
Proses perceraian yang cukup memakan waktu lama membuatku sering keluar masuk Pengadilan Agama, meski semua berkas dan saksi sudah aku siapkan.
Pada umumnya proses perceraian memang memerlukan waktu maksimal 6 bulan ditingkat pertama, baik itu di Pengadilan Negeri ataupun di Pengadilan Agama.
Tetapi jika proses sidang berjalan dengan lancar, hanya akan memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan saja.
Sering mangkirnya Mas Ardi dalam pertemuan mediasi membuat aku geram, dia seperti tidak ada iktikad baik untuk berpisah secara baik - baik.
Dalam perceraian ini aku tidak pernah meminta apa yang bukan menjadi hak ku, aku hanya meminta hak asuh jatuh ke tanganku itu sudah lebih dari cukup, meski Mas Ardi tidak bisa memberi nafkah lahir selama masa iddah ku aku tidak keberatan sama sekali.
Persidangan pertama akan dilakukan minggu depan, aku berdoa semoga Mas Ardi datang dan mempermudah semuanya.
Kini aku sedang ada dalam acara hajatan khitanan anak kepala desa didesa tetangga, seringnya Mbak Yeni mempromosikan aku kepada langganan cateringnya membuat ku cepat terkenal dibeberapa desa tetangga berkat cerita dari mulut ke mulut.
Aku selalu dibuat bersyukur setiap perlakuan beliau terhadap ku, dia mendorong ku terlalu jauh hingga aku mendapatkan rasa percaya diri diatas rata - rata yang bisa aku lakukan, dia benar - benar mengganggapku Adiknya yang hidup kembali dalam sosok diriku saat ini, ketulusan yang ia lakukan membuat ku tak bisa mengesampingkan namanya dalam hati ku.
"Sudah rapung Nduk?" Mbak Yeni menyapaku didepan pintu yang terbuka, tanpa berniat masuk ke ruangan yang dijadikan tempat aku merias.
"Eh Mbak, sebentar lagi aku harus rapihkan hiasan kerudung ini" jawab ku menoleh sebentar, lantas kembali menyelesaikan sentuhan terakhir menempelkan hiasan kerudung berupa bunga kecil yang tersususun rapi yang akan dikenakan Bu lurah saat ini.
Bu Lurah sengaja meminta dirias terakhir karena sang pengantin sunat tidak mau ditinggal semenjak kepulangannya subuh tadi, rengekan anak bungsu itu mengingatkan aku kepada Adam saat dia di khitan dulu, Adam pun melakukan hal yang sama, dia tidak mau jauh dari ku Adam sangat manja, mungkin karena sakit sehabis dikhitan yang dirasa.
"Baiklah Mbak tunggu didepan kita makan bareng, kamu pasti belum sarapan" Ucap Mbak Yeni tersenyum seperti bangga melihat apa yang aku kerjakan.
"Baik Mbak" jawab ku singkat.
"Bu Lurah permisi" ucap Mbak Yeni pamit pada wanita paruh baya dihadapan ku yang hanya dijawab dengan senyuman dan kedipan kedua kelopak mata.
"Nah sudah selesai Bu, silahkan dilihat dulu jika dirasa ada yang kurang bisa cepat saja biar saya perbaiki" ucap ku memberikan ruang kepada Bu lurah untuk melihat penampilannya, kebaya modern berwarna soft pink membentuk tubuh sang pemakai terlihat ramping.
__ADS_1
"Wah, ternyata benar omongan orang - orang kalau riasan kamu itu bagus, gak kalah sama MUA terkenal, saya berasa 10 tahun lebih muda jadinya" ujar Bu Lurah dia tampak takjub dengan hasil karya ku, sebenarnya aku memiliki Tari sebagai asisten ku, tapi karena rasa malunya dan tingkat kepercayaan dirinya yang rendah membuat dia selalu ingin bersama ku.
"Pada dasarnya memang Ibu sudah cantik, saya hanya mempercantiknya sedikit saja" ujar ku menatap wajah Bu lurah dari pantulan kaca cermin dihadapannya.
"Ah kamu bisa aja saya kan jadi malu, coba kamu punya salon pasti tiap ada acara - acara penting saya pakai jasa kamu" ujar Bu Lurah menyayangkan keadaan ku.
"Minta doanya aja ya Bu, itu juga jadi cita - cita saya" ujar ku tersenyum, aku memang berniat menabung untuk memiliki ruko kecil.
"Amin, punya talenta seperti ini pasti Allah mudahkan" ujar Bu Lurah mendoakan dia pun melenggang keluar dari kamar rias untuk menyambut tamu yang sudah sedari tadi memenuhi halaman rumahnya.
"Amin" jawabku pelan.
"Tari sudah selesai" tanya ku pada Tari yang masih mengemas alat - alat Make up yang berserakan diatas nakas.
"Sudah Mbak" jawabnya seulas senyum dia terbitkan membuat aku yang seorang wanita saja terpesona sesaat, dia manis sekali.
"Kita sarapan bareng" ajak ku menatapnya, andai dia menjadi bagian keluarga ku, simpati ku akan kehidupannya selalu membuat ku menginginkan dia menjadi bagian keluarga ku.
Kami keluar bersama setelah semua peralatan tempur kami tata semula kedalam beautycase
"Nduk sini" Mbak Yeni setengah berteriak memanggil kami, kami pun menghampirinya.
"Mbak bawa apa?" tanya ku penasaran, aku teringin sangat memakan makanan pedas.
"Mbak buat nasi kuning untuk sarapan kita bertiga, ini ada lauk empal daging, mie telor dan perkedel kentang" ucap Mbak Yeni menata box makanan yang sudah dia siapkan khusus diluar menu catring yang dipesan tuan rumah.
"Sambal adakan?" Pagi ini teramat melelahkan hingga aku membayangkan bisa memakan makanan pedas agar tinggi nafsu makan bisa memgantikan rasa lelah ini.
"Indri mulai sekarang Mbak akan kurangi kadar kepedesan sambel tiap kali kamu minta" Mbak Yeni tersungut, matanya menatap nyalang pada ku.
__ADS_1
"Kenapa kok gitu Mbak?" Tanya ku heran
"Mbak sudah tau kalau kamu punya Maag, yang pernah buat kamu masuk dan dirawat di rumah sakit" Jawabnya gemas mencubit pipi kiri ku, dia selalu memperlakukan aku seperti adik kecil, melihat perlakuan Mbak Yeni terhadap ku Tari yang sedari tadi diam memperhatikan kami terkekeh pelan.
"Pasti Mbak tau dari Bapak ya" jawab ku sebal
"Bukan" jawabnya singkat.
"Jadi?" tanya ku penasaran
"Lelaki tampan bernama Husein" jawabnya sambil tersenyum menaik turunkan kedua alisnya.
"Husein?! Kapan Mbak bertemu Husein" tanya ku terkejut karena setau ku dia masih diluar kota mengurusi bisnisnya.
"Dua hari yang lalu" Jawab Mbak Yeni
"Ternyata dia kembali" gumam ku pelan.
"Siapa sebenarnya dia Mbak?" Tanya Tari penasaran
"Teman" Jawab ku malas
"Teman?! Bukan kah aku calon suami mu Humairah" Suara bariton terdengar jelas dihadapan kami, sontak kami menatap lelaki dari bawah hingga berhenti saat mata kami bertatapan dengan wajah tampan yang menurut ku familiar.
Husein menatap kami dengan setelan jas senada dengan celana bahan yang dia kenakan, dia tampak tampan.
"Husein?!" gumam ku pelan terkesima.
Ternyata bukan hanya aku yang takjub dengan pahatan sempurna yang Allah ciptakan didepan mata ku, hampir semua orang yang disekitar meja kami berdecak kagum dengan ketampanan Husein.
__ADS_1
"Cik, kau ketahuan lagi makan pedas sayang" Husein mendekati piring dihadapan ku dan membuang sambal yang menggunung cantik diatas nasi kuning hangat.
"Husein!?" Jawab ku sebal, aku sudah diam - diam mengambil sambal itu saat Mbak Yeni lengah dan sekarang sambal itu sudah menghilang didepan mata ku, menyedihkan.