
"Apa yang ingin kau dengar?" tanya ku ketakutan, sampai - sampai aku kesusahan menelan saliva, karena tatapan mata Husein yang nyalang seakan menghunus kedua mata ku.
"Apa ini semua karena Abi?" Tanya nya geram mengepalkan kedua tanggannya.
Apakah ini saatnya Husein mengetahui semuanya. pikir ku dalam hati.
"Husein, tadi itu hanya sebuah lagu" jawab ku terkekeh pelan, ingin sekali aku raih kedua tangan itu untuk menenangkannya.
"Diacara pernikahan kau menyanyikan lagu sedih dan menangis karenanya? Ayolah Indri aku bukan orang bodoh yang bisa terus kau bohongi!" Husein berteriak cukup kencang dihadapan ku.
Inilah hal yang paling aku takutkan, Husein akan marah jika sesuatu yang tidak benar terjadi menyangkut orang - orang yang dicintainya.
"Ka-kau membentak ku?" Ucap ku terkejut ketakutan.
Kedua mataku sudah berkaca - kaca, detak jantung berpacu lebih cepat, seluruh badan serasa bergetar karena rasa takut yang berlebihan.
"Jelaskan semuanya sebelum kesabaran ku habis" Ucapnya merendahkan suara, Husein menghembuskan nafas secara kasar seolah melepaskan kemarahannya.
"Husein" ucap ku lirih menatap dirinya.
"Jelaskan!" bentaknya lagi.
Aku terjatuh disebuah kursi taman karena terkejut mendapat bentakannya, lebih baik aku duduk sebelum aku terjatuh karena perlakuan Husein.
__ADS_1
"Ya, Abi dan Büyükbaba meminta ku untuk meninggalkanmu, mungkin mereka pikir aku akan menjadi penghalang kau pergi ke Kairo saat itu, kau ingat dulu aku selalu membujuk mu agar kau menerima tawaran Umi dan Abi pergi kuliah diKairo, saat itu aku yakin kau akan menuruti keinginanku hingga hubungan kita akan baik - baik saja, tapi kau tetap menolak dengan alasan ingin selalu bersama ku, sejujurnya kepergianmulah yang akan membuat kita selalu bersama" Jawab ku panjang lebar.
Genangan air yang tampak dipelupuk mata kini luruh sudah, mereka mengalir begitu saja, menganak sungai tanpa bisa aku hentikan.
"Apa mereka mengancammu?" ucapnya pelan sedih melihat ku menangis.
"Abi dia tidak sejahat itu.." ujar ku tersedu - sedu dengan suara parau tak jelas.
"Jadi Büyükbaba yang mengancam mu?" Husein memotong ucapan ku yang membuat aku diam sejenak.
"Husein, kau menyayangi ku bukan? terlepas siapa yang membuat kita berpisah, itu semua sudah menjadi takdir hidup kita, kau adalah keturunan mereka satu - satunya, mereka pasti menginginkan yang terbaik untukmu" Aku memberanikan diri meraih kedua tangan Husein dan menggenggamnya, aku tidak ingin keluarganya bertengkar hanya karena masalah perasaan kami.
"Dengan membuatku setengah gila dinegara orang, dan mendapatkan penanganan serius dari psikolog hingga harus mendekam selama setengah tahun dalam rumah sakit jiwa?!" Ucap Husein tersulut emosi kedua matanya memerah tulang rahangnya mengeras.
Apa yang sudah dia alami, apa dia mengalami penderitaan seperti itu? apa itu semua karena ku? pikir ku dalam hati.
"Husein kau mengalami itu karena aku?" Tanya ku sakit mendengar semua ucapan Husein.
"Aku pergi.." Husein menepis kedua tangan ku yang ingin meraih tangannya.
Husein berlalu dengan aku yang masih menatapnya sendu.
"Husein kembali!" ucap ku setengah berteriak saat sosok yang ingin sekali ada disampingku pergi entah kemana.
__ADS_1
"Maafkan aku Husein, aku kira hanya aku yang tersiksa disini, aku lupa dengan cinta besar yang kau miliki, maafkan aku, kembalilah" aku terisak - isak, sakit ini terbuka kembali sakit melepas cinta yang ingin aku miliki.
"Husein....!" aku hanya bisa memanggil - manggil namanya lirih.
"Indri" sapa Mbak Yeni
"Mbak Indri" sama Tari hampir bersamaan
"Husein Mbak.. Husein" aku memeluk Mbak Yeni, sungguh hati ku hancur pengatahui kebenarannya.
"Biarkan dia pergi, dia perlu menenangkan hati dan pikirannya" Mbak Yeni mengelus - elus bahu ku memberi ketenangan.
Aku sangat merasa bersalah dengan apa yang gerjadi pada Husein, andai aku tidak mendengar kata - kata mereka.
"Aku sudah menyakitinya Mbak, aku jahat" isak tangis masih mengiringi ucapan ku.
"Mbak Indri" Tari memeluk ku dari belakang.
"Tari acara sudah hampir selesai, Mbak akan bawa Indri pulang, tolong urus semua yang ada disini"ucap Mbak Yeni memberi perintah.
"Baik Mbak, aku akan mengatur semuanya" ucap Tari menganggukan kepala.
Aku dirangkul Mbak Yeni, menangis membuat ku lemas hingga berjalan saja aku tak punya tenaga.
__ADS_1
Kami dijemput Mas Sapta suami Mbak Yeni, di sepanjang jalan aku terus saja menyesali apa yang sudah aku perbuat, keputusan sepihak yang aku pilih membuat Husein menderita.