bergantian.


Entah mengapa akhir - akhir ini aku rasa Indri seperti terlalu sensitif dengan suasana hatinya.

__ADS_1


"Ibu sedih Adam terlalu cepat besar, seharusnya seumuran Adam masih manja dan merengek meminta perhatian dari orang tuanya, kenapa Adam seperti orang dewasa hiks... hiks" Ujar Indri terbata dengan isak tangisnya.


"Sudah tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus minta maaf, sekarang kita istirahat Adam dan Ibu pasti lelahkan?" Jawab ku menenangkan keduanya.


Indri kenapa sih? Anaknya aja tidak cengeng ini ibunya drama banget


Mereka berdua berjalan bersama memasuki rumah dengan aku dinelakang mereka.


Abi akan buat kamu manja kembali Nak


"Selamat datang Den" sapa Bi Ati saat kammi bertrmu dengannya diruang tamu.


"Bibi ini anak pertama saya Adam dan yang tadi saya bawa masuk ke kamar namanya Rasyid anak ke dua saya" Ujar Indri menjelaskan tamu kecil yang tak lamma akan menetap bersama kami.


"Duh ganteng - ganteng ya Nyonya" Ucap Bi Ati gemas melihat Adam yang tersenyum melihatkan lesung pipinya.


"Terima kasih Bi" Jawab Adam membungkukan kepalanya.


"Den Adam mau apa tinggal minta saja sama Bibi, mau minum susu atau jus? Mau makan juga Bibi bisa siapkan" Ujar Bi Ati memberikan pelayanan terbaiknya.


"Boleh Bi?" Tanya Adam malu


"Bolehlah Den" Jawab Bi Ati gemas dan takjub akan sifat sopan Adam.


"Adam mau jus dan cemilan Ibu, tadi Adam belum sempat makan disana" Ujar Adam menatap Indri seolah meminta persetujuan Ibunya.


"Adam mau cemilan dulu saja Bu, makannya nanti bareng sama Adek" Jawab Adam.


"Baik Den, Bibi siapkan dulu ya mau jus alpukat atau mangga kebetulan stok buah dikulkas hanya ada buah itu" Tanya Bi Ati


"Iya Ibu lupa belum belanja sayang" Indri tersenyum malu menatap ku, padahal aku tak pernah memintanya belanja bulanan bisa saja menyuruh Bi Ati yang menyiapkannya.


"Gak apa - apa Bi Adam mau jus Mangga saja" Jawab Adam, semenjak aku menjadi guru mengajinya Adamlah yang paling menarik perhatian ku meski aku tak tau jika dia adalah anak pertama Indri wanita yang aku cintai.


"Baik Den" Jawab Bi Ati


"Bi antar ke kolam renang saja ya, buatkan kami juga sekalian" Ujar ku pada Bi Ati, cuaca cukup terik meski waktu sudah menentukan pukul 3 sore, aku berencana mengajak Adam berenang dikolam yang sudah aku modifikasi dengan seluncuran agar membuat nyaman saat anak - anak tinggal disiini.


"Baik Tuan" Jawab Bi Ati meninggalkan kami bergegas ke arah dapur.


"Abi punya kolam renang?!" Tanya Adam terkejut, sudah aku duga dia pasti suka.


"Punya dong, Adam mau renang bareng Abi?" tawar ku menyenangkannya.


"Mau Abi!" Jawabnya setengah berteriak.

__ADS_1


"Tapi Adam tidak punya baju renang Abi, memangnya boleh pake baju seadanya?" tanyanya polos menunduk malu.


"Boleh dong Mas, kan ini kolam renang kita memangnya siapa yang mau melarang?" Jawab ku sedikit sombong hingga membuat Adam tertawa lepas.


"Hehehe.."


Kami bertiga berjalan menuju kolam renang.


"Wah... Ada seluncurannya Abi?" ujar Adam melompat menunjuk seluncuran yang sudah lama rampung namun belum pernah aku coba.


"Adam suka?" Tanya ku penasaran.


"SUKA!!" Jawabnya melompat memeluk ku.


"Ayo..!!" Ajak ku


Kami melompat setelah menanggalkan pakaian kammi dan hanya mengenakan celana pendek dengan pannjang sepuluh jari dari stasiun pusat.


"Ini jus dan cemilannya Nyonya" ucap Bi Ati menyuguhkan minuman dan cemilan yang dipesan kami


"Terima kasih Bi" Jawab Indri di pinggir kolam.


"Ibu..!! Ayo masuk" Ajak Adam melambaikann kedua tangannya pada Indri


"Adam dengan Abi saja" Jawab Indri yang memilih duduk dikursi kayu pinggir kolam renang.


"Ibu mana bisa berenang?" ucap ku meledek menatap Indri.


"Memangnya Ibu tidak bisa berenang?" Tanya Adam seolah benar - benar tidak tahu.


"Bisa, cuma dua gaya" Jawab ku tersenyum


"Gaya apa?" tanya Adam heran


"Gaya batu dan gaya rumput laut" Jawab ku yang mendapat tatapan sinis dari Indri


"Hahahaha... Gaya seperti apa itu Abi?" tanya Adam tergelak dengan pernyataan ku


"Abi!!" Teriak Indri jengkel dengan ulah ku.


"Kalau gaya batu hanya diam tak bergerak sama sekali sedangkan gaya rumput laut hanya mengikuti arus saja" Jawab ku menjelaskan dengan serius namun malah mendapatkan gelak tawa Adam


"Terombang - ambing gitu dong ha ha ha ha" Adam tertawa lepas menertawakan Ibunya.


"Benar sekali anak Abi pintar" Jawab ku memeluk Adam

__ADS_1


"Yak kalian" Indri mengerucutkan bibirnya menatap marah.


__ADS_2