
"Sudah selesai" ucap ku pada sang pengantin.
Gaun berwarna nude dengan taburan kristal dibagian dada dan pinggang membuat sang pengantin benar - benar seperti ratu malam ini.
"Aku tidak menyangka bisa secantik ini, ini semua berkat sentuhan ajaib seorang MUA ternama seperti mu" ucapnya memuji menatap wajah ku kagum
"Terima kasih, Nona terlalu melebih - lebihkan" ucap ku mengangguk pelan.
"Ayah ku seorang penjabat kenamaan, aku akan dengan senang hati mempromosikan jasa WO mu" ucapannya serasa angin segar ditelinga ku.
Pencapaian tertinggi ku adalah dirinya yang seorang anak penjabat dikota ini, tentu akan banyak tamu penting dan kolega beliau yang hadir, mendapat tawaran seperti ini melebihi bahagianya mendapat job sebagai MUA untuknya.
"Terima kasih banyak Nona" ucap ku tersenyum sempurna memperlihatkan raut bahagia atas ucapannya, aku akan pastikan pernikahan ini akan menjadi momentum sempurna dalam ingatannya.
Tari terpogoh - pogoh menghampiri ku dengan nafas yang memburu.
"Mbak ada masalah" ujarnya pelan berbisik ditelinga ku.
"Nona saya permisi, saya harus mengecek ulang dekorasi dan catering" ucap ku meminta ijin pamit meninggalkan sang pengantin
"Baik, silahkan" ucapnya memaklumi
Aku keluar menarik pergelangan tangan Tari keluar, mencari tempat yang cukup sepi untuk menghidari ketegangan kalau - kalau masalah yang disampaikan Tari bisa membuat kekacauan.
"Ada apa?" tanya ku tegang.
"Dian mengalami kecelakaan, dia tadi sore meminta ijin untuk pulang dan dalam perjalanan kembali dia mengalami kecelakaan motor ojol yang ditumpanginya menyerempet mobil dan menabrak bahu jalan" ucap Tari raut cemas tersirat jelas diwajah cantiknya.
Dian adalah singer atau penyanyi, kami biasa menyewa band yang dia miliki setiap customer meminta band sebagai penghibur para tamu.
"Apa sangat parah? Bagaimana keadaannya?" Tanya ku penasaran, kami sudah lama menjalin kerjasama seperti ini hingga bisa dibilang kami cukup dekat.
"Dia sudah berada dirumah sakit, menurut dokter kaki kanannya patah meski tidak terlalu parah, dia butuh waktu berbulan - bulan untuk menyembuhkannya " ucap Tari saat mengetahui keadaannya lewat pesan singkat yang Dian kirim setelah mendapatkan penanganan Dokter dirumah sakit.
"Baiklah usai acara ini selesai kita langsung menjenguknya" ucap ku sedikit lebih tenang setelah mengetahui bahwa Dian sudah mendapatkan penanganan sang Dokter
"Untuk penggantinya siapa? kita tidak mungkin langsung mendapat penyanyi pengganti" ujar Tari dia masih cemas.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir Indri bisa menggantikannya?" Mbak Yeni yang baru saja datang langsung menjab kekhawatiran Tari
"Mbak Indri?" Tanya Tari terkejut, pasalnya dia selama mengenal ku dia belum pernah sama sekali mendengar ku bernyanyi.
"Sudah nanti saja terkejutnya, sekarang kita bereskan dulu kekacauan ini" ujar ku setelah melihat keterkejutan Tari.
Aku mendekati anak - anak band dan menceritakan situasinya, mereka cukup bisa dikoordinir dengan baik karena sering berkomunikasi dengan ku.
Aku tidak mungkin bisa tetap diatas panggung selama acara berlangsung, aku meminta MC sang penguasa acara untuk mengajak para tamu berpartisipasi memeriahkan acara, dengan menyumbang suara emas mereka.
Banyak saudara, kerabat serta teman sang mempelai antusias menerima ajakan sang MC, suasana menjadi meriah dengan canda tawa, saat orang yang mereka kenal bernyanyi dengan suara khasnya dan ada pula yang lupa lirik.
Tepuk tangan bergemuruh kami berikan, sebagai bentuk apresiasi kepada para tamu yang berkenan meramaikan acara ini.
Tak terasa malam mulai larut, tidak ada lagi yang mengantri mau menyumbangkan suaranya, hingga semua anak - anak band menatap padaku.
Baiklah aku akan melakukannya. gumam ku pelan.
"Selamat malam para tamu yang baru saja hadir, malam ini ijinkan saya untuk ikut menyuarakan suara dimalam berbahagia ini"
...Indah semua cerita...
...Dalam satu cinta...
...Kita yang pernah bermimpi...
...Jalani semua...
...Hanya ada kita...
...Namun ternyata pada akhirnya...
...Tak mungkin bisa ku paksa...
...Restunya tak berpihak pada kita...
...Mungkinkah aku meminta...
__ADS_1
...Kisah kita selamanya...
...Tak terlintas dalam benakku...
...Bila hariku tanpamu...
...Segala cara tlah ku coba...
...Pertahankan cinta kita...
...Selalu ku titipkan dalam doaku...
...Tapi ku tak mampu melawan restu....
Tak terasa air mata mengalir saat aku menyanyikan lagu ini, yah lagu ini mewakili semua pertanyaan semua orang mengapa aku tak bisa bersamanya.
Restu keluargnya memberatkan aku untuk memilih hidup bersama, restunya tak berpihak pada kita, aku tau Husein pasti akan memilihku saat tau semua ini, tapi apakah aku akan seegois itu merebut Husein dari mereka, mereka yang sudah merawat Husein dan menyayanginya semenjak dia belum lahir, aku tak mau karena rasa ini aku menghacurkan banyak hati.
"Wah... beri tepuk tangan yang meriah, suara emas memang keluar diakhir acara, meski lagu yang dibawakan cukup menyayat hati nyatanya tetap membuat semua yang mendengarnya hayut dalam suara merdu penyanyinya" ujar MC menyanjung.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Sepertinya ini sangat dalam, apa ini ungkapan dari hati karena tidak sengaja saya lihat Mbak meneteskan air mata?" ujar MC menggoda
"Ah.. Mungkin karena terlalu terbawa suasana saja" ucap ku terkekeh pelan.
"Oh seperti itu rupanya" jawab MC yang ikut terkekeh mengimbangi ku.
"Apa karena Abi?!" Bentak seorang pria tepat didepan panggung.
"Abi?!" ucap MC mengulangi perkataan Husein.
Aku melirik MC memberi kode, agar dia tidak membahas perihal ucapan Husein dan melanjutkan acara kembali.
"Ah.. Baiklah para tamu acara kami lanjutkan kembali" Ucap MC mengalihkan perhatian tamu yang terkejut dengan kedatangan Husein.
Aku mendekatinya dan tatapan mata kami pun bertemu.
__ADS_1
"Jelaskan?!" ucap Husein dengan mata memerah